“Setelah tidak
sukses menjadi seorang karyawan di Kota Jakarta, pengalaman hidupnya menjadi
seorang pedagang makanan keliling dari kampung ke kampung, dan hobinya membaca
berita bola adalah awal dan motivasinya menjadi seorang wartawan”
Minggu siang itu, tanggal 22 September 2013, cuaca di sekitar desa Ciloang tempat Rumah Dunia berada, cerah tapi tidak terlalu panas. Sesekali daun-daun dari pepohonan sekitar halaman Rumah Dunia bergoyang-goyang ditiup angin, menimbulkan hawa sejuk di siang itu. Ada yang berbeda dalam pertemuan ke 8 Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan 22 kali ini, sebab didatangi oleh salah seorang wartawan Banten Raya, yang juga alumni kelas menulis Rumah Dunia angkatan ke 11 bernama Miftahudin atau Harir Baldan. Kami para peserta KMRD 22 merasa senang sebab akan ada sharing pengalaman dari mas Harir Baldan.
Harir Baldan memang hari itu sengaja diundang oleh relawan Rumah Dunia untuk mengisi materi, berbagi pengalaman, serta tips-trik mencari dan menulis berita. Sebenarnya jadwal ia sedikit padat maklum sebagai seorang wartawan dituntut untuk mendapatkan berita setiap harinya, tapi ia menyempatkan diri disela-sela padatnya jadwal ia mencari berita. Saat semua peserta KMRD 22 sudah berkumpul maka dimulailah kelas menulis itu kira-kira pukul 14:30. Peserta KMRD 22 yang hadir saat itu berjumlah sekitar 20 orang dikumpulkan di dalam sebuah gedung yang baru saja selesai dibangun dan rencananya akan dijadikan gedung pertunjukan. Dengan santai Kami duduk melingkar di lantai, di atas panggung. Hal ini terasa istimewa sebab kamilah orang yang pertama “mencicipi” gedung baru ini. Setelah semuanya duduk, segera saja ia (Harir Baldan) diminta untuk mengisi materi dan berbagi pengalaman untuk teman-teman peserta KMRD 22 yang hadir minggu siang itu.
1.
FASE BERJUALAN KUE
Miftahudin atau biasa dipanggil Harir Baldan mulai bercerita,
saat itu ketika ia masih menganggur setelah pulang dari Jakarta ke kampungnya
di Ciloang, ia merasa jenuh. Sifatnya yang tak bisa berdiam diri, berlama-lama
di rumah tanpa ada yang dikerjakan menjadi dorongan untuk memulai berjualan kue
buatan ibunya. Awalnya Harir Baldan berpikiran bahwa dia akan merasa malu jika
berjualan kue. Sebab pasti nanti ia akan bertemu banyak orang yang dikenalnya,
dari teman sekolah, guru, dan mantan-mantan pacarnya, yang menurut kebanyakan
orang mungkin berjualan kue bukanlah sebuah pekerjaan bagus dan menjanjikan. Ia
sempat juga berpikiran bahwa jika nanti bertemu temannya saat berjualan,
mungkin temannya akan malu menyapanya atau sebaliknya. Tapi semua ia tepis,
mulailah Harir Baldan berjualan kue buatan ibunya itu dari kampung ke kampung.
Benar saja suatu saat, ketika ia berjualan kue di suatu kampung, ia melihat
seorang temannya, temannya seolah tak mengenal lalu menghindar. Tapi ada juga
teman yang saat bertemu dengannya menyapa dan bertanya berkaitan dengan
profesinya itu. Harir Baldan menjelaskan seadanya. Waktu
berputar terasa cepat sekali bagi Harir Baldan.
Saat mulai jenuh berjualan kue, tiba-tiba saja ia mendapat
informasi tentang adanya kelas menulis di Rumah Dunia yang berlokasi dekat
rumahnya. Itu pun menurutnya ia agak terlambat bergabung dalam kegiatan kelas
menulis di Rumah Dunia, sebab adiknya sudah terlebih dahulu mengikuti kegiatan itu.
Masuklah Harir Baldan ke dalam kegiatan kelas menulis di Rumah Dunia asuhan Gol
A Gong seorang penulis terkenal. Awalnya Harir merasa minder mengikuti kegiatan
itu sebab teman-temannya yang lain kebanyakan dari kalangan akademisi, seperti
guru, dosen atau mahasiswa sedangkan ia hanya seorang penjual makanan keliling,
dengan latar belakang pendidikan hanya lulusan STM. Harir yang anak seorang
supir angkot tetap terus mengikuti kegiatan menulis di Rumah Dunia itu,
pelan-pelan rasa minder itu ia tepiskan sebab motivasi dan mimpi besarnya ingin
menjadi seorang wartawan bola itulah yang mendorongnya.
2. FASE BELAJAR MENJADI
WARTAWAN
Dari situlah
awal pertemuan dan perkenalan ia dengan seorang Gol A Gong yang menurutnya
banyak berperan dan memberikan motivasi dalam perjalanan hidupnya. Tidak
sedikit kritik pedas dari Gol A Gong diberikan untuk Harir, kadang menyakiti
perasaannya. Tapi ia ambil sisi positifnya dan menjadikan kritik-kritik itu
sebagai cambuk untuk ia maju. Sempat suatu saat Gol A Gong berkata bahwa ia tidak
pantas menjadi seorang wartawan, saat itu ada sedikit perasaan sedih di hati
Harir. Namun setelah direnungkan perkataan itu ia jadikan sebgai motivasi. Juga
pernah Gol A Gong berkata kepadanya bahwa kalo kamu ingin jadi seorang penulis maka
ia juga harus membantunya dengan cara belajar menulis secara serius. Setelah
berkata seperti itu ia diberi uang sebesar Rp. 200.000 sebagai modalnya mencari
berita dan belajar menjadi wartawan. Harir berpikir untuk diapakan uang sebesar
itu? akhirnya setelah berpikir cukup keras ia putuskan untuk membeli sepeda dan
ia jadikan alat transportasinya dalam mencari berita.
Sejak saat itu resmilah ia menjadi seorang wartawan “pura-pura”. Mula-mula ia berpikir bahwa sebuah berita itu adalah berasal dari acara-acara ceremonial, seperti peresmian sebuah sekolah, kegiatan sebuah dinas pemerintah, atau semua yang sifatnya formalitas. Lama kelamaan ia merasa bahwa kalau hanya menunggu berita seperti itu maka akan sedikit sekali berita yang ia dapat. Kemudian ia berinisiatif untuk berkeliling dari kampung ke kampung mencari berita dengan menggunakan sepedanya. Ia selalu mengingat tips dari seorang mas Gol A Gong untuk mendapatkan berita, yaitu apabila kamu berjalan, naik sepeda, atau naik motor hendaklah kamu lihat sekitarnya sebab dari sekitar itu akan banyak berita yang bisa kamu dapat. Mulailah ia mempraktekkan itu dan hasilnya tepat sekali apa yang dikatakan mas Gol A Gong, setiap ia mengendarai sepedanya kini ia selalu melihat kanan-kiri, melihat sekitarnya. Dari situlah ia mendapat banyak berita, mulai dari jalan rusak, warga yang sakit, sampai baliho-baliho bergambar calon-calon legislatif, calon-calon walikota dan sebagainya.
