Rabu, 04 Desember 2013

The amazing Rendy



“Tuhan menyelipkan kelebihan luar biasa dikekuranganmu”

“gitarmu bagus…mainnya juga keren..” seraya duduk disampingnya di kursi kayu panjang. Begitu awal aku berkenalan dan selanjutnya berbincang-bincang banyak hal. Sore itu cuaca di kos-kosanku tampak cerah tapi sejuk sebab angin semilir berhembus menyegarkan.

“ah..biasa aja bang…”jawab Rendy sambil tersenyum tersipu-sipu. 

Ya namanya Rendy, tanpa harus bertanya sudah tampak jelas olehku bahwa Rendy tak dapat melihat. Cacat dimatanya bawaan sejak dia dilahirkan. Begitu katanya setelah merasa cukup akrab dan nyaman ngobrol denganku.

“oh iya abang namanya siapa?”Tanyanya

“aku..Adit” jawabku singkat

Aku yang baru saja pindah di kos yang beralamat di JalanSugeng Jeroni Jogja, sudah seharusnya lebih banyak bertanya dan menyapa agar dapat dikenal dan mengenal teman-teman kos yang lain. Rendy adalah seorang pelajar saat itu duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Atas. Lokasi sekolahnya tidak jauh dari tempat kosnya. Hanya sepeuluh menit untuk sampai di sekolahnya denga berjalan kaki. Dia sudah dua tahun tinggal di kos itu.

“kamu suka musik ya Ren..?”tanyaku


“iya..bang” jawabnya.

‘oh..pantes maen gitarnya hebat…belajar dimana ren?" lanjutku

“bang adit terlalu memuji neh..biasa aja kali bang..aku cuma belajar sendiri ga kursus atau sekolah music”jawabnya lagi masih sambil memainkan gitarnya.

Anak ini jago main gitarnya dalam hatiku. Aku perhatikan baik-baik permainan gitarnya, sempurna! Memang selain aku suka menggambar musik pun aku suka. Sedikit-sedikit bisalah main gitar hanya saja setiap aku main gitar lagu yang kunyanyikan pasti lagu-lagu Iwan Fals. Sambil iseng aku request lagu Iwan Fals.

“Ren bisa lagu Iwan Fals ga?”
  
“Lagu yang mana bang?” 

“coba lagu Bento..ren..!”pintaku

Dengan lincah jarinya bermain di tiap senar yang dia petik..wow.. permainannya persis sekali dengan lagu yang sering kudengar dikaset. Aku malah asik memperhatikan rendy bermain gitar. 

“Boleh juga aku nyontek neh main gitarnya..”dalam hati.

“nyanyi dong bang..!”pintanya sambil terus memainkan gitarnya konsentrasinya sama sekali tidak terganggu. Kemudian aku bernyanyi…

“namaku bento..rumah real estate…mobilku banyak harta berlimpah..”

Aku antusias sekali bernyanyi diiringi permainan gitar Rendy. Permainan gitarnya itu seperti hidup dan memiliki ruh. Hari-hari selanjutnya aku, Rendy dan teman-teman kosku semakin akrab. Selain Rendy ada juga Dede, Yudit, dan Opik. Semuanya suka musik dan masing-masing bisa memainkan alat musik. Kami sepakat untuk rutin berlatih musik di salah satu studio dekat kos-kosan kami. Hingga akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah grup band. Kami beri nama Tiang band. Filosofisnya saat itu adalah karena selain tempat nongkrong kami di depan kos itu ada sebuah tiang,  juga tiang ini salah satu fungsinya adalah sebagai penyangga. Dari situ kami berharap menjadi sebuah tiang yang kokoh menyangga kehidupan kami. Mulai saat itu mungkin di pertengahan bulan Desember tahun 2002 resmilah Tiang Band dibentuk dengan formasi, aku bermain  gitar akustik, harmonika sambil lead vokal, lalu Rendy lead gitar, Yudit penabuh drum, opik rhythm gitar, terakhir Dede bermain bass. 

Setelah sering berlatih dan kepercayaan diri kami dalam bermusik tumbuh, kami berniat untuk naik pentas. Kebetulan saat itu bulan Desember, dimana di akhir tahun biasanya di jogja banyak sekali acara-acara pentas musik. Adalah acara malam tahun baru kami berkesempatan naik pentas di Kota Gede yang terkenal dengan kerajinan peraknya. Sebuah event yang cukup meriah diselenggarakan dalam rangkaian beberapa acara menyambut tahun baru. Ada pertunjukan kesenian tradisional juga di tempat lainnya masih di lingkungan Kota Gede. Kami sangat bergembira saat itu setelah dinyatakan lolos auidisi dan menjadi salah satu band pengisi acara malam tahun baru saat itu. Sampai akhirnya  acara yang ditunggu-tunggu itu tiba dan kami berhasil dengan lancar membawakan tiga buah lagu iwan fals dengan sempurna.

Perlu aku beritahukan bahwa Rendylah yang mempunyai semangat bermusik tinggi selain juga memang bakat dan skil bermain gitar dia yang mumpuni. Feeling dan intuisi bermusiknya luar biasa bahkan kami yang diberi kesempurnaan fisik  kadang menyerah saat mendapati grip atau nada-nada yang menurut kami sangat rumi untuk digarap. Tapi buat Rendy serumit apapun nada-nada yang digarap jadi seperti biasa saja. Disitulah kebesaran dan keadilan Tuhan benar-benar nyata, meskipun indera penglihatan tidak berfungsi tapi indera pendengarannya sangat tajam. Pernah sekali aku ngetes Rendy dengan tanpa bersuara mendekati Rendy. Tapi begitu dia langsung memanggil namaku aku jadi kaget. Dari mana dia tau bahwa akulah yang tadi mendekatinya tanpa bersuara. Begitulah insting dan kelebihan dari seorang Rendy yang cacat matanya. Ternyata dia tajam mendengar bunyi atau irama langkah kakiku, merasakan getaran dari keberadaanku yang mungkin sejak saat bertemu dan berkenalan dia sudah rekam dan hapalkan dalam otaknya. Tidak Cuma aku dia pun hapal juga dengan irama langkah kaki teman-teman yang lain. Luar biasa. 

Suatu hari di Minggu pagi teman-teman yang mayoritas adalah mahasiswa dan pelajar, sedang menikmati hari liburnya. Ada yang duduk-duduk santai sambil ngopi, ada yang ngobrol ngalor-ngidul, ada yang sibuk mencuci pakaian, maklum anak kos. Sementara Rendy tentunya sedang bermain gitar. Kudekati dia, belum lagi aku bicara justru dia yang menyapaku.

“di kosan aja bang hari Minggu…gak jalan-jalan?”tanyanya

“wew…tau aja Ren aku yang datang”jawabku sudah tidak heran dan kaget lagi

“ada apa bang..?” bertanya lagi dia

“gitarmu itu beli dimana..kok kayanya ga pake merk ya?”

“ini gitar bikin sendiri bang..pesen di Solo” jawabnya

Aku yang pernah mencoba sesekali main gitarnya tertarik untuk juga membuat sendiri. Kualitasnya bagus. Dari suaranya yang nyaring, saat ku pegang juga rasanya mantab tidak terlalu berat tidak juga ringan, serta yang paling penting saat senarnya dipetik itu empuk tidak membuat jari sakit.

“ada apa bang..mau pesen ya?” dia menawarkan aku untuk memesan gitar

“emang berapaan harganya ren?”tanyaku penasaran juga

“murah kok bang..yang 300 ribu udah ada spulnya..bisa langsung dimainkan pake sound..”jelasnya
“ terus gimana pesennya Ren..?” mencari tahu

“nanti saya anter abang ke Solo, sekalian jalan-jalan bang..belum pernah kan ke Solo?” menawarkan aku untuk bermain ke Solo.

“hah…serius kamu Ren?”tanyaku kaget

“serius bang…”

“emang kamu hapal jalan ke Solo nya…kamu kan ga bisa lihat gimana bisa tahu jalan ke Solo?” jawabku hampir saja meremehkan dia.

“hapal bang ke Solo doang mah gampang..”katanya meyakinkanku.

“wah..seru kayanya tuh Ren..oke minggu depan anter abang ke Solo ya..”jawabku antusias.
“siap bang..”timpalnya.

Gila pikirku aku ke Solo diantar oleh Rendy yang notabene tidak dapat melihat, bahkan aku saja yang sudah sering keliling Jogja kadang-kadang lupa jalan padahal aku sudah pernah melewati jalan itu. Kalau rencana ini benar-benar terlaksana sungguh suatu pengalaman yang luar biasa dan mungkin satu-satunya di dunia. Pastinya aku sangat bersyukur sekali mendapatkan pengalaman itu. Memang Rendy pernah bersekolah di Solo saat dia masih duduk di bangku SMP tapi tetap saja hal ini tidak dapat masuk akalku. Masih tidak percaya.

Kemudian hari yang aku tunggu untuk pergi ke Solo akhirnya datang juga. Minggu pagi aku dan Rendy sudah siap-siap berangkat menuju Solo. Benar lho ternyata Rendy hapal sekali jalan-jalannya, bus apa, juga ongkosnya berapa. Aku yang tadi sedikit meremehkan berubah menjadi kagum. Aku persingkat saja, mulai dari aku diantar pergi menuju Solo menuju tempat produksi gitar hingga kembali pulang ke Jogja kondisi selamat sejahtera ga pakai acara nyasar-nyasar segala loh. Sepanjang perjalanan aku memuji-muji Rendy terus.

“hebat kamu Rendy hapal banget jalannya…aku kalau disuruh balik lagi sendiri pasti nyasar neh Ren..”ucapku sambil menepuk pundaknya. Rendy hanya tersenyum dan aku masih terkagum-kagum atas pengalaman ini.

Dibalik ketidak sempurnaan fisik Rendy ternyata Tuhan memberikan kelebihan yang luar biasa dibanding aku yang merasa memiliki fisik dan indera yang sempurna. Terima kasih Rendy, sekarang aku kehilangan kontak semenjak kuliah selesai dan kembali ke Banten. Semoga suatu saat dapat berjumpa dengan Rendy kembali. (sekian)

Selasa, 03 Desember 2013

"Rindu mbok.."


"..empat bulan sudah aku memendam rindu bertemu denganmu mbok..semoga hari ini aku dapat menjumpaimu untuk penawar rinduku.."

Tanggal tujuh belas November yang lalu aku dapat informasi bahwa mbok, (Ine Febriyanti biasa dipanggil oleh teman-teman Rumah Ilmu rintisannya) akan kembali naik pentas bermain teater di Jakarta tepatnya di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) Pasar Baru. Saat itu hari Minggu adalah pertemuan rutin bulanan bagi komunitas Rumah Ilmu berkegiatan, menjadi suatu kebetulan yang membahagiakanku juga dapat bergabung berkegiatan bersama di Rumah Ilmu. Bahwa tanggal dua puluh Sembilan November pukul 20:00 pertunjukan tersebut akan digelar begitu informasi jelasnya.

Sebelumnya aku juga mendengar bulan lalu Ine Febriyanti  juga pentas di Yogyakarta, hanya saat itu tidak berkesempatan hadir untuk menyaksikan pertunjukannya. Perlu diketahui aku mengidolakan Ine Febriyanti sejak lama, sejak ia masih aktif di televisi dan film indinya “Beth”. Namun seiring perjalanan waktu, pengalaman, idealisme dan karakternya sebagai seniman hebat, Ine Febriyanti kini memfokuskan diri di dunia teater dan sutradara film. Khususnya penyutradaraan film, filmnya “Tuhan Pada Jam Sepuluh Malam” yang diproduksi dan dipasarkan secara indipenden kini sedang banyak permintaan untuk diputar dibeberapa kota. Umumnya yang meminta filmnya diputar adalah dari teman-teman kampus dari beberapa kota. Secara alami film itu kian banyak diketahui teman-teman pencinta film. Otomatis jadwalnya semakin padat. Pembawaan yang humble disertai wajahnya yang cantik menjadi nilai tambah untuk aku semakin mengidolakannya.

