Kamis, 05 September 2013

Krakatau Writing Camp...and the journey is continued #2 (lanjutan)



3. bergembira di atas kapal "use your imagination"


Kapal boat yang bersandar di Pulau Sebesi perlahan bergerak mundur, mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan Pulau Sebesi. Debur ombak pinggir dermaga yang terkena badan kapal, menimbulkan suara seperti memanggil dengan isyarat tepukan tangan, memberi semangat kepada kita supaya menikmati perjalanannya.”Byyur…!!plak..!!plak…!!” seperti itu kira-kira bila aku deskripsikan suara ombak di dermaga. Perlahan tapi pasti kapal mulai meninggalkan dermaga Pulau Sebesi. Pohon-pohon kelapa di pinggir pantai tertiup angin, bergoyang-goyang kompak, seperti lambaian tangan, isyarat ucapan selamat jalan kepada kita semua.”selamat jalan teman-teman..selamat menikmati snorkelingnya ya…” seperti tau tujuan kita, imajinasiku saat melihat pohon-pohon kelapa. 

“Ah….betapa tanah airku ini indah sekali, seperti surga..”gumamku sesaat setelah kupandangi lautan saat kapal sudah menjauh dari dermaga. Aroma air laut segar terasa, hembusan angin pun tak kalah segarnya, kuhirup udara dari atas kapal di tengah laut. Aku duduk di atas kapal di bawah bendera merah putih. Memang sengaja aku memilih duduk di atas kapal daripada di dalam kapal, selain di dalam kapal itu ruangannya sempit sehingga tidak bebas bergerak, juga pandangan mataku akan sangat terbatas dan aku akan kehilangan kesempatan untuk menikmati pemandangan indah yang sesungguhnya, yang belum pernah aku temui sebelumnya. Suara kapal yang lumayan memekakan telinga menjadi irama penggembira menemani petualangan kami. 


Di atas kapal aku seperti dibawa kembali ke masa lalu, ke masa kanak-kanakku. Bermain riang, gembira, bercanda-canda bersama teman-teman seperjalanan menuju Pulau Sebuku. Kadang aku berpindah duduk di ujung kapal untuk menikmati terjangan ombak yang saat itu lumayan besar. Bersama Ayub teman satu homestay aku duduk persis di ujung kapal. Aku dan Ayub pasti berteriak “yeeahhh…!” ketika ombak besar datang, berulang-ulang seperti itu membuat kami girang bukan kepalang dan menjadi ketagihan. “Kapal goyang kapten..!” aku berimajinasi menjadi pelaut yang sedang berlayar. Ombak-ombak yang datang saat itu memang membuat kapal bergoyang ke kanan dan ke kiri sungguh suatu petualangan yang seru untukku. Setelah beberapa saat menikmati ombak aku merasa lelah kembali aku duduk di bawah bendera, tidak hanya duduk aku rebahkan tubuhku di atas tumpukan pelampung yang memang disediakan oleh pemilik kapal. Angin laut yang berhembus membuaiku dalam rebahku di atas tumpukan pelampung, mungkin karena lelah tak sadar aku tertidur.

aku saat duduk di ujung kapal
Tidak lama mungkin 10 menit aku sudah terbangun lagi. Kulihat tempat ku duduk di ujung kapal kini ditempati Ayub. Sedikit kecewa sebab di ujung kapal itu adalah tempat yang paling mengasyikkan buat aku menikmati perjalanan, tapi tidak apalah di atas sini pun tak kalah menyenangkan. Kerianganku bersama teman-teman yang di atas juga tak habis-habis. Biru laut, deru ombak, suara kapal, lagi biru cerah, terpaan angin di wajahku, bagai mendapatkan hadiah yang sangat istimewa. Ditambah lagi aku bersama teman-teman “Travel Kece” aku memanggil mereka. Cantik-cantik, membuat betah aku duduk dekat mereka.

                        



Sudah setengah perjalanan kami menuju Pulau Sebuku, rasa tidak sabar ku untuk segera sampai tujuan semakin besar. Gunung yang ditumbuhi pohon-pohon hijau sudah terlihat dari atas kapal membuat sejuk mataku memandang. Tak bosan aku berucap kagum atas keindahan dan kekayaan alam Indonesia yang Tuhan anugerahkan. Andai aku bisa menetap di Pulau ini rasanya adalah anugerah yang luar biasa buatku. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan ku ambil kamera ku “jepret” sebanyak-banyaknya, sebab ini adalah kesempatan langka aku menjumpai pemandangan yang begitu indah mungkin tak akan aku bisa mengulangnya, entah satu tahun atau beberapa tahun ke depan. Begitupun teman-teman yang lain, kulihat mereka juga asyik memotret pemandangan yang sangat indah ini. Kulihat hasil foto di LCD kameraku, Gunung dengan pohon-pohon hijau rimbun, dikelilingi pasir putih, dan air laut yang membiaskan beberapa warna dari biru gelap, biru muda, dan ada juga warna hijau bias, diatasnya langit biru semakin membuat mempesona pulau ini. Di pinggir pantai sebuah kapal nelayan bersandar sungguh seperti sebuah lukisan sempurna Sang Maha Pencipta.

perfect landscape


4. Explore dan snorkeling di Pulau Sebuku "perfect landscape..perfect island"


Kapal boat sudah hampir sampai aku semakin tidak sabar untuk segera melompat dari kapal. Teman-teman pun bersorak girang. “wow…cantik nian..!!” teriak aku dan teman-teman. Jangkar diturunkan, ABK kapal (crew) turun, melepaskan tali dan mengikatkannya di batu atau di batang pohon di pinggir pantai sebagai sandaran kapal. Setelah jangkar diturunkan, setelah ABK kapal selesai mengikatkan talinya tidak ada alasan lagi aku bersabar untuk segera merasakan air laut pantai Pulau Sebuku. Akhirnya perjalanan kami sampai juga di Pulau Sebuku.  

Pulau Sebuku adalah sebuah pulau yang terletak di selat Sunda yang terletak di sebelah selatan perairan Kabupaten Lampung Timur. Pulau ini letaknya berada di sebelah utara dari Pulau Sebesi dan timur Pulau Serdang dan pulau Legundi. Pulau ini merupakan bagian dari gugus kepulauan Sumatera Kabupaten Lampung Timur. Sebuah situs online Wikipedia menginformasikan Pulau Sebuku berada di koordinat 5°55’0”LS, LS, 105°31’0”BT. Selain itu pulau ini letaknya berada jauh dari daratan jadi untuk menuju kesana hanya dengan menggunakan transportasi kapal boat kecil saja dan karena “steril” dari kemudahan orang-orang mengakses Pulau ini. sehingga menurutku faktor ini yang membuat pantai di Pulau Sebuku menjadi bersih.

Berbeda dengan pantai-pantai yang pernah aku temui, yang letaknya dekat daratan, yang akses menuju pantainya sangat mudah, membuat banyak sekali orang mendatangi pantai, banyak orang yang berjualan, apalagi bertepatan dengan hari libur. Efeknya pantai menjadi kotor karena setiap orang yang datang membawa makanan dan sampah-sampahnya dibuang sembarangan. Seperti kita tahu bahwa tingkat kesadaran penduduk kita akan kebersihan dan kedisiplinan membuang sampah pada tempatnya ini masih rendah. “Tapi…disini, di pantai Pulau Sebuku tak terlihat sampah-sampah bergelatakan…perfect landscape..!” gumamku
Landscape Pulau Sebuku


Aku langsung loncat dari kapal. Air memuncrat akibat loncatanku, saat kakiku menginjak permukaan air. Cipratan air membasahi celana pendekku, kaosku, wajahku. Sebagian cipratannya ada yang tak sengaja masuk ke dalam mulutku, asin rasanya tapi rasa itu kalah dengan rasa senangku. Saking istimewanya momen ini mataku menangkapnya seperti dalam gerak slow motion buih-buihnya jelas sekali, saat air bergerak ke atas hingga kembali turun ke permukaan, semua terlihat jelas dalam gerak lambat. Yang aku rasakan sensasi luar biasa adalah ketika telapak kakiku pertama kali menyentuh dasar pantai. Air laut yang saat itu terasa sejuk menyamankan telapak kakiku. Pasir putih lembut yang kuinjak menimbulkan rasa yang tak biasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Pasir pantai di Pulau Sebuku berbeda sekali dengan pasir-pasir di pantai-pantai yang pernah aku temui. Pasir di Pulau ini jelas sekali perbedaan fisiknya putih sehingga terlihat bersih sedang pasir di pantai-pantai yang pernah kutemui warnanya hitam jadi menimbulkan kesan gelap dan kotor. Injakkan kakiku di pasir putih ini menimbulkan sensasi seperti dipijat oleh tangan dan jari-jari lembut bidadari…(khayalan tingkat dewa..hehehe) "..and the journey still continue.."

saat bermain air

Setiap momen di Pulau Sebuku tak pernah disia-siakan. Setiap jengkal pulau ini begitu indah tidak heran kalau aku dan teman-teman selalu memotretnya. Mulai turun dari kapal, berjalan menuju bibir pantai, hingga saat kami sudah di pinggir pantai. Alhasil, banyak sekali hasil foto yang tersimpan dalam memori card kamera digitalku jumlahnya mencapai seribu bahkan lebih. Luar biasa atau mungkin kami adalah penganut traveler exist..setiap saat inginnya di potret..hehe, bahkan ada momen sesaat kami turun, aku, Ira, Solita, dan Asa serta Lia Falsista yang kusebut “traveler kece” itu sempat juga berfoto di depan kapal dengan posisi setengah berendam. Hasilnya keren sekali, saat itu yang menjadi juru fotonya adalah Ayub. Pria yang satu homestay denganku. Pokoknya tidak ada momen yang dilewati tanpa difoto.

berpose berendam di depan kapal



Aku sudah di pinggir pantai, langkahku perlahan menapaki pasir putih pantai Pulau Sebuku. Sensasi pijatan lembut tangan bidadari itu kembali aku rasakan ditelapak kakiku, terasa geli tapi nikmat sekali menjalar ke seluruh tubuhku. Pulau yang tadi kulihat dari jauh begitu indah dan cantik, kini aku sudah di dalamnya. Semakin terlihat cantik, warna air laut, pasir putih, hijau pohon-pohon di sekelilingnya, sungguh suatu kombinasi warna alam yang harmonis, menciptakan maha karya lukisan nyata Sang Pencipta. Selangkah  demi selangkah aku susuri pantainya. Kumasukan jari-jari kakiku lebih dalam ke dalam pasir menikmati lagi sensasinya. Aku ambil segenggam pasir putihnya kusimpan ke dalam plastik sekedar untuk menjadi kenangan atau souvenir, suatu saat akan menjadi benda pengingat bahwa aku telah datang ke pantai dan pulau yang indah ini, Pulau Sebuku.


Sesekali aku melompat, kukepalkan kedua tanganku, kuarahkan ke atas langit, kutengadahkan kepalaku menghadap langit, kuteriakan kata sesukaku sebagai ekspresi betapa aku menyukai dan menikmati alam di Pulau ini. Kusapu pandangan mataku melihat sekeliling pantai pulau ini, tak mau se-centimeter pun aku lewati momen ini. Kulihat teman-teman yang lain sama sepertiku menikmati keindahan dan kegembiraan bersama-sama berfoto, bercanda-canda, dan melompat-lompat..”ah..nikmat Tuhan mana lagi yang aku pungkiri..”gumamku.




5. sekilat training snorkeling


Setelah puas mengexplore dan berfoto-foto mengabadikan cantiknya pemandangan pantai Pulau Sebuku. Kami dikumpulkan semua untuk mengikuti sedikit latihan bagaimana cara bersnorkeling yang baik dan benar. Para ABK kapal jugalah yang mengajari kita bagaimana caranya bersnorkeling. Sebelumnya peralatan snorkeling yang terdiri dari kacamata selam (mask), selang untuk mengatur pernafasan (snorkle), dan kaki katak (fin) untuk berenang dibagikan masing-masing orang. “Snorkeling adalah suatu teknik menikmati pesona keindahan dasar laut dengan peralatan dasar selam, seperti yang telah kalian pegang masing-masing” seru ABK menjelaskan dengan nada teriak agar terdengar oleh kami. “alat yang pertama adalah kacamata selam atau  mask, cara pemakaiannya mudah yaitu tinggal letakkan di wajah kalian seperti ini..”sambil mempraktekkan cara memakainya. “lalu alat bantu pernafasan disini sudah langsung melekat pada kacamata..namanya snorkel” lanjutnya, “fungsi dari snorkle  adalah membantu kita bernafas di dalam air pada saat kepala kita masuk ke dalam air..cara pakainya dengan digigit dimulut seperti ini..!” dengan tegas si ABK menjelaskan agar kita semua paham. “oh..iya, ingat apabila ada air yang masuk ke dalam snorkle ini tinggal ditiup saja yang keras agar air keluar dari snorkle..”katanya seperti menggarisbawahi kalimatnya. “yang terakhir adalah kaki katak atau fin, kaki katak ini seperti sepatu jadi ada ukurannya disesuaikan dengan ukuran kaki masing-masing, supaya nyaman saat berenangnya..” sesaat setelah itu ABK selesai dengan penjelasannya.


Setelah mendapat penjelasan dan arahan dari trainer berpengalaman tadi, yang tak lain adalah para ABK kapal kita. Kami satu per satu mencoba memakai alat-alat snorkeling yang telah kami pegang masing-masing. Kebanyakan dari kami mengalami kesulitan pada saat memasang mask dan snorkle (alat bantu pernafasan) sebab sebagian besar dari kami masih awam, khususnya aku sama sekali belum pernah melihat dan memegang langsung benda-benda itu. Trainer kemudian mendatangi kami yang kesulitan saat memakai alat-tersebut dan membantu memakaikannya. Selesai semua dari kami memakai alat snorkeling dengan benar, kemudian kami disuruh untuk mencoba berenang mempraktekkannya.

 
training snorkeling kilat
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar