Jumat, 27 September 2013

SAMPAH ITU MENGAMBANG DI UDARA



Sebuah pengamatan dengan gaya anabel (analisis gembel)
Ditulis oleh: bundwesser 2013

Musim penghujan mungkin sudah berlalu tapi tak sepenuhnya berlalu. Kadang sesekali hujan turun tiba-tiba di siang bolong yang panas. Entah karena sudah rusaknya lapisan ozon di atas langit sana atau karena sudah kehendak-Nya. Seperti yang sering kita lihat dari televis, Koran, majalah, atau bahkan tidak jauh di lingkungan terdekat kita disetiap musim penghujan banyak dampak negatif hadir, misalnya saja banjir, penyakit, dan sampah-sampah. Semua itu bisa jadi penyebabnya adalah berasal dari kita sendiri bukan musim penghujannya yang membawa petaka.

Kali ini saya akan bercerita sedikit tentang sampah dari pengamatan saya saat melakukan perjalanan dari Serang menuju Ciputat itu pun dengan versi saya yang mungkin tidak ilmiah, mungkin fiksi, atau hanya fantasi.
Matahari menyengat terasa panas sekali, siang itu tepat sudah matahari berada di atas kepalaku. Aku menunggu di beranda rumah, duduk santai di kursi anyaman rotan sambil menikmati segelas kopi hitam kiriman temanku dari Bandung. Sebenarnya waktunya sangatlah tidak tepat di siang bolong, tengah hari yang panas seperti ini aku meminum kopi hitam panas juga. Tak heran aku menjadi merasa semakin gerah saja, hingga berkeringat. Aku kipas-kipas mencari angin untuk mengurangi rasa gerahku, sebab hari itu tak ada angin yang berhembus. Aku hisap rokok menemani kopiku, tiba-tiba saja aku merasa kopi ini semakin nikmat rasanya. Saking nikmatnya kunikmati kopi ini, hingga aku merasa di lidah, rongga, dan tenggorokanku kopi ini menimbulkan kesan yang mendalam.

Handphone-ku yang kuletakkan di atas meja berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam kotak masuk pesan. Pesan dari seorang teman lama yang bekerja di Kalimantan, saat ini sedang cuti mengajakku untuk menemani dia pergi ke Ciputat. Sebenarnya aku sudah hampur lupa kalau hari ini aku ada janji dengan dia. Dit..udah siap belum?gw udah di jalan ke rumah lu neh. Sebentar lagi sampai begitu isi pesan temanku. “oh..iya aku lupa ya kalau hari ini ada janji sama si Deye…”gumamku. Langsung kubalas smsnya. Ok…gw tunggu di rumah. Kulanjutkan menikmati kopiku yang tinggal setengah.

Deye tiba di rumahku berbarengan dengan habisnya kopi dalam gelasku. Dia turun dari mobilnya dan berjalan mendekatiku yang masih duduk di beranda rumah. Sengaja memang aku tunggu dia beranda agar dapat terlihat olehnya ketika turun dari mobil. Kebetulan  letak rumahku berada di pinggir jalan hingga memudahkan Deye untuk segera masuk ke halaman rumahku. 

Deye yang baru dua hari tiba di serang dalam rangka cuti dia rutin tiap bulan, menyapaku sambil bersalaman biar kagak slack kata anak sekarang bilang. “jam berapa mau berangkatnya?”tanyaku seraya menyilahkan duduk kepada Deya. “tar lah, jam satu atau dua dah kita jalan, sambil tunggu Yeen juga katanya mau ikut”jawabnya. “oke..ngopi dulu ya..gw ada kopi enak neh kiriman teman dari bandung?”seruku menawarkan kopi kepada Deye. “boleh..boleh..”Deye mengiyakan. Saat itu kulihat jam di dinding rumah menunjukan pukul 12:45. “santai aja dit…Yeen katanya juga mau ikut, dia masih di jalan nanti minta dijemput di RS. Sari Asih”meyakinkan aku untuk tidak terburu-buru. “sippp…!”jawabku singkat

Kutinggalkan Deye ke dapur rumahku menyiapkan kopi untuknya. Tapi sayang air panas dalam termosku ternyata habis. Terpaksa aku harus memasak air lagi. Kusiapkan air dalam panci kecil, sedikit saja sekedar untuk membuat segelas kopi. Kunyalakan kompor gasku, kumasak air yang sudah kusiapkan dalam panci kecil tadi. Tak lama kemudian air mendidih, kutuang dalam gelas yang sebelumnya sudah kusiapkan kopi. Selesailah aku menyeduh kopi langsung kuhidangkan untuk Deye yang menunggu dengan santai di beranda depan rumahku.

“neh..kopinya diminum, enak loh rasanya. gw udah nyobain tadi..”kataku seperti berpromosi. 

“yang bener lu..kaya apa seh enaknya…”jawab si Deye penasaran seraya menyeruput kopinya.

“gimana…enak kan kopinya?” tanyaku setelah Deye minum kopinya

“mantap..rasanya di lidah, rongga, dan tenggorokan gw kaya ga mau ilang..” jawabnya menjelaskan, persis seperti yang aku rasakan tadi waktu aku minum kopi.

Sambil ngopi kami berbincang-bincang tentang apa saja. Tapi yang pertama kali kutanyakan adalah kapan dia  datang ke Serang.

“Kapan lu datang Dey..?”tanyaku

“dua hari yang lalu…dit” jawabnya

“perasaan belum lama kemarin lu udah cuti dey..cepet amat nah sekarang udah cuti lagi aja?” tanyaku lagi.

“iya..kemarin itu kan gw cuitnya ga sesuai jadwal..biar bisa lebaran di sini..jadi sekarang gw cuti lagi biar nantinya sesuai jadwal lagi”jelasnya.

“oh gitu…terus nanti ini ke Ciputat mau ngapain?tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“mau servis mobil gw dit..” Deye menjawab singkat.

“terus lu cuti sampe kapan?”tanyaku lagi.

“biasa dua mingguan lah dit..”jawabnya lagi

Setengah jam berlalu kami berbincang macam-macam sampai tak terasa kopi di gelas Deye udah hampir habis. Kami sengaja tidak bersegera untuk berangkat sebab menunggu Yeen temanku yang juga teman Deye.  Yeen yang tinggal di Serdang memberi kabar lewat sms ke Deye katanya dia baru saja sampe Kramat Watu.

“si Yeen udah jalan belum Dey?”

“udah, baru sampe Kramat katanya Dit”

“terus keburu ga sampe ciputat sebelum jam 5 sore?”

“keburu kok, tadi orang bengkelnya bilang mau nungguin sampe gw datang”

“oke deh kalau begitu..”jawabku santai 

Sepuluh menit kemudian handphone Deye berbunyi, ternyata sms dari Yeen yangmemberitahu bahwa dia sudah di RS. Sari Asih. Tak lama Kami segera bersiap-siap masuk mobil dan berangkat.

Mobil berjalan perlahan meninggalkan rumahku kulihat jam tanganku Pukul 13:30. Kami mengambil jalan melewati alun-alun kota yang saat itu sedang acara Banten Expo, sebuah acara pameran. Sama sekali aku tidak tertarik ingin melihat acara itu tapi efeknya itulah yang membuat aku jengah. Selalu membuat kemacetan sekitarnya, tidak hanya dengan acar itu saja daerah sekitar alun-alun kota Serang menjadi macet, bahkan hampir setiap hari, sebab alun-alun yang harusnya berfungsi sebagai ruang terbuka umum kini tiba-tiba berubah menjadi area perdagangan. Itulah sebab yang utama tidak suka dengan acar seperti itu. Selain itu selalu menyisakan sampah-sampah bergelatakan dimana-mana.

Kami bergerak mengitari alun-alun kecepatan sengaja kami lambatkan. Di dalam mobil, duduk di depan bersama Deye memudahkan mataku untuk memandang sekitar. Saat di perjalanan menuju RS. Sari Asih mataku begitu sangat terganggu dengan Billboard-billboard ukuran super besar yang bagiku itu sama sekali tidak memperindah atau mempercantik wajah kotaku malah sebaliknya. Sepanjang jalan mulai dari alun-alun terus lurus menuju arah Rs. Sari Asih yang juga berdekatan dengan pintu tol Serang timur, setiap incinya berjajar tiang-tiang billboard ukuran super besar tersebut. Baik itu iklan produk, himbauan, bahkan billboard bergambar (foto) para politisi yang mejeng dengan segala tulisan merupakan pencitraan produk partai dan instansinya. 

Semua itu di mata dan pikiranku sudah menjadi ‘sampah’ yang sangat mengganggu. Terutama untuk otak kita yang tanpa tidak kita sadari bahwa gambar-gambar itu telah menghipnotis kita. Gambar-gambar iklan itu kini tanpa kita sadari sudah mungkin menjadi impian sebagian dari kita. Melihat fot-foto para politisi, ada yang dengan kumis tipis melintang sedang senyum-senyum maksudnya apa juga aku tidak tahu, ada juga yang politis wanita dengan kerudung berwarna putih, kuning atau biru tampak cantik di billboard itu entah wajah aslinya seperti apa.

Ya ‘sampah-sampah’ itu mengambang di udara. Sampah-sampah itu  tidak hanya mengotori wajah kota kecilku yang kata pemimpinnya “jangan ketinggalan Jaman” meminta untuk terus mendukungnya membangun kota Serang,  kini juga mengotori ruang tempat seharusnya udara segar bebas bergerak. Melihat kotornya ruang oksigen kotaku saat ini timbul pertanyaan di kepalaku. Aku membandingkan bila banyak sampah  mengotori aliran air seperti got, sungai dan mengakibatkan aliran air  mampet pastilah saat musim penghujan datang banjir datang,  apakah akan terjadi kemampetan aliran oksigen di kotaku?dampaknya mungkin bukan banjir tapi logikaku berkata bahwa mungkin akan terjadi berkurangnya supply oksigen bebas untuk asupan pernapasan kita. Oleh karena itu seyogyanya semboyan jagalah kebersihan dan jangan membuang sampah sembarangan di darat, perlu kita gemborkan juga untuk tidak mengotori ruang udara kita. Jangan biarkan “sampah-sampah itu mengambang di udara”






gambar di atas adalah beberapa contohnya

Aku dan Deye terlebih dahulu menjemput Yeen ternyata juga membawa serta istrinya di RS. Sari Asih. Tak lama kami sudah berada di depan RS. Sari Asih dengan pedenya langsung masuk ke dalam parkiran rumah sakit. Saat itu Deye sedang sibuk menyetir mobilnya jadi tak sempat membaca sms dari Yeen. Barulah setelah masuk ke dalam lingkungan rumah sakit Dey mengecek handphonenya yang ternyata ketika dibaca Yeen menunggu kami di luar rumah sakit, tepatnya di Indomart sebelah utara rumah sakit. Terpaksa kami yang baru saja masuk parkiran harus kembali keluar lagi.

Akhirnya setalah berputar balik kami bertemu juga dengan Yeen dan istrinya. Segera saja mereka masuk ke dalam mobil lengkap sudah personil kita. Mobil diarahkan menuju pintu tol Serang timur, pelan tapi pasti kami tinggalkan kota Serang tercintaku menuju Ciputat. (Bisa jadi akan ada sambungannya :)  )
(bundwesser 28092013)

Kamis, 26 September 2013

Sebuah feature profil “Dari Berjualan Kue sampai Sukses Menjadi Seorang Wartawan“


“Setelah tidak sukses menjadi seorang karyawan di Kota Jakarta, pengalaman hidupnya menjadi seorang pedagang makanan keliling dari kampung ke kampung, dan hobinya membaca berita bola adalah awal dan motivasinya menjadi seorang wartawan”

Minggu siang itu, tanggal 22 September 2013, cuaca di sekitar desa Ciloang tempat Rumah Dunia berada, cerah tapi tidak terlalu panas. Sesekali daun-daun dari pepohonan sekitar halaman Rumah Dunia bergoyang-goyang ditiup angin, menimbulkan hawa sejuk di siang itu. Ada yang berbeda dalam pertemuan ke 8 Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan 22 kali ini, sebab didatangi oleh salah seorang wartawan Banten Raya, yang juga alumni kelas menulis Rumah Dunia angkatan ke 11 bernama Miftahudin atau Harir Baldan. Kami para peserta KMRD 22 merasa senang sebab akan ada sharing pengalaman dari mas Harir Baldan.

Harir Baldan memang hari itu sengaja diundang oleh relawan Rumah Dunia untuk mengisi materi, berbagi pengalaman, serta tips-trik mencari dan menulis berita. Sebenarnya jadwal ia sedikit padat maklum sebagai seorang wartawan dituntut untuk mendapatkan berita setiap harinya, tapi ia menyempatkan diri disela-sela padatnya jadwal ia mencari berita. Saat semua peserta KMRD 22 sudah berkumpul maka dimulailah kelas menulis itu kira-kira pukul 14:30. Peserta KMRD 22 yang hadir saat itu berjumlah sekitar 20 orang dikumpulkan di dalam sebuah gedung yang baru saja selesai dibangun dan rencananya akan dijadikan gedung pertunjukan. Dengan santai Kami duduk melingkar di lantai, di atas panggung. Hal ini terasa istimewa sebab kamilah orang yang pertama “mencicipi” gedung baru ini. Setelah semuanya duduk, segera saja ia (Harir Baldan) diminta untuk mengisi materi dan berbagi pengalaman untuk teman-teman peserta KMRD 22 yang hadir minggu siang itu.  

1. FASE BERJUALAN KUE  

Miftahudin atau biasa dipanggil Harir Baldan mulai bercerita, saat itu ketika ia masih menganggur setelah pulang dari Jakarta ke kampungnya di Ciloang, ia merasa jenuh. Sifatnya yang tak bisa berdiam diri, berlama-lama di rumah tanpa ada yang dikerjakan menjadi dorongan untuk memulai berjualan kue buatan ibunya. Awalnya Harir Baldan berpikiran bahwa dia akan merasa malu jika berjualan kue. Sebab pasti nanti ia akan bertemu banyak orang yang dikenalnya, dari teman sekolah, guru, dan mantan-mantan pacarnya, yang menurut kebanyakan orang mungkin berjualan kue bukanlah sebuah pekerjaan bagus dan menjanjikan. Ia sempat juga berpikiran bahwa jika nanti bertemu temannya saat berjualan, mungkin temannya akan malu menyapanya atau sebaliknya. Tapi semua ia tepis, mulailah Harir Baldan berjualan kue buatan ibunya itu dari kampung ke kampung. Benar saja suatu saat, ketika ia berjualan kue di suatu kampung, ia melihat seorang temannya, temannya seolah tak mengenal lalu menghindar. Tapi ada juga teman yang saat bertemu dengannya menyapa dan bertanya berkaitan dengan profesinya itu. Harir Baldan menjelaskan seadanya. Waktu berputar terasa cepat sekali bagi Harir Baldan. 

Saat mulai jenuh berjualan kue, tiba-tiba saja ia mendapat informasi tentang adanya kelas menulis di Rumah Dunia yang berlokasi dekat rumahnya. Itu pun menurutnya ia agak terlambat bergabung dalam kegiatan kelas menulis di Rumah Dunia, sebab adiknya sudah terlebih dahulu mengikuti kegiatan itu. Masuklah Harir Baldan ke dalam kegiatan kelas menulis di Rumah Dunia asuhan Gol A Gong seorang penulis terkenal. Awalnya Harir merasa minder mengikuti kegiatan itu sebab teman-temannya yang lain kebanyakan dari kalangan akademisi, seperti guru, dosen atau mahasiswa sedangkan ia hanya seorang penjual makanan keliling, dengan latar belakang pendidikan hanya lulusan STM. Harir yang anak seorang supir angkot tetap terus mengikuti kegiatan menulis di Rumah Dunia itu, pelan-pelan rasa minder itu ia tepiskan sebab motivasi dan mimpi besarnya ingin menjadi seorang wartawan bola itulah yang mendorongnya.  

2. FASE BELAJAR MENJADI WARTAWAN

Dari situlah awal pertemuan dan perkenalan ia dengan seorang Gol A Gong yang menurutnya banyak berperan dan memberikan motivasi dalam perjalanan hidupnya. Tidak sedikit kritik pedas dari Gol A Gong diberikan untuk Harir, kadang menyakiti perasaannya. Tapi ia ambil sisi positifnya dan menjadikan kritik-kritik itu sebagai cambuk untuk ia maju. Sempat suatu saat Gol A Gong berkata bahwa ia tidak pantas menjadi seorang wartawan, saat itu ada sedikit perasaan sedih di hati Harir. Namun setelah direnungkan perkataan itu ia jadikan sebgai motivasi. Juga pernah Gol A Gong berkata kepadanya bahwa kalo kamu ingin jadi seorang penulis maka ia juga harus membantunya dengan cara belajar menulis secara serius. Setelah berkata seperti itu ia diberi uang sebesar Rp. 200.000 sebagai modalnya mencari berita dan belajar menjadi wartawan. Harir berpikir untuk diapakan uang sebesar itu? akhirnya setelah berpikir cukup keras ia putuskan untuk membeli sepeda dan ia jadikan alat transportasinya dalam mencari berita.

Sejak saat itu resmilah ia menjadi seorang wartawan “pura-pura”. Mula-mula ia berpikir bahwa sebuah berita itu adalah berasal dari acara-acara ceremonial, seperti peresmian sebuah sekolah, kegiatan sebuah dinas pemerintah, atau semua yang sifatnya formalitas. Lama kelamaan ia merasa bahwa kalau hanya menunggu berita seperti itu maka akan sedikit sekali berita yang ia dapat. Kemudian ia berinisiatif untuk berkeliling dari kampung ke kampung mencari berita dengan menggunakan sepedanya. Ia selalu mengingat tips dari seorang mas Gol A Gong untuk mendapatkan berita, yaitu apabila kamu berjalan, naik sepeda, atau naik motor hendaklah kamu lihat sekitarnya sebab dari sekitar itu akan banyak berita yang bisa kamu dapat. Mulailah ia mempraktekkan itu dan hasilnya tepat sekali apa yang dikatakan mas Gol A Gong, setiap ia mengendarai sepedanya kini ia selalu melihat kanan-kiri, melihat sekitarnya. Dari situlah ia mendapat banyak berita, mulai dari jalan rusak, warga yang sakit, sampai baliho-baliho bergambar calon-calon legislatif, calon-calon walikota dan sebagainya.

Semua hal tersebut bisa menjadi tema atau bahan berita bagi kita para pekerja tinta ia menyebut profesi wartawan sebagai pekerja tinta, jelasnya saat ia berbagi pengalamannya di depan teman-teman kelas menulis angkatan 22. Proses dia menjadi seorang wartawan Banten Raya tidaklah mudah, tidak seperti membalikan tangan. Panjang sekali jalan yang harus ia tempuh untu menjadi seorang wartawan katanya menambahkan. Pernah suatu saat di tahun 2009 ia diajak oleh mas Gol A Gong ke daerah Cipanas untuk mengikuti sebuah acara yang dari acara itulah titik awal ia direfrensikan oleh Gol A Gong menjadi seorang kontributor. Mulai saat itu pelan-pelan kesempatannya untuk menjadi seorang wartawan menjadi semakin besar dan mimpinya untuk menjadi seorang wartawan bola hebat akan terwujud meskipun masih jauh. 

3. MASA KINI SEBAGAI WARTAWAN BANTEN RAYA

Barulah di tahun 2011 hingga sekarang 2013 Harir dipercaya dan diangkat menjadi seorang wartawan tetap di sebuah surat kabar harian di kota Serang bernama Banten Raya. Sebagai wartawan ia ditarget untuk mendapat berita setiap harinya lima berita. Baginya untuk memulai menulis berita yang akan ditulis, ia terlebih dahulu wajib membaca berita-berita tentang bola, sebab ia hobi sekali membaca semua berita tentang bola dan dari situlah ia terangsang untuk menulis berita lainnya. Menurutnya lagi menjadi seorang wartawan itu banyak sekali resikonya antara lain adalah mendapatkan teror, intimidasi dan ancaman. Pernah suatu ketika ia mendapat teror dari salah seorang penguasa di daerah Lebak karena ia mengangkat kasus negatif dari si penguasa itu. Tapi ia tidak takut, tidak gentar, atau mundur tutur pria gondrong ini menambahkan.
 
4. MASA DEPAN : BERCITA-CITA MENJADI WARTAWAN BOLA INTERNATIONAL

Seperti telah diceritakan Harir bahwa hobinya membaca berita bolalah yang mendorong ia ingin menjadi wartawan. Kini setelah ia menjadi seorang wartawan berita di koran harian Banten Raya, ia bersyukur kepada Allah SWT sebab telah mengangkat derajatnya yang dulu berjualan kue keliling kini telah menjadi seorang wartawan. Menurutnya wartawan, penulis cerpen, penulis buku adalah pekerjaan intelektual dan itu sangat membanggakannya. Tanpa mengurangi rasa syukurnya kepada Allah, ia tetap bertekad akan mewujudkan mimpi dan cita-cita ingin menjadi seorang wartawan bola international yang bisa meliput beritanya di luar negeri. Sebab itulah ia terus giat membaca serta menulis berita tentang pertandingan bola selain tetap menulis berita yang sudah menjadi tugasnya.  
Sebenarnya banyak sekali cerita atau pengalaman yang ingin ia bagi di kelas menulis Rumah Dunia angkatan 22 ini, namun saat dipertengahan ceritanya ia berkata bahwa tidak bisa lama sebab ada deadline berita yang harus ia selesaikan. Akhirnya dengan terpaksa ia harus mengakhiri bincang-bincang singkatnya. Harir Baldin yang saat itu berpakaian santai kaos, celana jeans, dan rambut panjangnya diikat kucir kuda berkata di akhir ceritanya bahwa “kita yang berada disini adalah orang-orang pilihan Allah” “jadi tetap bersemangat untuk mengikuti kegiatan ini sampai selesai”serunya memotivasi seraya mengakhiri waktu bersama kami dan pamit pulang.

Dengan berakhirnya bincang-bincang bersama Harir Baldin maka kegiatan kelas menulis Rumah Dunia hari itu pun diakhiri. Sekitar pukul 15:30 kami para peserta KMRD 22 satu per satu bersalaman dengan Harir Baldin sekedar untuk menambah keakraban. Setelah itu kami keluar meninggalkan ruangan gedung baru yang belum diresmikan itu. (bundwesser 22092013)

Rabu, 11 September 2013

Krakatau Writing Camp "the end of the journey"



6. it’s showtime for snorkeling (..perfect ending…) 

Training cara bersnorkeling kilat selesai, dari teori sampai prakteknya. Kami diminta kembali naik ke kapal sebab akan bersnorkeling sesungguhnya di tempat yang telah ditentukan, yaitu agak ke tengah dari bibir pantai. Tidak sampai setengah jam kami pun sampai di spot yang telah ditentukan tersebut. Di lokasi agak ke tengah laut Pulau Sebuku, tapi dengan kedalaman yang tidak terlalu dalam, mungkin sekitar 3-5 meter kedalamannya. Sudah tidak sabar aku langsung terjun dari kapal ke dalam air. Bersamaan dengan aku melompat teman-teman yang lain pun ikut meloncat dan memulai petualangan bersnorkeling, menikmati pemandangan cantik bawah laut.

saat bersnorkeling di tengah laut P. Sebuku
“ohhh…snorkeling…!” aku kegirangan, sungguh suatu pengalaman pertama yang luar biasa, yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, yang bila aku lihat liputannya di televisi begitu sangat mengintimidasi imajinasiku untuk bisa seperti itu, kini menjadi kenyataan. Aku berenang kesana kemari…saking asyiknya aku menikmati pengalaman pertamaku. Tak memperhatikan yang lainnya aku terus berenang, sesekali menenggelamkan kepalaku ke bawah untuk melihat dan menikmati keindahan yang terpampang nyata disana. Pelampung yang aku pakai membantuku memudahkan aku mengambang di permukaan air, tapi sayangnya aku jadi tak bisa menyelam ke dasar laut, sebab pelampung yang kupakai itu membuatku tetap mengambang di permukaan air. Sekali, dua kali, saat aku tenggelamkan kepalaku ke dalam air sesudahnya pasti ada air yang masuk ke dalam mulutku. “puihhh…asiinn..banget..!” aku menggerutu sambil membuka kacamataku dan membuang air laut yang masuk kedalam mulutku."Maklum..pemula” kataku menghibur diri.

Masih penasaran dengan indahnya pemandangan bawah laut, akhirnya aku coba untuk menyelam ke dasar laut agar lebih dekat memandang dan lebih dekat berada dengan mahluk-mahluk cantik, serta biota laut yang indah itu. Kubuka pelampungku, agar aku bisa menyelam ke dasar lebih dalam lagi. Berbekal kemampuanku berenang yang aku dapat saat kecil bermain dan belajar berenang di sungai belakang rumah, aku beranikan berenang dan menyelam saat ini dipengalaman pertamaku berenang di tengah laut ”..sensasional..!” Ikan-ikan kecil dengan warna-warni mencolok yang cantik, ikan dengan warna biru, kuning, orange belang putih, sayangnya aku tidak tahu persis nama ikan-ikan itu. 

Ikan-ikan itu berenang, ada yang berputar, berkeliling, naik-turun, dan ada yang beberapa mendekatiku, lucu-lucu dan cantik sekali. Rasanya ingin kutangkap ikan-ikan itu, kubawa pulang untuk kusimpan dalam akuraium, tapi sepertinya mereka lebih bahagia disini. Selain ikan-ikan yang cantik-cantik itu yang  tak kalah menarik perhatianku adalah terumbu-terumbu karang yang masih hidup, "ternyata terumbu karang itu seperti ini.."aku bergumam dalam hati, seperti tumbuhan yang hidup di dasar laut, mereka bergoyang meliuk-meliuk saat tubuhnya diterjang arus bawah laut, seksi seperti penari ular yang bergoyang. Kini aku menyaksikannya sendiri langsung dengan mata kepalaku sendiri, tidak melalui layar kaca televisi, sekali lagi ini pengalaman luar biasa pertama yang aku alami. Sayang seribu sayang tak ada kamera untuk aku ambil gambar sebagai kenang-kenanganku, sebab kameraku tak bisa digunakan di dalam air. Sayang juga, sebab tidak menggunakan tabung oksigen jadi  tidak bisa lama aku di dalam air. Aku hanya mengandalkan berapa lama aku kuat menahan nafas saat itu. Alhasil hanya 2 sampai 3 menit aku bertahan di dalam air, aku kembali naik ke atas permukaan air, sebab aku sudah mulai kehabisan nafas."Phuftt....!!" aku hembuskan nafasku keras-keras sesaat aku sampai di permukaan dan kembali bernafas normal. Aku kembali berenang di atas permukaan bergabung bersama teman-teman yang lain. Jurjani, Efri, Lia falsista, ira, Ahmad Rosyad berenang bersamaku. Kami tertawa, gembira berenang, bersnorkeling bersama-sama, sementara yang tidak ikut berenang dan bersnorkeling aku minta untuk memotret kami sebagai kenang-kenangan biar tetap exist.."woi..foto dong..!" teriakku dari permukaan laut kepada seorang teman yang berada di atas kapal.

Efri saat bersnorkeling

Ira "snorkeling time"

aku dan Jurjani

Lia falsista

Ahmad Rosyad



Saat menyelam dan menikmati pemandangan cantik di dalam  air tadi,  ada jenis ikan kecil yang warna tubuhnya cantik, orange berbelang putih sangat menarik perhatianku. Ikan ini sudah familiar buatku sebab sudah aku sering liat di film animasi yang terkenal itu “Finding Nemo”  atau clown fish, ikan ini membuat aku semakin menikmati petualanganku di dalam air tadi. Ikan yang bila dalam cerita film animasi ini diceritakan menjadi hidup seperti manusia, memiliki keluarga tapi karena suatu peristiwa anaknya terpisah dengan keluarganya dan mengalami banyak peristiwa lainnya menjadi sebuah petualangan bagi si anak ikan ini untuk bisa kembali berkumpul bersama keluarganya lagi. Sungguh sebuah cerita imajinasi yang menggugah perasaanku menonton film itu, itulah yang membuatku begitu memperhatikan clown fish ini. “Nemo aku penggemarmu..akhirnya aku bisa bertemu denganmu..!!” sayangnya aku tak bisa memotretnya.  

Hampir dua jam lamanya kami bersnorkeling ria, hingga tidak terasa waktunya berakhir juga, sebab ada tujuan selanjutnya yang harus segera kita lakukan yaitu berburu momen sunset di Pulau Umang-umang. Kami yang sebenarnya belum puas bersnorkeling ria itu terpaksa harus mengakhirinya dan kembali naik ke kapal untuk segera bergegas menuju Pulau Umang-umang...Dan berakhirlah ceritaku bersnorkeling  (this is a perfect ending)

***

Itulah sedikit cerita perjalananku bersama teman-teman dalam acara Krakatau Writing Camp yang aku akhiri dibagian snorkeling di Pulau  Sebuku. Semoga catatan cerita perjalanan ini bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi yang membaca..bila ada kekurangan atau salah-salah pemilihan kata atau data mohon dimaklumi..terima kasih.