Kembali kepada akan dipentaskannya sebuah pertunjukan teater di GKJ (Gedung Kesenian Jakarta), bang Jefri lah yang menginformasikan bahwa tanggal 29 November 2013 itu akan diadakan sebuah pertunjukan teater  dimana dia ikut terlibat di dalamnya. Bang Jefri Usman namanya adalah penggiat seni tari kontemporer berbasic tradisi. Pengalamannya sudah banyak sekali. Dia pernah bercerita padaku bahwa dia pernah pentas di negri Sakura Jepang.

Pertunjukan ini adalah menjadi bagian dari rangkaian acara yang diberi judul “Jakarta Berkolaborasi”. Tentu saja aku sangat antusias untuk segera menyaksikannya. Apalagi pemainnya adalah Ine Febriyanti yang notabene adalah idolaku. Pertunjukan teater ini diberi judul “Titian Asa” disutradarai oleh Dindon WS. Sebuah pertunjukan seni gabungan gerak, tarian, dan monolog berbasic tradisi.

Demi terlaksananya niatku untuk dapat menyaksikan pertunjukan tersebut, dua hari sebelumnya aku sudah persiapkan rencananya. Yaitu karena pertama aku sekarang bekerja dan berdomisili di Banten bukan di Jakarta, jadi aku harus mempersiapkan waktu dan segala hal yang berkaitan dengan akomodasi dengan baik agar tidak gagal. Kedua karena hari pertunjukan itu adalah hari kerja dan sudah kuperhitungkan lamanya waktu perjalanan dari Banten menuju Jakarta itu memakan waktu sekitar 2 jam itu belum termasuk dengan kemungkinan macet diperjalanan.

Dari pertimbangan-pertimbangan itu aku putuskan untuk berangkat siang hari pukul 13:00 setelah solat Jumat. Tentunya aku harus merayu staf HRD kantor untuk dapat ijin meninggalkan kantor. Akhirnya dengan sedikit alasan yang cukup dramatis aku diijinkan meninggalkan kantor menuju Jakarta.

Aku merasa lega dapat lepas dari birokrasi kantor, itu artinya rencanaku berhasil dan kerinduan untuk menyaksikan mbok beraksi di atas pentas akan terobati malam ini. Cukup lama aku tidak menyaksikan mba Ine Febriyanti setelah pertunjukan terakhir monolog Warm bulan Juni lalu. Dorongan rindu yang begitu besar itulah menjadi semangatku untuk datang dan menyaksikan pertunjukan nanti malam.

Pukul 13:30 aku sudah di dalam bus menuju Jakarta. Hari ini sepertinya alam dan Tuhan mendukungku penuh, aku dimudahkan segera dapat bus yang menuju Jakarta. Tak perlu menunggu lama bis dengan mudah aku hentikan dan bersedia mengangkutku, tidak seperti biasa aku pergi ke Jakarta, 15 menit itu sudah pasti aku harus menunggu bus yang bersedia membawaku. Tapi hari ini rupanya semua kebiasaan itu tidak aku jumpai sama sekali segalanya dilancarkan-Nya.

Sebuah bus Arimbi membawaku menuju Jakarta tepatnya aku menaiki bus yang menuju Kalideres, karena setahuku tidak ada bus yang langsung menuju Pasar Baru dari Serang, jadi memang harus transit terlebih dahulu di terminal dalam kota kemudian baru dilanjutkan dengan angkutan dalam kota. Kali ini pilihanku tidak berubah seperti hari-hari biasanya bila aku ke Jakarta. Angkutan dalam kota yang aku rasa nyaman adalah menggunakan Trans Jakarta atau lebih familiar dengan sebutan busway. Lagi-lagi hari ini aku sedang diuntungkan dengan keadaan. Seperti yang aku tahu biasanya halte trans Jakarta itu penuh dengan penumpang dan harus mengantri, serta lama menunggu busnya datang. Kali ini halte busway di terminal kalideres kosong dan busnya sudah standbye di depan pintu halte. Dengan tenang dan tanpa perlu berdesakan aku masuk ke dalam bus dan bebas memilih kursi mana yang mau aku duduki karena  masih banyak kursi yang kosong.

Trans Jakarta melaju perlahan meninggalkan terminal Kalideres menuju Harmoni, sebab tujuan ke Pasar Baru itu harus transit terlebih dahulu di halte harmoni lalu pindah bus yang menuju PGC. Di dalam perjalanan menuju harmoni aku terheran-heran dengan kondisi jalanan Jakarta. 15:30 saat itu begitu lengang tidak seperti biasanya, di hari Jumat seperti ini jalanan di penjuru Jakarta biasanya sudah macet tidak karuan. Sebuah keuntungan buatku yang saat itu memang perlu sesegera mungkin sampai di lokasi pertunjukan, sebab aku tak mau mengulur-ulur waktu dengan kondisi jalanan Jakarta yang serba macet dan semrawut dimana-mana.

Memang sebelum aku menuju ke GKJ perhitungan waktuku masih sempat untuk menyelesaikan urusanku terlebih dahulu di Matraman yaitu ingin mencetak kaos di tempat teman. Gambar yang kucetak dalam kaos adalah sebuah poster film karya Ine Febriyanti yang berjudul Tuhan pada Jam Sepuluh Malam.  Aku perkirakan sampai matraman pukul setengah lima sore. Memang selama diperjalanan aku sudah komunikasi melalui sms dengan temanku ini. Jadi sesaat tiba di sana dia langsung memproses pesananku. Tak perlu berlama-lama hanya satu jam pesananku selesai. Proses cetak kaos ini cepat sekali karena menggunakan mesin, tidak manual. Tujuanku membuat kaos bergambar poster film Tuhan pada Jam Sepuluh Malam adalah untuk kupamerkan kepada si mbo bila bertemu dengannya nanti malam.
Malam ini, Jumat sehabis magrib hujan baru saja berhenti tinggal rintik-rintik kecil saja, terasa romantis suasana saat itu. Lia yang sudah janjian sebelumnya denganku ingin ikut nonton pertunjukan malam ini sudah tiba sebelum magrib. Sekarang dia sudah nangkring di batangan besi di bawah tangga penyebrangan sambil tangannya lincah memainkan handphone membalas sms yang aku kirim. Aku yang baru tiba dan keluar dari pintu halte busway Pasar Baru, di atas jembatan penyebrangan tersenyum simpul menyaksikan lia yang sedikit gelisah memandang ke kanan, kiri, atas menunggu kedatanganku. Tak lama aku sudah disampingnya, menyapa sebentar dan langsung menuju GKJ yang lokasinya hanya bersebrangan dengan halte busway.

Teman-temanku yang kukabari ada beberapa yang tidak jadi menonton dengan bermacam-macam alasan. Noviero beralasan hujan besar sekali turun di daerahnya di Bekasi sana, mba Yenni tiba-tiba kepalanya sakit dimenit-menit terakhir pertunjukan akan dimulai dia memberi kabar. Akhirnya tinggal aku, Lia Falsista, Uwa, dan Ori yang benar-benar hadir untuk menyaksikan acara malam ini. Waktu masih menunjukan pukul 18:15 setelah menunaikan sholat magrib kami segera bergegas memasuki ruangan GKJ untuk mengambil beberapa tiket yang sudah kami pesan dengan menemui pihak panitia dibagian ticketing. Segera pihak panitia menyerahkan beberapa tiket yang telah kami pesan dan meminta kami untuk memasuki ruangan tempat disediakannya jamuan makan malam.

Dinner Time

Perut kami yang memang sudah keroncongan segera saja secara naluriah menuntun kami untuk mendekati meja dimana makanan-makanan disajikan. Aku khususnya, memang sedari siang belum makan akhirnya  memutuskan lebih dulu mengambil makanan. Ada beberapa jenis makanan yang disajikan di beberapa meja tersebut, aku memilih makanan yang terletak di sebelah ujung ruangan. Menu yang disajikan adalh menu makanan khas jawa gudeg. Tidak banyak nasi  kutuangkan dalam piring yang terbuat dari anyaman bambu, satu setengah centong nasi. “ah..gudeg selalu mengingatkan aku pada kota Jogja berhati nyaman” dalam hati. Kusendok sedikit krecek salah satu makanan kesukaanku. Krupuk kulit yang dibuat sayur, berlanjut daun singkong di sebelahnya, “ini dia gudegnya…!” sayur nangka dikeringkan ada rasa sedikit manis khas makanan Jawa pasti ada ras manisnya sementar kuahnya di tempatkan di wadah yang terpisah, lalu ayam gorengnya, tahunya..lengkap sudah menu yang aku racik sendiri. Selesai mengambil makanan aku menuju kursi segera makan. Lia menyusul mengambil makanan. Hanya aku dan Lia yang beruntung saat ini,karena mendapatkan jamuan makan malam selain tentunya para penonton yang kebetulan hadir sebelum acara dimulai.

show time

Makan sudah, perut kenyang sudah tapi acara belum mau dimulai sebab memang dalam jadwal acara dimulai pada pukul 20:00, sementara saat ini waktu masih menunjukan pukul 19:00 masih tersisa waktu mungkin setengah jam sebab sepanjang pengalamanku dalam menonton acara seperti ini, penonton baru akan dipersilahkan masuk setidaknya setengah jam dari waktu yang dijadwalkan. Sambil menunggu waktu dipersilahkan masuk ke dalam ruang teater, aku memutuskan untuk berbincang-bincang dengan lia di teras samping gedung.

Udara sehabis hujan tadi sedikit membuat gerah tubuhku. Jaket blue jeans Levi’s yang kukenakan kubuka untuk mengurangi rasa gerah. Kuambil sebatang rokok dan kusulut dengan korek gas seribuan..”ah..rokok Dji Sam Soe ini terasa sangat nikmat bila dihisap sehabis makan..” lagakku sudah seperti tokoh Roy saja dengan jaket dan celana blue jeans Levi’s (hehehe). Lia berdiri di sampingku dengan santai menyantap satu persatu buah-buahan pencuci mulut. Habis sebatang rokok kuhisap dan lia selesai dengan santapan cuci mulutnya, kami melihat pintu ruang pertunjukan sudah mulai dibuka dan panitia pelaksana pun telah mempersilahkan para penonton untuk masuk ke dalam.

Satu persatu kami masuk teratur mencari kursi sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Panitia membantu kami mencari kursi yang kami pesan. Aku, Ori dan Lia duduk berderetan di nomor S1,S3,S5. Di Gedung Kesenian Jakarta ini pengaturan tempat duduknya adalah dengan memisahkan yang ganjil dan genap. Yang angka ganjil di sebelah barat dan genap sebelah timur. Jadi kalau anda mau menyaksikan pertunjukan di GKJ ini dan ingin duduknya sederetan dengan teman anda sebaik pesan nomor kursinya ganjil semua atau genap semua. Uwa Temanku yang satu lagi sampai kami duduk di kursi penonton belum datang juga. Tapi tak lama sebuah sms dan sebuah miscall masuk ke handphone ku. Aku keluar kembali untuk menemui, memberikan tiket masuk kepada Uwa lalu kembali ke tempat duduk sebab pertunjukan akan segera dimulai.

Adik-adik kecil Nura, Zeyn (anak dari mba ine) yang tadi sempat bertemu di depan terpisah dengan rombongannya karena nomor kursinya tidak sederet. Melihat mereka terpisah dengan “induk semang” nya, sesaat sebelum dimulai aku mengajak mereka bergabung dengan aku, lia dan Ori kebetulan kursi disamping kami kosong. Setelah gamang beberapa saat sahabat kecilku Nura akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan mba Fitri sedang Zeyn memutuskan tetap bersama kami.

Tepat pukul 20:00 acara pun dimulai, seperti biasa disetiap acara seperti ini selalu diawali dengan beberapa seremonial, beberapa sambutan dari pihak-pihak terkait dan pihak penyelenggara. Bertindak sebagai MC malam ini adalah pasangan abang none Jakarta. (bersambung)

Selasa, 26 November 2013

KAMPUNG BUDAYA RUMAH DUNIA



“disini panca inderaku dibuka seluas-luasnya
 untuk menikmati yang tidak pernah aku nikmati sebelumnya..”

Awal November 2013 ini tepatnya tanggal 8, 9, 10 merupakan 3 hari yang menyenangkan sekaligus mengesankan bagiku. Tadinya saat awal aku kembali ke kota asalku nyaris kehilangan gairah berkesenian di kota ku sendiri, sementara saat aku berkuliah tinggal di kota lain yaitu di jogja, hampir setiap hari aku disuguhkan dengan acara-acara seni dan budaya, sialnya itulah yang membuat aku terlena, terbuai hingga akhirnya kuliahku menjadi molor atau lama selesainya. 

Tapi ternyata setelah aku “berkenalan“ dengan Rumah Dunia gairah itu pelan-pelan kembali tumbuh. Setelah beberapa bulan aktif berkunjung ke Rumah Dunia geliat aku untuk berkesenian kembali meletup, ditambah di Rumah Dunia yang bergerak di dunia literasi merangsang daya imajinasiku untuk dituangkan dalam tulisan sastra atau yang lainnya.

Adalah Kelas Menulis Rumah Dunia yang saat ini sudah sampai pada angkatan ke 22 itulah awalnya aku mulai terdorong untuk menulis secara aktif. Sejujurnya aku akui bahwa kegiatan menulisku minim bahkan bisa dibilang tidak ada selain untuk tugas-tugas kuliah dan skripsi di masa lalu, namun saat aku mengikuti kegiatan kelas menulis di Rumah Dunia yang rutin dilakukan setiap minggunya selama enam bulan, akhirnya keinginan dan imajinasiku untuk menulis keluar dan aku syukuri saat ini sudah aktif menulis meskipun belum seratus persen.

Sosok Gol A Gong mau tidak mau adalah sosok yang sangat mempengaruhi dalam kegiatan tulis menulisku dan teman-teman yang aktif di Rumah Dunia. Sebab disetiap pertemuan kelas menulis atau disetiap kesempatan bertemu, selalu saja memberikan motivasi ataupun rangsangan ide-ide untuk menulis baik secara langsung atau melalui media-media social di internet. Beliau adalah orang yang sangat konsisten dibidangnya yaitu literasi, tidak heran bila sudah banyak penghargaan yang diperolehnya buah dari kerja keras dan konsistensinya tersebut.

Sekali lagi berkat kegigihan dan konsistensinya Gol A Gong bersama teman-teman yang lain tak heran juga kini Rumah Dunia berkembang, bertumbuh, dengan baik. Tiga belas tahun sudah Rumah Dunia berdiri dan diusianya yang ke tiga belas ini pula Rumah Dunia mendapatkan berkah yang luar biasa selain kini Rumah Dunia dapat mendirikan sebuah bangunan yang diperuntukan untuk kegiatan seni budaya, juga untuk kegiatan apa saja yang bermanfaat bagi semua. Bertepatan dengan itu pula Rumah Dunia mengadakan acara bisa disebut sebuah hajatan yang cukup besar dengan mengambil tema budaya. Hajatan itu diberi nama Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia digelar di awal minggu bulan November ini yaitu tanggal 8, 9, dan 10. Tiga hari berturut-turut dari pagi sampai malam kita sebagai peserta disuguhkan dengan bermacam-macam acara. Mulai dari diskusi sastra, workshop menulis, diskusi tentang perfilman, musik hingga jalan-jalan mendatangi situs-situs cagar budaya yang ada di Banten.

Tentunya bukan kali ini saja Rumah Dunia mengadakan acara-acara yang bertema dengan sastra atau yang lainnya. Hanya saja acara kali ini terasa lebih istimewa sebab kali ini acaranya di gedung ‘sendiri’ jadi tidak perlu khawatir kepanasan atau kehujanan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.Beberapa diskusi banyak digelar dalam rangkaian acara Kampung Budaya Nusantara kali ini, kadang sedikit membosankan tapi aku yakin hal-hal yang saat ini mungkin membosankan buatku suatu saat nanti akan mengendap dalam otakku dan menjadi hal yang berguna bagi proses kreatifku.

1.    Hari pertama

Sesuai jadwal yang telah ditentukan acara di hari pertama dimulai pukul 09:00 adalah rentetan beberapa Ceremonial. Mulai dari sambutan ketua yayasan Pena Dunia Rumah Dunia sampai perwakilan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Perlu diketahui juga bahwa acara kali ini mendapat dana dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Pusat. Yang istimewa buatku adalah pada saat pembukaan ini aku diberi kesempatan oleh mas Gol A Gong memberikan souvenir berupa karya lukisan wajahnya sebagai bagian dari rangkaian ceremonial pembukaan tersebut. Aku didaulat untuk naik ke panggung memberikan lukisan tersebut. Sungguh satu kehormatan yang luar biasa buatku.


ceremoni penyerahan lukisan kepada Gol A Gong


Setelah rangkaian sambutan selesai acara dilanjutkan dengan pementasan teater anak dari Rumah Dunia yang menampilkan cerita legenda Dampu Alam. Berkisah tentang seorang anak yang durhaka kepada ibunya hingga dikutuk menjadi sebuah gunung. Sekilas cerita legenda ini mirip dengan cerita legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat. Dari acara ini aku jadi tahu bahwa ternyata di Banten ada pula cerita legenda semacam ini. Kini timbul pertanyaan dikepalaku kenapa cerita legenda ini tidak banyak yang tahu bahkan aku sendiri malah lebih familiar dengan cerita legenda Malin Kundang ketimbang Dampu Awang.

Tak lama setelah itu kami peserta Kampung Budaya dihibur oleh iringan musik rebana. Grup qasidah beranggotakan delapan personil segera saja menghentakan musiknya menjadi tontonan segar bagiku sebab sudah bosan sekali dengan tontonan televisi dengan menampilkan boyband-boyband yang banyak sekali jumlahnya tiba-tiba bermunculan tapi jenis musiknya itu-itu saja. Maksud itu-itu saja adalah boyband yang yang satu dengan yang lain sama sekali tidak ada bedanya, sampai aku tidak dapat membedakan nama-namanya. Sekali lagi di acara ini aku dibukakan semua panca indra ku. Melihat, mendengar, merasakan, mencium hal-hal yang lain yang ternyata ada di dekatku tak perlu jauh-jauh mencarinya.


Kemudian dari Majelis Puisi pun ikut meramaikan suasana pembukaan hari pertama, lima orang perempuan berjilbab dengan pakaian berwarna merah hati dan hitam tampil ke panggung membacakan beberapa puisi secara berjamaah. Satu per satu dari mereka bergantian unjuk kebolehan. Oh..iya selain Kelas Menulis di Rumah Dunia ada pula sebuah kegiatan sastra lebih condong ke puisi yaitu Majelis Puisi asuhan mas Toto St. Radik.



Sore hari setelah magrib kembali kami dihibur dengan acara-acara menarik lainnya. Bedanya kali ini acara malam kami disuguhi dengan parade seni, antara lain qasidah, lagu-lagu tradisional, tarian, dan dolanan anak.

2. Hari kedua

Dihari kedua ini tidak banyak yang akan aku tulis hanya sedikit saja. Di hari kedua ini ada satu dua diskusi yang menarik buatku hingga saat ini suara pembicara itu masih terngiang-ngiang di telinga dan mengendap di kepalaku. Diskusi bertema tradisi di hari kedua begitu menarik dan sangat memberikan informasi serta ilmu yang tidak akan aku, kamu, kalian dapati dalam pendidikan formal. Maka aku patut bersyukur dapat mengikuti kegiatan diskusi dihari kedua ini.
Ada beberapa kalimat yang saya rekam dan garis bawahi saat diskusi bertema tradisi ini. Adalah kalimat yang diucapkan bapak Prof. DR. Yus Rusyana bahwa sesungguhnya bangsa kita terdahulu sudah tinggi pengetahuannya yang diterapkan dalam tradisi sehari-hari. Dalam hal kecil saja, contohnya menank nasi orang-orang tua kita terdahalu sudah tahu bagaimana prosesnya. Mulai dari meliwet, terus menanak nasi, hingga siap disajikan sudah mengerti ilmunya. Beliau menyarankan bahwa orang kreatif harus tetap melihat tradisi. Jadi meskipun menciptakan hal baru berinovasi  tetap tradisi itu dimasukan kedalamnya. Begitu pula didunia seni atau sastra (literasi) bertumpulah dari tradisi sebab itu adalah keistimewaan bangsa kita.
Dikaitkan dengan Banten Prof. Yus menyatakan bahwa orang pertama kali mendapat gelar Doktor di Indonesia adalah orang Banten yaitu tahun 1913. Itu tidak lain adalah Hussein Jayadiningrat. Beliau saat mendapat gelar Doktor di Universitas Leiden Belanda mempertahankan disertasinya dengan mengangkat tradisi Banten yang sudah dibukukan dengan judul Critische Beschouwing vande Sadjarah Banten. Mendengar itu seketika merasa bangga sebagai putra daerah Banten, ternyata bahwa Banten dahulu merupakan daerah yang sangat istimewa bahkan di bidang ilmu pengetahuan di Banten lah terlahir Doktor pertama di Indonesia…bayangkan!!tapi seketika aku juga merasa miris bila membandingkan Banten saat ini. Tidak bisakah Banten maju semaju saat itu atau kita hanya bisa membanggakan sejarah saja? Hormat setinggi-tingginya untuk bapak Hussein Jayadiningrat.
Dihari kedua ini kembali dibuka panca indraku dalam acara Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia ini.

3. Hari Ketiga

Hari ketiga adalah hari yang paling ditunggu-tunggu bagi aku atau sebagian peserta lainnya yang datang dari luar kota. Perlu diketahui ada juga peserta yang datang dari luar Banten antara lain Bandung, Jakarta, bahkan ada yang datang dari Magelang. Di hari minggu yang cukup sejuk itu agendanya adalah perjalanan kebudayaan. Kami para peserta diajak menjelalajah ke situs-situs cagar budaya yaitu Kraton Kaibon, Vihara Avalokitesvara, dan Benteng Spelwijk. Selain itu kita pun disuguhi dengan diskusi tentang sejarah Banten masa lampau dengan pembicara seorang pakar budaya dan sejarah Banten yaitu Halim HD.
Sebelum pak Halim datang menyusul kami di kraton Kaibon Koelit Ketjil yang saat itu ditunjuk sebagai tur guide Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia. Menceritakan sedikit tentang kraton Kaibon. Bahwa Kraton Kaibon ini dibangun pada masa kesultanan Banten 1526-1813. Bila dilihat dari namanya Kaibon berarti Keibuan. Jadi maksud didirikannya kraton Kaibon ini adalah diperuntukan untuk Ibunda Sultan Syaifudin yaitu Ratu Aisyah, yang pada saat itu Sultan Syaifudin masih berumur 5 tahun, masih sangat kecil untuk dapat memegang tampuk pemerintahan. Di kraton kaibon ini sudah memiliki sistem pendingin ruangan alami kalau zaman sekarang kita menyebutnya AC. Di kraton kaibon ini sistem pendingin ruangan ini teknis kerjanya yaitu dengan mengalirkan air dibagian bawah ruangan yang sengaja dibuat lebih rendah untuk tempat mengalirnya air. Air yang sifatnya cenderung dingin itu dimanfaatkan untuk mendinginkan ruangan. Sungguh sebuah pemikiran yang maju di masa itu.
Pak Halim banyak bercerita banyak tentang kejayaan Banten masa silam, tetapi tidak akan aku ceritakan banyak, hanya singkat saja. Pada masa Sultan Hasanudin. Dikatakannya bahwa Banten adalah pusat perdagangan internasional yang ramai didatangi dari berbagai Negara. Belanda, Perancis, Inggris, Portugis, bahkan dari benua Asia ada Cina dan Arab. Mengapa Banten kala itu ramai dan menjadi pusat perdagangan internasional?beliau menjelaskan selain daerah Banten merupakan tempat  strategis jalur transportasi lalu lintas kapal, Banten juga merupakan daerah yang makmur. Kaya raya sumber daya alamnya, sistem pemerintahan pada jaman itu sangat bagus, arsitektur kraton Banten merupakan hasil karya masyarakat Banten sendiri bukan oleh bangsa Belanda. Jadi dapat dibayangkan betapa Banten pada masa itu sudah merupakan daerah maju dan memiliki kebudayaan yang sangat baik. Baik ilmu pengetahuan dan masyarakatnya.
“lagi-lagi aku dibuat bangga mendengar cerita kejayaan Banten pada masa lalu..sungguh luar biasa.!!”
Tapi ada hal penting yang diingatkan oleh Pak Halim HD bahwa masyarakat Banten masayarakat yang cenderung kepada budaya lisan. Jadi tidak heran saat ini sedikit sekali tulisan-tulisan tentang sejarah Banten dapat ditemui, karena masyarakatnya tidak suka menulis. Dari hal itulah Pak Halim memberikan sedikit kalimat motivasi sebagai penyemangat kami peserta Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia. “menulislah agar kamu tidak hilang ingatan”. Sebuah kalimat singkat yang untukku pribadi bagaikan lecutan cambuk untuk terus menuliskan segala hal.
Tidak banyak yang aku tulis disini untuk acara Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia. Intinya bahwa aku sangat terkesan dengan acara seperti ini. Semoga akan terus berlanjut selain sebagai ajang silaturahmi bertemu dengan teman-teman lama dan teman-teman baru, acara ini sekaligus sangat bermanfaat sebagai media atau bahkan menjadi sebuah aksi untuk tetap mempertahankan, melestarikan kebudayaan masa lalu Banten yang sangat kaya dan beragam jenisnya. Sekian dan terima kasih. (Bundwesser)
  

Jumat, 27 September 2013

SAMPAH ITU MENGAMBANG DI UDARA



Sebuah pengamatan dengan gaya anabel (analisis gembel)
Ditulis oleh: bundwesser 2013

Musim penghujan mungkin sudah berlalu tapi tak sepenuhnya berlalu. Kadang sesekali hujan turun tiba-tiba di siang bolong yang panas. Entah karena sudah rusaknya lapisan ozon di atas langit sana atau karena sudah kehendak-Nya. Seperti yang sering kita lihat dari televis, Koran, majalah, atau bahkan tidak jauh di lingkungan terdekat kita disetiap musim penghujan banyak dampak negatif hadir, misalnya saja banjir, penyakit, dan sampah-sampah. Semua itu bisa jadi penyebabnya adalah berasal dari kita sendiri bukan musim penghujannya yang membawa petaka.

Kali ini saya akan bercerita sedikit tentang sampah dari pengamatan saya saat melakukan perjalanan dari Serang menuju Ciputat itu pun dengan versi saya yang mungkin tidak ilmiah, mungkin fiksi, atau hanya fantasi.
Matahari menyengat terasa panas sekali, siang itu tepat sudah matahari berada di atas kepalaku. Aku menunggu di beranda rumah, duduk santai di kursi anyaman rotan sambil menikmati segelas kopi hitam kiriman temanku dari Bandung. Sebenarnya waktunya sangatlah tidak tepat di siang bolong, tengah hari yang panas seperti ini aku meminum kopi hitam panas juga. Tak heran aku menjadi merasa semakin gerah saja, hingga berkeringat. Aku kipas-kipas mencari angin untuk mengurangi rasa gerahku, sebab hari itu tak ada angin yang berhembus. Aku hisap rokok menemani kopiku, tiba-tiba saja aku merasa kopi ini semakin nikmat rasanya. Saking nikmatnya kunikmati kopi ini, hingga aku merasa di lidah, rongga, dan tenggorokanku kopi ini menimbulkan kesan yang mendalam.

Handphone-ku yang kuletakkan di atas meja berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam kotak masuk pesan. Pesan dari seorang teman lama yang bekerja di Kalimantan, saat ini sedang cuti mengajakku untuk menemani dia pergi ke Ciputat. Sebenarnya aku sudah hampur lupa kalau hari ini aku ada janji dengan dia. Dit..udah siap belum?gw udah di jalan ke rumah lu neh. Sebentar lagi sampai begitu isi pesan temanku. “oh..iya aku lupa ya kalau hari ini ada janji sama si Deye…”gumamku. Langsung kubalas smsnya. Ok…gw tunggu di rumah. Kulanjutkan menikmati kopiku yang tinggal setengah.

Deye tiba di rumahku berbarengan dengan habisnya kopi dalam gelasku. Dia turun dari mobilnya dan berjalan mendekatiku yang masih duduk di beranda rumah. Sengaja memang aku tunggu dia beranda agar dapat terlihat olehnya ketika turun dari mobil. Kebetulan  letak rumahku berada di pinggir jalan hingga memudahkan Deye untuk segera masuk ke halaman rumahku. 

Deye yang baru dua hari tiba di serang dalam rangka cuti dia rutin tiap bulan, menyapaku sambil bersalaman biar kagak slack kata anak sekarang bilang. “jam berapa mau berangkatnya?”tanyaku seraya menyilahkan duduk kepada Deya. “tar lah, jam satu atau dua dah kita jalan, sambil tunggu Yeen juga katanya mau ikut”jawabnya. “oke..ngopi dulu ya..gw ada kopi enak neh kiriman teman dari bandung?”seruku menawarkan kopi kepada Deye. “boleh..boleh..”Deye mengiyakan. Saat itu kulihat jam di dinding rumah menunjukan pukul 12:45. “santai aja dit…Yeen katanya juga mau ikut, dia masih di jalan nanti minta dijemput di RS. Sari Asih”meyakinkan aku untuk tidak terburu-buru. “sippp…!”jawabku singkat

Kutinggalkan Deye ke dapur rumahku menyiapkan kopi untuknya. Tapi sayang air panas dalam termosku ternyata habis. Terpaksa aku harus memasak air lagi. Kusiapkan air dalam panci kecil, sedikit saja sekedar untuk membuat segelas kopi. Kunyalakan kompor gasku, kumasak air yang sudah kusiapkan dalam panci kecil tadi. Tak lama kemudian air mendidih, kutuang dalam gelas yang sebelumnya sudah kusiapkan kopi. Selesailah aku menyeduh kopi langsung kuhidangkan untuk Deye yang menunggu dengan santai di beranda depan rumahku.

“neh..kopinya diminum, enak loh rasanya. gw udah nyobain tadi..”kataku seperti berpromosi. 

“yang bener lu..kaya apa seh enaknya…”jawab si Deye penasaran seraya menyeruput kopinya.

“gimana…enak kan kopinya?” tanyaku setelah Deye minum kopinya

“mantap..rasanya di lidah, rongga, dan tenggorokan gw kaya ga mau ilang..” jawabnya menjelaskan, persis seperti yang aku rasakan tadi waktu aku minum kopi.

Sambil ngopi kami berbincang-bincang tentang apa saja. Tapi yang pertama kali kutanyakan adalah kapan dia  datang ke Serang.

“Kapan lu datang Dey..?”tanyaku

“dua hari yang lalu…dit” jawabnya

“perasaan belum lama kemarin lu udah cuti dey..cepet amat nah sekarang udah cuti lagi aja?” tanyaku lagi.

“iya..kemarin itu kan gw cuitnya ga sesuai jadwal..biar bisa lebaran di sini..jadi sekarang gw cuti lagi biar nantinya sesuai jadwal lagi”jelasnya.

“oh gitu…terus nanti ini ke Ciputat mau ngapain?tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“mau servis mobil gw dit..” Deye menjawab singkat.

“terus lu cuti sampe kapan?”tanyaku lagi.

“biasa dua mingguan lah dit..”jawabnya lagi

Setengah jam berlalu kami berbincang macam-macam sampai tak terasa kopi di gelas Deye udah hampir habis. Kami sengaja tidak bersegera untuk berangkat sebab menunggu Yeen temanku yang juga teman Deye.  Yeen yang tinggal di Serdang memberi kabar lewat sms ke Deye katanya dia baru saja sampe Kramat Watu.

“si Yeen udah jalan belum Dey?”

“udah, baru sampe Kramat katanya Dit”

“terus keburu ga sampe ciputat sebelum jam 5 sore?”

“keburu kok, tadi orang bengkelnya bilang mau nungguin sampe gw datang”

“oke deh kalau begitu..”jawabku santai 

Sepuluh menit kemudian handphone Deye berbunyi, ternyata sms dari Yeen yangmemberitahu bahwa dia sudah di RS. Sari Asih. Tak lama Kami segera bersiap-siap masuk mobil dan berangkat.

Mobil berjalan perlahan meninggalkan rumahku kulihat jam tanganku Pukul 13:30. Kami mengambil jalan melewati alun-alun kota yang saat itu sedang acara Banten Expo, sebuah acara pameran. Sama sekali aku tidak tertarik ingin melihat acara itu tapi efeknya itulah yang membuat aku jengah. Selalu membuat kemacetan sekitarnya, tidak hanya dengan acar itu saja daerah sekitar alun-alun kota Serang menjadi macet, bahkan hampir setiap hari, sebab alun-alun yang harusnya berfungsi sebagai ruang terbuka umum kini tiba-tiba berubah menjadi area perdagangan. Itulah sebab yang utama tidak suka dengan acar seperti itu. Selain itu selalu menyisakan sampah-sampah bergelatakan dimana-mana.

Kami bergerak mengitari alun-alun kecepatan sengaja kami lambatkan. Di dalam mobil, duduk di depan bersama Deye memudahkan mataku untuk memandang sekitar. Saat di perjalanan menuju RS. Sari Asih mataku begitu sangat terganggu dengan Billboard-billboard ukuran super besar yang bagiku itu sama sekali tidak memperindah atau mempercantik wajah kotaku malah sebaliknya. Sepanjang jalan mulai dari alun-alun terus lurus menuju arah Rs. Sari Asih yang juga berdekatan dengan pintu tol Serang timur, setiap incinya berjajar tiang-tiang billboard ukuran super besar tersebut. Baik itu iklan produk, himbauan, bahkan billboard bergambar (foto) para politisi yang mejeng dengan segala tulisan merupakan pencitraan produk partai dan instansinya. 

Semua itu di mata dan pikiranku sudah menjadi ‘sampah’ yang sangat mengganggu. Terutama untuk otak kita yang tanpa tidak kita sadari bahwa gambar-gambar itu telah menghipnotis kita. Gambar-gambar iklan itu kini tanpa kita sadari sudah mungkin menjadi impian sebagian dari kita. Melihat fot-foto para politisi, ada yang dengan kumis tipis melintang sedang senyum-senyum maksudnya apa juga aku tidak tahu, ada juga yang politis wanita dengan kerudung berwarna putih, kuning atau biru tampak cantik di billboard itu entah wajah aslinya seperti apa.

Ya ‘sampah-sampah’ itu mengambang di udara. Sampah-sampah itu  tidak hanya mengotori wajah kota kecilku yang kata pemimpinnya “jangan ketinggalan Jaman” meminta untuk terus mendukungnya membangun kota Serang,  kini juga mengotori ruang tempat seharusnya udara segar bebas bergerak. Melihat kotornya ruang oksigen kotaku saat ini timbul pertanyaan di kepalaku. Aku membandingkan bila banyak sampah  mengotori aliran air seperti got, sungai dan mengakibatkan aliran air  mampet pastilah saat musim penghujan datang banjir datang,  apakah akan terjadi kemampetan aliran oksigen di kotaku?dampaknya mungkin bukan banjir tapi logikaku berkata bahwa mungkin akan terjadi berkurangnya supply oksigen bebas untuk asupan pernapasan kita. Oleh karena itu seyogyanya semboyan jagalah kebersihan dan jangan membuang sampah sembarangan di darat, perlu kita gemborkan juga untuk tidak mengotori ruang udara kita. Jangan biarkan “sampah-sampah itu mengambang di udara”






gambar di atas adalah beberapa contohnya

Aku dan Deye terlebih dahulu menjemput Yeen ternyata juga membawa serta istrinya di RS. Sari Asih. Tak lama kami sudah berada di depan RS. Sari Asih dengan pedenya langsung masuk ke dalam parkiran rumah sakit. Saat itu Deye sedang sibuk menyetir mobilnya jadi tak sempat membaca sms dari Yeen. Barulah setelah masuk ke dalam lingkungan rumah sakit Dey mengecek handphonenya yang ternyata ketika dibaca Yeen menunggu kami di luar rumah sakit, tepatnya di Indomart sebelah utara rumah sakit. Terpaksa kami yang baru saja masuk parkiran harus kembali keluar lagi.

Akhirnya setalah berputar balik kami bertemu juga dengan Yeen dan istrinya. Segera saja mereka masuk ke dalam mobil lengkap sudah personil kita. Mobil diarahkan menuju pintu tol Serang timur, pelan tapi pasti kami tinggalkan kota Serang tercintaku menuju Ciputat. (Bisa jadi akan ada sambungannya :)  )
(bundwesser 28092013)