Semua hal tersebut bisa menjadi tema atau bahan berita bagi kita para pekerja tinta ia menyebut profesi wartawan sebagai pekerja tinta, jelasnya saat ia berbagi pengalamannya di depan teman-teman kelas menulis angkatan 22. Proses dia menjadi seorang wartawan Banten Raya tidaklah mudah, tidak seperti membalikan tangan. Panjang sekali jalan yang harus ia tempuh untu menjadi seorang wartawan katanya menambahkan. Pernah suatu saat di tahun 2009 ia diajak oleh mas Gol A Gong ke daerah Cipanas untuk mengikuti sebuah acara yang dari acara itulah titik awal ia direfrensikan oleh Gol A Gong menjadi seorang kontributor. Mulai saat itu pelan-pelan kesempatannya untuk menjadi seorang wartawan menjadi semakin besar dan mimpinya untuk menjadi seorang wartawan bola hebat akan terwujud meskipun masih jauh.
3. MASA KINI SEBAGAI WARTAWAN BANTEN RAYA
Barulah di
tahun 2011 hingga sekarang 2013 Harir dipercaya dan diangkat menjadi seorang
wartawan tetap di sebuah surat kabar harian di kota Serang bernama Banten Raya.
Sebagai wartawan ia ditarget untuk mendapat berita setiap harinya lima berita.
Baginya untuk memulai menulis berita yang akan ditulis, ia terlebih dahulu
wajib membaca berita-berita tentang bola, sebab ia hobi sekali membaca semua
berita tentang bola dan dari situlah ia terangsang untuk menulis berita lainnya.
Menurutnya lagi menjadi seorang wartawan itu banyak sekali resikonya antara
lain adalah mendapatkan teror, intimidasi dan ancaman. Pernah suatu ketika ia
mendapat teror dari salah seorang penguasa di daerah Lebak karena ia mengangkat
kasus negatif dari si penguasa itu. Tapi ia tidak takut, tidak gentar, atau
mundur tutur pria gondrong ini menambahkan.
4. MASA DEPAN
: BERCITA-CITA MENJADI WARTAWAN BOLA INTERNATIONAL
Seperti telah
diceritakan Harir bahwa hobinya membaca berita bolalah yang mendorong ia ingin
menjadi wartawan. Kini setelah ia menjadi seorang wartawan berita di koran
harian Banten Raya, ia bersyukur kepada Allah SWT sebab telah mengangkat
derajatnya yang dulu berjualan kue keliling kini telah menjadi seorang
wartawan. Menurutnya wartawan, penulis cerpen, penulis buku adalah pekerjaan
intelektual dan itu sangat membanggakannya. Tanpa mengurangi rasa syukurnya
kepada Allah, ia tetap bertekad akan mewujudkan mimpi dan cita-cita ingin menjadi
seorang wartawan bola international yang bisa meliput beritanya di luar negeri.
Sebab itulah ia terus giat membaca serta menulis berita tentang pertandingan
bola selain tetap menulis berita yang sudah menjadi tugasnya.
Sebenarnya banyak sekali cerita atau pengalaman yang ingin ia
bagi di kelas menulis Rumah Dunia angkatan 22 ini, namun saat dipertengahan
ceritanya ia berkata bahwa tidak bisa lama sebab ada deadline berita yang harus
ia selesaikan. Akhirnya dengan terpaksa ia harus mengakhiri
bincang-bincang singkatnya. Harir Baldin yang saat itu berpakaian santai kaos,
celana jeans, dan rambut panjangnya diikat kucir kuda berkata di akhir
ceritanya bahwa “kita yang berada disini adalah orang-orang pilihan Allah”
“jadi tetap bersemangat untuk mengikuti kegiatan ini sampai selesai”serunya
memotivasi seraya mengakhiri waktu bersama kami dan pamit pulang.
Dengan berakhirnya bincang-bincang bersama Harir Baldin maka
kegiatan kelas menulis Rumah Dunia hari itu pun diakhiri. Sekitar pukul 15:30
kami para peserta KMRD 22 satu per satu bersalaman dengan Harir Baldin sekedar
untuk menambah keakraban. Setelah itu kami keluar meninggalkan ruangan gedung
baru yang belum diresmikan itu. (bundwesser 22092013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar