Selasa, 10 September 2013

misteri cemooh membawa berkah

Pagi itu cemeng menyiapkan alat-alat pancingnya, yang akhir-akhir ini menjadi rutinitasnya setelah proyek pembangunan rumah di daerah Kasemen selesai seminggu yang lalu. Cemeng sebelumnya bekerja sebagai kuli bangunan di sebuah proyek pembangunan rumah tersebut, terpaksa harus kembali menganggur karena selesainya pembangunan rumah tersebut. Kini untuk mengisi hari-harinya yang tanpa pekerjaan itu, ia menekuni kembali hobi memancingnya.
Cemeng tinggal di sebuah desa di kota Serang, bernama Kaloran, sejak kecil cemeng memang suka sekali memancing, selain sebab letaknya rumahnya dekat sekali dengan lintasan sungai Banten, ia juga seperti berbakat dalam menangkap ikan dengan pancingnya itu. Teman-teman sebayanya sewaktu ia kecil pun heran bila berbarengan dia mancing di sungai. Selalu saja dia mendapat ikan yang paling banyak dibanding teman-temannya. Anak-anak jaman dulu memang berbeda dengan jaman sekarang. Dulu itu bermain di sungai merupakan salah satu permainan yang mengasyikan dan menyenangkan. Berbeda dengan jaman sekarang anak-anak tidak ada yang terlihat bermain di sungai atau bermain dengan alam, permainan anak sekarang semuanya telah dikontaminasi dengan teknologi.

Selesai cemeng menyiapkan alat-alat pancingnya, terlihat ini dia menyiapkan sepeda motor bututnya. Sebuah sepeda motor astrea produksi tahun 90-an, ia keluarkan dari teras rumahnya. Distandarduakan motornya, kunci motor ditancapkan, diengkolnya motornya dengan maksud agar motor bisa menyala, sebab electrik staternya sudah tidak berfungsi. Satu kali engkol motor belum berhasil menyala, dua kali sama saja, "ah..dasar motor tua...,ngadat melulu neh" sedikit menggerutu kepada motornya. Sambil dicek mesin motornya, dilihat businya, selang bensinnya.."ah..ga ada masalah masih bagus.."katanya. Setelah itu dia coba engkol lagi...membaca Basmallah "Bismillahirohmannirahimmm...."serunya, ajaibnya motor itu langsung menyala...brruuuummm...!!bruummm..!! ditariknya dalam-dalam gas motor itu supaya tak mati lagi. Motor dipanaskan mesinnya selama kurang lebih 10 hingga 20 menit, begitulah ritual motor tua ini agar tak ngadat di tengah jalan nantinya.

Roda sepeda motor berputar dengan irama sedang, sebab sepeda motor cemeng ini sudah termasuk tua jadi tidak bisa dilajukan lebih cepat. Terlihat Cemeng mengarahkan laju sepeda motornya dengan santai ke arah selatan Banten, menuju Baros. Cemeng mengambil jalan memutar melewati alun-alun kemudian lurus terus, lewat Benggala, Kebon Jahe terus ke Sempu setelah itu jalan hanya lurus saja untuk bisa sampai menuju Baros. Semilir angin pagi yang sejuk itu menerpa wajahnya, mengibaskan rambutnya yang berpotongan ala reserse-reserse yang sering kita lihat di liputan buser, pendek di depan dan agak panjang di belakangnya. Wajahnya nampak senang walaupun dia tahu bahwa dari seminggu kemarin dia menganggur. "mumpung belum kerja lagi aku bisa mancing lagi neh..asyik.." dia bergumam seperti mensyukuri nasibnya. Hari ini kebetulan hari Minggu jadi tak banyak aktivitas lalu lintas di jalan menuju Baros tersebut, menambah cerah dan indah Minggu pagi ini.

Di motornya bertengger 2 buah jaron alat pancing dari bilah bambu buatan sendiri, lalu jaring, benang pancing tak lupa juga umpan yang sudah disiapkan tadi malam. Beberapa orang yang lewat saat berpapasan menyapanya "mau mancing dimana pak..?" tanya seseorang, "Di Baros mang..!!", setengah berteriak Cemeng menjawabnya. Saat di perjalanan menuju Baros itu ternyata Cemeng bertemu dengan teman tetangga desanya, yang juga bertujuan ingin memancing di tempat yang sama."woi..mi..Remi, arek mancing oge enya..?"tanya si Cemeng dengan logat sunda Serang. "Enya..meng, rek mancing di Baros.."jawab si Remi. Mereka menepi sebentar ke warung di pinggir jalan untuk membeli makanan bekal mancing nanti, mereka saling menyapa dan ngobrol



“nyaho kitu mah bareng bae tadi atuh mi..”kembali si cemeng bicara. “urang oge ieu ngadadak meng, disangka teh jadwal urang asup gawe tapi ternyata libur, geus bae urang mincing..”jawab si Remi. “ari maneh teu gawe kitu meng..?”Tanya remi. “teu, geus beres proyekna yeuh, jadi keur nganggur, matak urang mancing..hayu kaburu beurang engke sampe baros” jawab si cemeng sambil meminta untuk segera bergegas.


Setelah selesai membeli makanan untuk bekal mancingnya di warung pinggir jalan tadi, mereka segera bergegas melajukan sepeda motornya menuju tujuan mereka. Baru saja sampai  lampu merah Palima tiba-tiba motor si cemeng berhenti mesinnya, tak menyangka motornya mogok, cemeng mengengkol kembali berulang-ulang tapi tetap motornya tak mau hidup “waduh..ngadat lagi neh motorku..!!”sedikit kesal cemeng dengan motornya. Terpaksa cemeng berhenti lagi, diperiksa motornya  Remi yang akhirnya berangkat bersama Cemeng ikut berhenti dan membantu Cemeng memeriksa motornya. “coba cek busi-na meng..”kata Remi. Cemeng membuka jok motornya mengambil kunci-kunci yang memang sudah selalu standbye di motornya saking sering mogok. “enya..ieu arek ditempo ku urang busina..”jawab si cemeng sedikit panik dan repot

Dengan kunci busi, dibuka businya, dilepas dari mesin motornya. Diperiksanya busi dengan teliti sambil kadang cemeng meniup businya, "wah..pantesan mogok, businya kotor banget neh..mi!"memberitahu remi. Diambilnya kain bekas yang sudah biasa dia bawa, dibersihkan businya, sambil digosok dengan amplas agar kembali bersih dan bisa berfungsi kembali. Setelah itu dicobanya dengan menempelkan busi di besi motor, diengkol motornya terlihat percikan api listrik tanda busi itu sudah kembali berfungsi. Tanpa berlama-lama busi lalu kembali dipasang kemesin motor dan langsung dia engkol...dan..."brruummm...!!"motor hidup kembali, sambil terus digas menunggu stabil mesin motor cemeng membereskan peralatannya.

Cemeng dan Remi sudah di jalanan lagi, motornya dia laju sekencang-kencangnya sebab sudah banyak waktu yang terbuang di jalan tadi. Mulai dari berhenti membeli bekal makanan sampai terakhir motornya mogok di daerah Palima. Sekarang sudah pukul 08:00 udara sejuk khas Baros sudah mulai terasa. Semilir angin yang masih pagi terasa segar menyentuh dan membelai wajah cemeng. Untung tadi cemeng berangkat pagi sekali jadi meskipun ada gangguan diperjalanan tetap udara dan cuaca masih pagi dan masih segar.


Motor diparkir Cemeng di pinggir jalan, setelah tujuan ia memancing sampai. Di Baros ini suasananya masih ada suasana pedesaannya, jadi ada banyak lintasan sungai di dekat jalan. Sungai-sungainya pun masih jernih tidak seperti sungai-sungai sekarang yang berada di kota, sungai di kota airnya sudah keruh berwarna kecoklatan, tidak menarik lagi untuk dilihat dan dinikmati.  Itu sebabnya mengapa Cemeng hari ini memutuskan untuk memancing di daerah Baros adalah selain untuk mencari ikan sekaligus refreshing, menyegarkan pikiran dan hati menikmati udara yang sejuk, segar, air sungai yang jernih. 

Nampak kini Cemeng mencari tempat yang enak dan strategis di pinggir sungai untuk posisi dia mincing. Setelah bolak-balik mencari tempat akhirnya dia memutuskan untuk duduk di sebuah batu besar terletak di pinggir sungai agak menjorok ke dalam aliran sungai. Dengan nyaman dia duduk bersila di atas batu, tak lupa semua peralatan yang dia bawa disiapkan pula diletakan di atas batu tempat ia duduk. Begitu pula temannya si Remi yang sudah dari tadi menemukan tempat yang menurutnya strategis untuk dia memancing. “Meng, geura atuh alungkeun pancingna..!!”teriak Remi yang agak terganggu melihat cemeng tidak segera memancing.”sip..rem..tenang bae..ieu geus arek mulai..”jawab si Cemeng sambil duduk dengan tenang di atas batu.

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar