3. bergembira di atas kapal "use your imagination"
Kapal boat yang bersandar di
Pulau Sebesi perlahan bergerak mundur, mengambil ancang-ancang untuk
meninggalkan Pulau Sebesi. Debur ombak pinggir dermaga yang terkena badan kapal,
menimbulkan suara seperti memanggil dengan isyarat tepukan tangan, memberi
semangat kepada kita supaya menikmati perjalanannya.”Byyur…!!plak..!!plak…!!”
seperti itu kira-kira bila aku deskripsikan suara ombak di dermaga. Perlahan
tapi pasti kapal mulai meninggalkan dermaga Pulau Sebesi. Pohon-pohon kelapa di
pinggir pantai tertiup angin, bergoyang-goyang kompak, seperti lambaian tangan, isyarat ucapan selamat jalan kepada kita semua.”selamat jalan
teman-teman..selamat menikmati snorkelingnya ya…” seperti tau tujuan kita, imajinasiku saat melihat pohon-pohon kelapa.
“Ah….betapa tanah airku ini indah sekali, seperti surga..”gumamku sesaat setelah kupandangi lautan saat kapal sudah menjauh dari dermaga. Aroma air laut segar terasa, hembusan angin pun tak kalah segarnya, kuhirup udara dari atas kapal di tengah laut. Aku duduk di atas kapal di bawah bendera merah putih. Memang sengaja aku memilih duduk di atas kapal daripada di dalam kapal, selain di dalam kapal itu ruangannya sempit sehingga tidak bebas bergerak, juga pandangan mataku akan sangat terbatas dan aku akan kehilangan kesempatan untuk menikmati pemandangan indah yang sesungguhnya, yang belum pernah aku temui sebelumnya. Suara kapal yang lumayan memekakan telinga menjadi irama penggembira menemani petualangan kami.
“Ah….betapa tanah airku ini indah sekali, seperti surga..”gumamku sesaat setelah kupandangi lautan saat kapal sudah menjauh dari dermaga. Aroma air laut segar terasa, hembusan angin pun tak kalah segarnya, kuhirup udara dari atas kapal di tengah laut. Aku duduk di atas kapal di bawah bendera merah putih. Memang sengaja aku memilih duduk di atas kapal daripada di dalam kapal, selain di dalam kapal itu ruangannya sempit sehingga tidak bebas bergerak, juga pandangan mataku akan sangat terbatas dan aku akan kehilangan kesempatan untuk menikmati pemandangan indah yang sesungguhnya, yang belum pernah aku temui sebelumnya. Suara kapal yang lumayan memekakan telinga menjadi irama penggembira menemani petualangan kami.
Di atas kapal aku seperti dibawa
kembali ke masa lalu, ke masa kanak-kanakku. Bermain riang, gembira,
bercanda-canda bersama teman-teman seperjalanan menuju Pulau Sebuku. Kadang aku
berpindah duduk di ujung kapal untuk menikmati terjangan ombak yang saat itu
lumayan besar. Bersama Ayub teman satu homestay aku duduk persis di ujung
kapal. Aku dan Ayub pasti berteriak “yeeahhh…!” ketika ombak besar datang,
berulang-ulang seperti itu membuat kami girang bukan kepalang dan menjadi
ketagihan. “Kapal goyang kapten..!” aku berimajinasi menjadi pelaut yang sedang
berlayar. Ombak-ombak yang datang saat itu memang membuat kapal bergoyang ke
kanan dan ke kiri sungguh suatu petualangan yang seru untukku. Setelah beberapa
saat menikmati ombak aku merasa lelah kembali aku duduk di bawah bendera, tidak
hanya duduk aku rebahkan tubuhku di atas tumpukan pelampung yang memang
disediakan oleh pemilik kapal. Angin laut yang berhembus membuaiku dalam
rebahku di atas tumpukan pelampung, mungkin karena lelah tak sadar aku tertidur.
| aku saat duduk di ujung kapal |
Tidak lama mungkin 10 menit aku
sudah terbangun lagi. Kulihat tempat ku duduk di ujung kapal kini ditempati
Ayub. Sedikit kecewa sebab di ujung kapal itu adalah tempat yang paling
mengasyikkan buat aku menikmati perjalanan, tapi tidak apalah di atas sini pun
tak kalah menyenangkan. Kerianganku bersama teman-teman yang di atas juga tak
habis-habis. Biru laut, deru ombak, suara kapal, lagi biru cerah, terpaan angin
di wajahku, bagai mendapatkan hadiah yang sangat istimewa. Ditambah lagi aku
bersama teman-teman “Travel Kece” aku memanggil mereka. Cantik-cantik, membuat betah
aku duduk dekat mereka.
Sudah setengah perjalanan kami
menuju Pulau Sebuku, rasa tidak sabar ku untuk segera sampai tujuan semakin
besar. Gunung yang ditumbuhi pohon-pohon hijau sudah terlihat dari atas kapal
membuat sejuk mataku memandang. Tak bosan aku berucap kagum atas keindahan dan
kekayaan alam Indonesia yang Tuhan anugerahkan. Andai aku bisa menetap di Pulau
ini rasanya adalah anugerah yang luar biasa buatku. Tak mau menyia-nyiakan
kesempatan ku ambil kamera ku “jepret” sebanyak-banyaknya, sebab ini adalah
kesempatan langka aku menjumpai pemandangan yang begitu indah mungkin tak akan
aku bisa mengulangnya, entah satu tahun atau beberapa tahun ke depan. Begitupun
teman-teman yang lain, kulihat mereka juga asyik memotret pemandangan yang
sangat indah ini. Kulihat hasil foto di LCD kameraku, Gunung dengan pohon-pohon
hijau rimbun, dikelilingi pasir putih, dan air laut yang membiaskan beberapa
warna dari biru gelap, biru muda, dan ada juga warna hijau bias, diatasnya langit
biru semakin membuat mempesona pulau ini. Di pinggir pantai sebuah kapal
nelayan bersandar sungguh seperti sebuah lukisan sempurna Sang Maha Pencipta.
| perfect landscape |
4. Explore dan snorkeling di
Pulau Sebuku "perfect landscape..perfect island"
Kapal boat sudah hampir sampai aku
semakin tidak sabar untuk segera melompat dari kapal. Teman-teman pun bersorak
girang. “wow…cantik nian..!!” teriak aku dan teman-teman. Jangkar diturunkan, ABK
kapal (crew) turun, melepaskan tali dan mengikatkannya di batu atau di batang
pohon di pinggir pantai sebagai sandaran kapal. Setelah jangkar diturunkan,
setelah ABK kapal selesai mengikatkan talinya tidak ada alasan lagi aku
bersabar untuk segera merasakan air laut pantai Pulau Sebuku. Akhirnya perjalanan
kami sampai juga di Pulau Sebuku.
Berbeda dengan pantai-pantai yang pernah aku temui, yang letaknya dekat daratan, yang akses menuju pantainya sangat mudah, membuat banyak sekali orang mendatangi pantai, banyak orang yang berjualan, apalagi bertepatan dengan hari libur. Efeknya pantai menjadi kotor karena setiap orang yang datang membawa makanan dan sampah-sampahnya dibuang sembarangan. Seperti kita tahu bahwa tingkat kesadaran penduduk kita akan kebersihan dan kedisiplinan membuang sampah pada tempatnya ini masih rendah. “Tapi…disini, di pantai Pulau Sebuku tak terlihat sampah-sampah bergelatakan…perfect landscape..!” gumamku
| Landscape Pulau Sebuku |
Aku langsung loncat dari kapal. Air
memuncrat akibat loncatanku, saat kakiku menginjak permukaan air. Cipratan
air membasahi celana pendekku, kaosku, wajahku. Sebagian cipratannya ada yang
tak sengaja masuk ke dalam mulutku, asin rasanya tapi rasa itu kalah dengan
rasa senangku. Saking istimewanya momen ini mataku menangkapnya seperti dalam
gerak slow motion buih-buihnya jelas
sekali, saat air bergerak ke atas hingga kembali turun ke permukaan, semua terlihat jelas dalam gerak lambat. Yang aku rasakan sensasi luar biasa adalah ketika telapak kakiku
pertama kali menyentuh dasar pantai. Air laut yang saat itu terasa sejuk
menyamankan telapak kakiku. Pasir putih lembut yang kuinjak menimbulkan rasa
yang tak biasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Pasir pantai di Pulau
Sebuku berbeda sekali dengan pasir-pasir di pantai-pantai yang pernah aku
temui. Pasir di Pulau ini jelas sekali perbedaan fisiknya putih sehingga
terlihat bersih sedang pasir di pantai-pantai yang pernah kutemui warnanya hitam
jadi menimbulkan kesan gelap dan kotor. Injakkan kakiku di pasir putih ini
menimbulkan sensasi seperti dipijat oleh tangan dan jari-jari lembut bidadari…(khayalan
tingkat dewa..hehehe) "..and the journey still continue.."
| saat bermain air |
Setiap momen di Pulau Sebuku tak
pernah disia-siakan. Setiap jengkal pulau ini begitu indah tidak heran kalau
aku dan teman-teman selalu memotretnya. Mulai turun dari kapal, berjalan menuju
bibir pantai, hingga saat kami sudah di pinggir pantai. Alhasil, banyak sekali hasil foto
yang tersimpan dalam memori card
kamera digitalku jumlahnya mencapai seribu bahkan lebih. Luar biasa atau
mungkin kami adalah penganut traveler exist..setiap saat inginnya di potret..hehe,
bahkan ada momen sesaat kami turun, aku, Ira, Solita, dan Asa serta Lia Falsista yang kusebut “traveler
kece” itu sempat juga berfoto di depan kapal dengan posisi setengah berendam. Hasilnya
keren sekali, saat itu yang menjadi juru fotonya adalah Ayub. Pria yang satu
homestay denganku. Pokoknya tidak ada momen yang dilewati tanpa difoto.
| berpose berendam di depan kapal |
Aku sudah di pinggir pantai,
langkahku perlahan menapaki pasir putih pantai Pulau Sebuku. Sensasi pijatan
lembut tangan bidadari itu kembali aku rasakan ditelapak kakiku, terasa geli
tapi nikmat sekali menjalar ke seluruh tubuhku. Pulau yang tadi kulihat dari
jauh begitu indah dan cantik, kini aku sudah di dalamnya. Semakin terlihat cantik,
warna air laut, pasir putih, hijau pohon-pohon di sekelilingnya, sungguh suatu
kombinasi warna alam yang harmonis, menciptakan maha karya lukisan nyata Sang
Pencipta. Selangkah demi selangkah aku
susuri pantainya. Kumasukan jari-jari kakiku lebih dalam ke dalam pasir
menikmati lagi sensasinya. Aku ambil segenggam pasir putihnya kusimpan ke dalam
plastik sekedar untuk menjadi kenangan atau souvenir, suatu saat akan menjadi
benda pengingat bahwa aku telah datang ke pantai dan pulau yang indah ini,
Pulau Sebuku.
Sesekali aku melompat, kukepalkan
kedua tanganku, kuarahkan ke atas langit, kutengadahkan kepalaku menghadap
langit, kuteriakan kata sesukaku sebagai ekspresi betapa aku menyukai dan
menikmati alam di Pulau ini. Kusapu pandangan mataku melihat sekeliling pantai
pulau ini, tak mau se-centimeter pun
aku lewati momen ini. Kulihat teman-teman yang lain sama sepertiku menikmati
keindahan dan kegembiraan bersama-sama berfoto, bercanda-canda, dan melompat-lompat..”ah..nikmat
Tuhan mana lagi yang aku pungkiri..”gumamku.
5. sekilat training snorkeling
Setelah puas mengexplore dan
berfoto-foto mengabadikan cantiknya pemandangan pantai Pulau Sebuku. Kami dikumpulkan
semua untuk mengikuti sedikit latihan bagaimana cara bersnorkeling yang baik
dan benar. Para ABK kapal jugalah yang mengajari kita bagaimana caranya
bersnorkeling. Sebelumnya peralatan snorkeling yang terdiri dari kacamata selam
(mask), selang untuk mengatur pernafasan (snorkle), dan kaki katak (fin) untuk
berenang dibagikan masing-masing orang. “Snorkeling adalah suatu teknik
menikmati pesona keindahan dasar laut dengan peralatan dasar selam, seperti
yang telah kalian pegang masing-masing” seru ABK menjelaskan dengan nada teriak
agar terdengar oleh kami. “alat yang pertama adalah kacamata selam atau mask, cara pemakaiannya mudah yaitu tinggal
letakkan di wajah kalian seperti ini..”sambil mempraktekkan cara memakainya. “lalu
alat bantu pernafasan disini sudah langsung melekat pada kacamata..namanya snorkel”
lanjutnya, “fungsi dari snorkle adalah membantu kita bernafas di dalam air pada saat
kepala kita masuk ke dalam air..cara pakainya dengan digigit dimulut seperti
ini..!” dengan tegas si ABK menjelaskan agar kita semua paham. “oh..iya, ingat
apabila ada air yang masuk ke dalam snorkle ini tinggal ditiup saja yang keras
agar air keluar dari snorkle..”katanya seperti menggarisbawahi kalimatnya. “yang
terakhir adalah kaki katak atau fin, kaki katak ini seperti sepatu jadi ada
ukurannya disesuaikan dengan ukuran kaki masing-masing, supaya nyaman saat
berenangnya..” sesaat setelah itu ABK selesai dengan penjelasannya.
Setelah mendapat penjelasan dan
arahan dari trainer berpengalaman tadi, yang tak lain adalah para ABK kapal
kita. Kami satu per satu mencoba memakai alat-alat snorkeling yang telah kami
pegang masing-masing. Kebanyakan dari kami mengalami kesulitan pada saat
memasang mask dan snorkle (alat bantu pernafasan) sebab sebagian besar dari
kami masih awam, khususnya aku sama sekali belum pernah melihat dan memegang
langsung benda-benda itu. Trainer kemudian mendatangi kami yang kesulitan saat
memakai alat-tersebut dan membantu memakaikannya. Selesai semua dari kami
memakai alat snorkeling dengan benar, kemudian kami disuruh untuk mencoba
berenang mempraktekkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar