Selasa, 10 September 2013

tulisan lama baru di posting “Warm yang sungguh panas..!”

 Warm  yang sungguh panas..!”
salah satu adegan dalam pertunjukan "warm"


Hari ini Sabtu, 15 Juni 2013, untuk kesekian kalinya aku datang lagi kesini, komunitas Salihara. Ya, Komunitas Salihara yang merupakan sebuah kantong budaya dan pusat kesenian multidisiplin swasta pertama di Indonesia, berkiprah sejak  08 Agustus 2008. Berlokasi di atas sebidang tanah seluas sekitar 3.800 m2 di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kompleks Komunitas Salihara terdiri atas tiga unit bangunan utama: Teater Salihara, Galeri Salihara, dan ruang perkantoran. Saat ini, Teater blackbox Salihara adalah satu-satunya yang ada di Indonesia. Pada saat ini kompleks Komunitas Salihara sedang diperluas dengan tambahan fasilitas untuk studio latihan, wisma seni dan amfiteater. 


Lokasi komunitas salihara ini menurutku cukup asri, seperti kita ketahui Jakarta dengan kepadatan penduduk dan rumah-rumah yang berhimpitan serta hiruk pikuk kendaraan lalu lalang, namun aku yang saat ini sedang berada  disini di lokasi komunitas, sama sekali tidak merasakan hiruk pikuk, kepadatan dan segala keruwetan Jakarta. Disini aku merasakan ketenangan, kesejukan, dan kenyamanan yang tidak kutemui di tempat-tempat biasa yang aku pernah datangi di Jakarta. Masih banyak pohon-pohon hijau sehingga apabila ada hembusan angin, udara di sekitarnya terasa sejuk. Konsep arsitekturnya juga unik dan menarik itu juga yang membuat aku merasa nyaman bila berada disini. 



Aku yang sejak sore sudah berada disini pastinya akan agak lama menunggu pertunjukan ini dimulai, tapi karena aku sudah sering ke tempat ini jadi tidak masalah buatku. Sore ini cuaca agak berawan ditambah angin semilir sering berhembus, pohon-pohon yang tumbuh disekitarnya menambah sejuk udara sore ini. Aku menghirupnya dalam-dalam, “segar sekali udaranya disini..”aku menikmatinya. Sambil menunggu waktu dibukanya pintu teater. Aku duduk di kursi di halaman belakang yang di konsep menjadi seperti sebuah taman kecil cukup asri, menikmati suasana saat itu, melihat sekeliling, memperhatikan tiap sudut area Salihara. “Sungguh suatu tempat yang mengasyikan..” dalam hatiku, sebuah tempat yang dirancang dengan unik dan banyak unsur seni didalamnya. Halaman belakang Salihara ini letaknya di sebelah ruang teater yang sebentar lagi akan digunakan untuk pertunjukan Warm. Jadi ketika pintu teater dibuka aku bisa langsung mengantri.


Baru menjelang magrib, suasana Komunitas Salihara yang berada di bilangan Pasar Minggu mulai ramai didatangi orang, sebab hari ini pertunjukan teater yaitu monolog berjudul Warm digelar. Padahal acara baru akan dimulai pukul 20:00 tetapi penonton sudah memadati area pertunjukan dan mengantri di loket pembelian tiket khawatir akan kehabisan dan tidak kebagian tiket. Benar saja..saat pintu ruang teater mulai dibuka, antriannya sudah panjang mengular hingga ke beranda Salihara. Antusias para penonton terasa begitu besar, sebab tokohnya adalah Ine Febriyanti, seorang seniman teater wanita yang masih banyak diminati para penyuka teater dan konsep pertunjukan teater yang akan digelar saat ini merupakan pertunjukan teater yang belum pernah dipentaskan di Indonesia sebelumnya. Jadi aku tak merasa heran bila pertunjukan hari ini akan dipadati oleh para penonton.

suasana penonton sesaat sebelum pertunjukan

Pertunjukan monolog Warm ini merupakan rangkaian acara Helateater (festival teater) yang akan berlangsung selama 6 minggu. Pertunjukan Warm ini diperankan oleh Sha Ine Febriyanti sebagai pemonolog dan 2 aktor dari Perancis sebagai Pendampul (pemain acrobat). Pertunjukan Warm yang di sutradarai David Bobee ini berkonsep teater circus dimainkan oleh teater Rictus yang berasal dari Perancis. Yang menarik dari pertunjukan ini adalah naskah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sedangkan para pendampul tidak mengerti bahasa Indonesia. Menurutnya dalam pementasan kali ini bahwa para pendampul tersebut hanya membaca isyarat yang dia berikan, seperti intonasi, blocking, dan isyarat-isyarat lainnya. Ine Febriyanti yang sekarang menambah nama depannya dengan Sha, mengakui bahwa dalam proses latihan ini dia hanya 3 kali bertemu untuk latihan.

Aku segera bergabung dalam antrian dan ikut mengular. Khawatir tidak kebagian tempat duduk dan feelingku pertunjukan hari ini akan penuh penontonnya, pertunjukan yang terakhir digelar dari 2 hari jadwal yang dipentaskan sejak hari Jum’at 14 Juni 2013, sehari sebelumnya. Kembali ke antrian, aku mengantri sedikit lebih cepat dari penonton lainnya, jadi aku tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Di depanku ada sekitar 5 orang yang lebih dulu mengantri. Tak lebih dari 10 menit akhirnya aku masuk ke dalam ruang teater.

Saat memasuki ruangan teater tempat Warm dipentaskan hawa panas sudah terasa sebab memang ruangan disetting panas dengan suhu 64⁰c dan tidak ada mesin pendingin (AC) yang dihidupkan, membuat para penonton kepanasan. Benar saja baru beberapa menit di dalam ruangan yang hanya  berukuran sekitar 60 x 30 m tersebut penonton sudah merasa gerah dan mencari sesuatu seperti kertas atau sejenisnya untuk mengipas-kipaskan untuk sekedar mencari angin, begitu juga aku. Tidak berapa lama ruangan pun dipenuhi penonton. Ruangan yang berkapasitas dan hanya dapat penampung sebanyak 252 orang ini, kursinya sudah penuh diduduki masing-masing para penonton. Feeling-ku ternyata benar meski kursi penonton sudah penuh masih saja ada penonton yang masuk ke dalam ruangan, akhirnya para penonton yang masuknya agak terlambat terpaksa duduk tidak di kursi melainkan di tangga-tangga samping kursi, yang dibuat menanjak. “beruntung aku masuk lebih dulu..kalau enggak aku bakal ga kebagian kursi neh” gumamku dalam hati.

Pukul 20:00 pertunjukan pun dimulai. Sha Ine Febriyanti dengan kostum seperti kostum senam berwarna hitam-hitam mulai memonologan ceritanya. Dimulai dengan ritme lambat, Sha begitu menjiwai naskah yang dimonologan tersebut. Seperti yang sudah aku katakan tadi bahwa Warm ini merupakan teater berkonsep circus teather  jadi selain Sha sebagai pemonolog akan ada 2 orang pendampul (pemain acrobat). Dialog/ucapan yang dikeluarkan dari pemonolog selain menjadi sebuah jalan cerita juga menjadi isyarat untuk pendampul-pendampul berakrobat. Semakin lama tempo yang diucapkan pemonolog semakin cepat bersamaan dengan cerita yang terdapat dalam monolog tersebut. Menurut Sha, Monolog yang diceritakan itu bercerita tentang imajinasi sensual seorang wanita terhadap laki-laki muda yang bercinta sampai puncak orgasmenya. Dan dengan sangat menjiwai dan begitu piawainya, Sha dalam memonologan ceritanya hingga seperti itulah penonton dibawa larut dalam irama imajinasi sensual pemonolog. Penonton khususnya aku ikut  larut mengikuti irama dan alur ceritanya, mulai dari irama lambat hingga irama dengan tempo yang cepat. Saking piawainya Sha bermonolog hingga aku seperti masuk dalam imajinasinya. Imajinasi sensual seorang wanita yang sedang bercinta mulai dari foreplay yang diilustrasikan melalui monolog irama lambat, hingga wanita itu mencapai klimaks dan orgasme  dengan irama monolog yang sangat cepat, ditampilkan sempurna sekali oleh Sha.

Tubuh Sha kini sudah dibanjiri dengan keringatnya lebih lagi 2 pedampul (pemain acrobat), yang bermain total penuh energi. Butuh stamina dan konsentrasi yang sangat baik buat para pendampul ini melakukan adegan-adegan dalam pertunjukan ini sebab mereka berdua ini melakukan adegan akrobatik yang menurutku penuh resiko bila dilakukan tanpa stamina dan konsentrasi tinggi. Mereka saling menopang satu sama lain berdiri satu di atas temannya, bahkan ada adegan yang harus melemparkan tubuh salah satu dari pendampul ini, dan yang satunya bertugas menangkapnya kembali agar tidak terjatuh. Sungguh suatu pertunjukan yang sangat baru dan sangat memukau khususnya buatku.

Aku yang sedang fokus memperhatikan para pendampul berakrobat menjadi tegang melihat aksi mereka. Kadang aku sedikit berteriak atau berdecak kagum saat adegan yang berbahaya itu berhasil dengan sukses dilakukan oleh para pendampul. Tidak cuma aku yang seperti itu, kudengar penonton lain pun ikut berteriak saat adegan tegang itu sedang berlangsung. Betapa tidak, adegan-adegan seperti mengangkat temannya yang berdiri ditelapak tangannya diangkat begitu saja ke atas hanya dengan kekuatan tangannya. Sungguh luar biasa. Penonton pun ikut berkeringat selain karena suhu di dalam ruangan itu memang sangat panas, adegan-adegan menegangkan itu pun menambah banyak keringat yang keluar.

Dua jam sudah pertunjukan berlangsung hingga tidak terasa pertunjukan pun akhirnya selesai juga. Tepuk tangan bergemuruh di dalam ruangan menandai betapa pertunjukan itu sangat memuaskan para penonton.  Aku dan para penonton lainnya masih tercengang-cengang melihat pertunjukan yang baru saja usai itu. Dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh hingga pakaianku ikut basah saking banyaknya keringat yang mengucur. Kami menonton ini seperti berada dalam sauna. 

Para pemain, crew-crew, serta sutradara yang terlibat dalam pertunjukan ini satu persatu dipanggil oleh Sha untuk bergabung ke atas pentas dengan tujuan sekedar beramah tamah dan mengucapkan terima kasih kepada para penonton. Satu per satu penonton dipersilahkan menyalami dan mengucakan selamat kepada para pemain termasuk aku. “mba Ine..sungguh pertunjukan yang luar biasa..!” ”kereenn mbaa….!” Sapaku saat bersalaman dengannya. “makasih dit udah datang..”jawabnya sambil tersenyum. Tak lupa aku memintanya berfoto bareng, “mba foto bareng ya…buat kenang-kenangan” kataku lagi. “oke..dit” timpalnya. “jpret…!” seperti itu suara kameraku, aku berfoto bersama mba Ine. Para penonton lain yang ikut menyapa pun tak kalah ingin berfoto dengannya.

Selesai sudah ramah tamah dan bincang-bincang singkatku dengan Sha sesaat setelah pertunjukan berakhir. Aku berpamitan dan sekali lagi mengucapkan selamat atas pertunjukan yang luar biasa tadi. Ruangan teater pun sudah mulai sepi itu juga yang aku tunggu untuk keluar ruangan, agar tidak terlalu berdesak-desakkan saat keluar dari ruangan teater itu. (the end)
(bundwesser)
foto bersama Ine Febriyanti after show
bersama salah satu pendampul after show

bersama 2 pendampul dan sutradara
  *mohon maaf apabila ada salah-salah kata dan data, mohon dikoreksi dan diperbaiki. terima kasih

2 komentar: