“disini
panca inderaku dibuka seluas-luasnya
untuk menikmati yang tidak pernah aku nikmati
sebelumnya..”
Awal November 2013 ini tepatnya
tanggal 8, 9, 10 merupakan 3 hari yang menyenangkan sekaligus mengesankan
bagiku. Tadinya saat awal aku kembali ke kota asalku nyaris kehilangan gairah
berkesenian di kota ku sendiri, sementara saat aku berkuliah tinggal di kota
lain yaitu di jogja, hampir setiap hari aku disuguhkan dengan acara-acara seni
dan budaya, sialnya itulah yang membuat aku terlena, terbuai hingga akhirnya
kuliahku menjadi molor atau lama selesainya.
Tapi ternyata setelah aku
“berkenalan“ dengan Rumah Dunia gairah itu pelan-pelan kembali tumbuh. Setelah
beberapa bulan aktif berkunjung ke Rumah Dunia geliat aku untuk berkesenian
kembali meletup, ditambah di Rumah Dunia yang bergerak di dunia literasi
merangsang daya imajinasiku untuk dituangkan dalam tulisan sastra atau yang
lainnya.
Adalah Kelas Menulis Rumah Dunia
yang saat ini sudah sampai pada angkatan ke 22 itulah awalnya aku mulai
terdorong untuk menulis secara aktif. Sejujurnya aku akui bahwa kegiatan
menulisku minim bahkan bisa dibilang tidak ada selain untuk tugas-tugas kuliah
dan skripsi di masa lalu, namun saat aku mengikuti kegiatan kelas menulis di Rumah
Dunia yang rutin dilakukan setiap minggunya selama enam bulan, akhirnya
keinginan dan imajinasiku untuk menulis keluar dan aku syukuri saat ini sudah
aktif menulis meskipun belum seratus persen.
Sosok Gol A Gong mau tidak mau
adalah sosok yang sangat mempengaruhi dalam kegiatan tulis menulisku dan
teman-teman yang aktif di Rumah Dunia. Sebab disetiap pertemuan kelas menulis
atau disetiap kesempatan bertemu, selalu saja memberikan motivasi ataupun
rangsangan ide-ide untuk menulis baik secara langsung atau melalui media-media
social di internet. Beliau adalah orang yang sangat konsisten dibidangnya yaitu
literasi, tidak heran bila sudah banyak penghargaan yang diperolehnya buah dari
kerja keras dan konsistensinya tersebut.
Sekali lagi berkat kegigihan dan
konsistensinya Gol A Gong bersama teman-teman yang lain tak heran juga kini
Rumah Dunia berkembang, bertumbuh, dengan baik. Tiga belas tahun sudah Rumah
Dunia berdiri dan diusianya yang ke tiga belas ini pula Rumah Dunia mendapatkan
berkah yang luar biasa selain kini Rumah Dunia dapat mendirikan sebuah bangunan
yang diperuntukan untuk kegiatan seni budaya, juga untuk kegiatan apa saja yang
bermanfaat bagi semua. Bertepatan dengan itu pula Rumah Dunia mengadakan acara
bisa disebut sebuah hajatan yang cukup besar dengan mengambil tema budaya.
Hajatan itu diberi nama Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia digelar di awal
minggu bulan November ini yaitu tanggal 8, 9, dan 10. Tiga hari berturut-turut
dari pagi sampai malam kita sebagai peserta disuguhkan dengan bermacam-macam
acara. Mulai dari diskusi sastra, workshop menulis, diskusi tentang perfilman,
musik hingga jalan-jalan mendatangi situs-situs cagar budaya yang ada di
Banten.
Tentunya bukan kali ini saja
Rumah Dunia mengadakan acara-acara yang bertema dengan sastra atau yang
lainnya. Hanya saja acara kali ini terasa lebih istimewa sebab kali ini
acaranya di gedung ‘sendiri’ jadi tidak perlu khawatir kepanasan atau
kehujanan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.Beberapa diskusi banyak digelar
dalam rangkaian acara Kampung Budaya Nusantara kali ini, kadang sedikit
membosankan tapi aku yakin hal-hal yang saat ini mungkin membosankan buatku
suatu saat nanti akan mengendap dalam otakku dan menjadi hal yang berguna
bagi proses kreatifku.
1.
Hari pertama
Sesuai jadwal yang telah
ditentukan acara di hari pertama dimulai pukul 09:00 adalah rentetan beberapa
Ceremonial. Mulai dari sambutan ketua yayasan Pena Dunia Rumah Dunia sampai
perwakilan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Perlu diketahui juga
bahwa acara kali ini mendapat dana dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Pusat. Yang istimewa buatku adalah pada saat pembukaan ini aku diberi
kesempatan oleh mas Gol A Gong memberikan souvenir berupa karya lukisan
wajahnya sebagai bagian dari rangkaian ceremonial pembukaan tersebut. Aku
didaulat untuk naik ke panggung memberikan lukisan tersebut. Sungguh satu kehormatan
yang luar biasa buatku.
| ceremoni penyerahan lukisan kepada Gol A Gong |
Setelah rangkaian sambutan
selesai acara dilanjutkan dengan pementasan teater anak dari Rumah Dunia yang
menampilkan cerita legenda Dampu Alam. Berkisah tentang seorang anak yang
durhaka kepada ibunya hingga dikutuk menjadi sebuah gunung. Sekilas cerita
legenda ini mirip dengan cerita legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat. Dari
acara ini aku jadi tahu bahwa ternyata di Banten ada pula cerita legenda
semacam ini. Kini timbul pertanyaan dikepalaku kenapa cerita legenda ini tidak
banyak yang tahu bahkan aku sendiri malah lebih familiar dengan cerita legenda
Malin Kundang ketimbang Dampu Awang.
Tak lama setelah itu kami peserta
Kampung Budaya dihibur oleh iringan musik rebana. Grup qasidah beranggotakan
delapan personil segera saja menghentakan musiknya menjadi tontonan segar
bagiku sebab sudah bosan sekali dengan tontonan televisi dengan menampilkan
boyband-boyband yang banyak sekali jumlahnya tiba-tiba bermunculan tapi jenis
musiknya itu-itu saja. Maksud itu-itu saja adalah boyband yang yang satu dengan
yang lain sama sekali tidak ada bedanya, sampai aku tidak dapat membedakan
nama-namanya. Sekali lagi di acara ini aku dibukakan semua panca indra ku.
Melihat, mendengar, merasakan, mencium hal-hal yang lain yang ternyata ada di
dekatku tak perlu jauh-jauh mencarinya.
Kemudian dari Majelis Puisi pun
ikut meramaikan suasana pembukaan hari pertama, lima orang perempuan berjilbab
dengan pakaian berwarna merah hati dan hitam tampil ke panggung membacakan
beberapa puisi secara berjamaah. Satu per satu dari mereka bergantian unjuk
kebolehan. Oh..iya selain Kelas Menulis di Rumah Dunia ada pula sebuah kegiatan
sastra lebih condong ke puisi yaitu Majelis Puisi asuhan mas Toto St. Radik.
Sore hari setelah magrib kembali
kami dihibur dengan acara-acara menarik lainnya. Bedanya kali ini acara malam
kami disuguhi dengan parade seni, antara lain qasidah, lagu-lagu tradisional,
tarian, dan dolanan anak.
2. Hari kedua
Dihari kedua ini tidak banyak
yang akan aku tulis hanya sedikit saja. Di hari kedua ini ada satu dua diskusi
yang menarik buatku hingga saat ini suara pembicara itu masih terngiang-ngiang di
telinga dan mengendap di kepalaku. Diskusi bertema tradisi di hari kedua begitu
menarik dan sangat memberikan informasi serta ilmu yang tidak akan aku, kamu,
kalian dapati dalam pendidikan formal. Maka aku patut bersyukur dapat mengikuti
kegiatan diskusi dihari kedua ini.
Ada beberapa kalimat yang saya
rekam dan garis bawahi saat diskusi bertema tradisi ini. Adalah kalimat yang
diucapkan bapak Prof. DR. Yus Rusyana bahwa sesungguhnya bangsa kita terdahulu
sudah tinggi pengetahuannya yang diterapkan dalam tradisi sehari-hari. Dalam
hal kecil saja, contohnya menank nasi orang-orang tua kita terdahalu sudah tahu
bagaimana prosesnya. Mulai dari meliwet, terus menanak nasi, hingga siap
disajikan sudah mengerti ilmunya. Beliau menyarankan bahwa orang kreatif harus
tetap melihat tradisi. Jadi meskipun menciptakan hal baru berinovasi tetap tradisi itu dimasukan kedalamnya.
Begitu pula didunia seni atau sastra (literasi) bertumpulah dari tradisi sebab
itu adalah keistimewaan bangsa kita.
Dikaitkan dengan Banten Prof. Yus
menyatakan bahwa orang pertama kali mendapat gelar Doktor di Indonesia adalah
orang Banten yaitu tahun 1913. Itu tidak lain adalah Hussein Jayadiningrat.
Beliau saat mendapat gelar Doktor di Universitas Leiden Belanda mempertahankan
disertasinya dengan mengangkat tradisi Banten yang sudah dibukukan dengan judul
Critische Beschouwing vande Sadjarah Banten. Mendengar itu seketika merasa
bangga sebagai putra daerah Banten, ternyata bahwa Banten dahulu merupakan
daerah yang sangat istimewa bahkan di bidang ilmu pengetahuan di Banten lah terlahir
Doktor pertama di Indonesia…bayangkan!!tapi seketika aku juga merasa miris bila
membandingkan Banten saat ini. Tidak bisakah Banten maju semaju saat itu atau
kita hanya bisa membanggakan sejarah saja? Hormat setinggi-tingginya untuk
bapak Hussein Jayadiningrat.
Dihari kedua ini kembali dibuka
panca indraku dalam acara Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia ini.
3. Hari Ketiga
Hari ketiga adalah hari yang
paling ditunggu-tunggu bagi aku atau sebagian peserta lainnya yang datang dari
luar kota. Perlu diketahui ada juga peserta yang datang dari luar Banten antara
lain Bandung, Jakarta, bahkan ada yang datang dari Magelang. Di hari minggu
yang cukup sejuk itu agendanya adalah perjalanan kebudayaan. Kami para peserta
diajak menjelalajah ke situs-situs cagar budaya yaitu Kraton Kaibon, Vihara
Avalokitesvara, dan Benteng Spelwijk. Selain itu kita pun disuguhi dengan
diskusi tentang sejarah Banten masa lampau dengan pembicara seorang pakar
budaya dan sejarah Banten yaitu Halim HD.
Sebelum pak Halim datang menyusul
kami di kraton Kaibon Koelit Ketjil yang saat itu ditunjuk sebagai tur guide
Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia. Menceritakan sedikit tentang kraton
Kaibon. Bahwa Kraton Kaibon ini dibangun pada masa kesultanan Banten 1526-1813.
Bila dilihat dari namanya Kaibon berarti Keibuan. Jadi maksud didirikannya
kraton Kaibon ini adalah diperuntukan untuk Ibunda Sultan Syaifudin yaitu Ratu
Aisyah, yang pada saat itu Sultan Syaifudin masih berumur 5 tahun, masih sangat
kecil untuk dapat memegang tampuk pemerintahan. Di kraton kaibon ini sudah
memiliki sistem pendingin ruangan alami kalau zaman sekarang kita menyebutnya
AC. Di kraton kaibon ini sistem pendingin ruangan ini teknis kerjanya yaitu
dengan mengalirkan air dibagian bawah ruangan yang sengaja dibuat lebih rendah
untuk tempat mengalirnya air. Air yang sifatnya cenderung dingin itu
dimanfaatkan untuk mendinginkan ruangan. Sungguh sebuah pemikiran yang maju di
masa itu.
Pak Halim banyak bercerita banyak
tentang kejayaan Banten masa silam, tetapi tidak akan aku ceritakan banyak,
hanya singkat saja. Pada masa Sultan Hasanudin. Dikatakannya bahwa Banten
adalah pusat perdagangan internasional yang ramai didatangi dari berbagai
Negara. Belanda, Perancis, Inggris, Portugis, bahkan dari benua Asia ada Cina
dan Arab. Mengapa Banten kala itu ramai dan menjadi pusat perdagangan
internasional?beliau menjelaskan selain daerah Banten merupakan tempat strategis jalur transportasi lalu lintas
kapal, Banten juga merupakan daerah yang makmur. Kaya raya sumber daya alamnya,
sistem pemerintahan pada jaman itu sangat bagus, arsitektur kraton Banten
merupakan hasil karya masyarakat Banten sendiri bukan oleh bangsa Belanda. Jadi
dapat dibayangkan betapa Banten pada masa itu sudah merupakan daerah maju dan
memiliki kebudayaan yang sangat baik. Baik ilmu pengetahuan dan masyarakatnya.
“lagi-lagi aku dibuat bangga
mendengar cerita kejayaan Banten pada masa lalu..sungguh luar biasa.!!”
Tapi ada hal penting yang
diingatkan oleh Pak Halim HD bahwa masyarakat Banten masayarakat yang cenderung
kepada budaya lisan. Jadi tidak heran saat ini sedikit sekali tulisan-tulisan
tentang sejarah Banten dapat ditemui, karena masyarakatnya tidak suka menulis. Dari
hal itulah Pak Halim memberikan sedikit kalimat motivasi sebagai penyemangat
kami peserta Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia. “menulislah agar kamu tidak
hilang ingatan”. Sebuah kalimat singkat yang untukku pribadi bagaikan lecutan
cambuk untuk terus menuliskan segala hal.
Tidak banyak yang aku tulis
disini untuk acara Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia. Intinya bahwa aku
sangat terkesan dengan acara seperti ini. Semoga akan terus berlanjut selain
sebagai ajang silaturahmi bertemu dengan teman-teman lama dan teman-teman baru,
acara ini sekaligus sangat bermanfaat sebagai media atau bahkan menjadi sebuah
aksi untuk tetap mempertahankan, melestarikan kebudayaan masa lalu Banten yang
sangat kaya dan beragam jenisnya. Sekian dan terima kasih. (Bundwesser)