Sebuah pengamatan dengan
gaya anabel (analisis gembel)
Ditulis oleh:
bundwesser 2013
Musim penghujan mungkin sudah berlalu tapi tak sepenuhnya berlalu.
Kadang sesekali hujan turun tiba-tiba di siang bolong yang panas. Entah karena
sudah rusaknya lapisan ozon di atas langit sana atau karena sudah kehendak-Nya.
Seperti yang sering kita lihat dari televis, Koran, majalah, atau bahkan tidak
jauh di lingkungan terdekat kita disetiap musim penghujan banyak dampak negatif
hadir, misalnya saja banjir, penyakit, dan sampah-sampah. Semua itu bisa jadi
penyebabnya adalah berasal dari kita sendiri bukan musim penghujannya yang
membawa petaka.
Kali ini saya akan bercerita
sedikit tentang sampah dari pengamatan saya saat melakukan perjalanan dari
Serang menuju Ciputat itu pun dengan versi saya yang mungkin tidak ilmiah, mungkin
fiksi, atau hanya fantasi.
Matahari menyengat terasa panas
sekali, siang itu tepat sudah matahari berada di atas kepalaku. Aku menunggu di
beranda rumah, duduk santai di kursi anyaman rotan sambil menikmati segelas
kopi hitam kiriman temanku dari Bandung. Sebenarnya waktunya sangatlah tidak
tepat di siang bolong, tengah hari yang panas seperti ini aku meminum kopi
hitam panas juga. Tak heran aku menjadi merasa semakin gerah saja, hingga
berkeringat. Aku kipas-kipas mencari angin untuk mengurangi rasa gerahku, sebab
hari itu tak ada angin yang berhembus. Aku hisap rokok menemani kopiku,
tiba-tiba saja aku merasa kopi ini semakin nikmat rasanya. Saking nikmatnya
kunikmati kopi ini, hingga aku merasa di lidah, rongga, dan tenggorokanku kopi
ini menimbulkan kesan yang mendalam.
Handphone-ku yang kuletakkan di atas meja berbunyi. Sebuah pesan
singkat masuk ke dalam kotak masuk pesan. Pesan dari seorang teman lama yang
bekerja di Kalimantan, saat ini sedang cuti mengajakku untuk menemani dia pergi
ke Ciputat. Sebenarnya aku sudah hampur lupa kalau hari ini aku ada janji
dengan dia. Dit..udah siap belum?gw udah
di jalan ke rumah lu neh. Sebentar lagi sampai begitu isi pesan temanku.
“oh..iya aku lupa ya kalau hari ini ada janji sama si Deye…”gumamku. Langsung
kubalas smsnya. Ok…gw tunggu di rumah. Kulanjutkan
menikmati kopiku yang tinggal setengah.
Deye tiba di rumahku berbarengan
dengan habisnya kopi dalam gelasku. Dia turun dari mobilnya dan berjalan
mendekatiku yang masih duduk di beranda rumah. Sengaja memang aku tunggu dia
beranda agar dapat terlihat olehnya ketika turun dari mobil. Kebetulan letak rumahku berada di pinggir jalan hingga
memudahkan Deye untuk segera masuk ke halaman rumahku.
Deye yang baru dua hari tiba di
serang dalam rangka cuti dia rutin tiap bulan, menyapaku sambil bersalaman biar
kagak slack kata anak sekarang
bilang. “jam berapa mau berangkatnya?”tanyaku seraya menyilahkan duduk kepada
Deya. “tar lah, jam satu atau dua dah kita jalan, sambil tunggu Yeen juga
katanya mau ikut”jawabnya. “oke..ngopi dulu ya..gw ada kopi enak neh kiriman
teman dari bandung?”seruku menawarkan kopi kepada Deye. “boleh..boleh..”Deye
mengiyakan. Saat itu kulihat jam di dinding rumah menunjukan pukul 12:45.
“santai aja dit…Yeen katanya juga mau ikut, dia masih di jalan nanti minta
dijemput di RS. Sari Asih”meyakinkan aku untuk tidak terburu-buru.
“sippp…!”jawabku singkat
Kutinggalkan Deye ke dapur
rumahku menyiapkan kopi untuknya. Tapi sayang air panas dalam termosku ternyata
habis. Terpaksa aku harus memasak air lagi. Kusiapkan air dalam panci kecil,
sedikit saja sekedar untuk membuat segelas kopi. Kunyalakan kompor gasku,
kumasak air yang sudah kusiapkan dalam panci kecil tadi. Tak lama kemudian air
mendidih, kutuang dalam gelas yang sebelumnya sudah kusiapkan kopi. Selesailah
aku menyeduh kopi langsung kuhidangkan untuk Deye yang menunggu dengan santai
di beranda depan rumahku.
“neh..kopinya diminum, enak loh
rasanya. gw udah nyobain tadi..”kataku seperti berpromosi.
“yang bener lu..kaya apa seh
enaknya…”jawab si Deye penasaran seraya menyeruput kopinya.
“gimana…enak kan kopinya?”
tanyaku setelah Deye minum kopinya
“mantap..rasanya di lidah,
rongga, dan tenggorokan gw kaya ga mau ilang..” jawabnya menjelaskan, persis
seperti yang aku rasakan tadi waktu aku minum kopi.
Sambil ngopi kami berbincang-bincang
tentang apa saja. Tapi yang pertama kali kutanyakan adalah kapan dia datang ke Serang.
“Kapan lu datang Dey..?”tanyaku
“dua hari yang lalu…dit” jawabnya
“perasaan belum lama kemarin lu
udah cuti dey..cepet amat nah sekarang udah cuti lagi aja?” tanyaku lagi.
“iya..kemarin itu kan gw cuitnya
ga sesuai jadwal..biar bisa lebaran di sini..jadi sekarang gw cuti lagi biar
nantinya sesuai jadwal lagi”jelasnya.
“oh gitu…terus nanti ini ke
Ciputat mau ngapain?tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“mau servis mobil gw dit..” Deye
menjawab singkat.
“terus lu cuti sampe
kapan?”tanyaku lagi.
“biasa dua mingguan lah
dit..”jawabnya lagi
Setengah jam berlalu kami
berbincang macam-macam sampai tak terasa kopi di gelas Deye udah hampir habis.
Kami sengaja tidak bersegera untuk berangkat sebab menunggu Yeen temanku yang
juga teman Deye. Yeen yang tinggal di
Serdang memberi kabar lewat sms ke Deye katanya dia baru saja sampe Kramat
Watu.
“si Yeen udah jalan belum Dey?”
“udah, baru sampe Kramat katanya
Dit”
“terus keburu ga sampe ciputat
sebelum jam 5 sore?”
“keburu kok, tadi orang
bengkelnya bilang mau nungguin sampe gw datang”
“oke deh kalau begitu..”jawabku
santai
Sepuluh menit kemudian handphone
Deye berbunyi, ternyata sms dari Yeen yangmemberitahu bahwa dia sudah di RS. Sari Asih. Tak lama Kami segera bersiap-siap masuk mobil dan berangkat.
Mobil berjalan perlahan
meninggalkan rumahku kulihat jam tanganku Pukul 13:30. Kami mengambil jalan
melewati alun-alun kota yang saat itu sedang acara Banten Expo, sebuah acara
pameran. Sama sekali aku tidak tertarik ingin melihat acara itu tapi efeknya
itulah yang membuat aku jengah. Selalu membuat kemacetan sekitarnya, tidak
hanya dengan acar itu saja daerah sekitar alun-alun kota Serang menjadi macet,
bahkan hampir setiap hari, sebab alun-alun yang harusnya berfungsi sebagai
ruang terbuka umum kini tiba-tiba berubah menjadi area perdagangan. Itulah sebab
yang utama tidak suka dengan acar seperti itu. Selain itu selalu menyisakan
sampah-sampah bergelatakan dimana-mana.
Kami bergerak mengitari alun-alun
kecepatan sengaja kami lambatkan. Di dalam mobil, duduk di depan bersama Deye
memudahkan mataku untuk memandang sekitar. Saat di perjalanan menuju RS. Sari
Asih mataku begitu sangat terganggu dengan Billboard-billboard ukuran super
besar yang bagiku itu sama sekali tidak memperindah atau mempercantik wajah
kotaku malah sebaliknya. Sepanjang jalan mulai dari alun-alun terus lurus
menuju arah Rs. Sari Asih yang juga berdekatan dengan pintu tol Serang timur,
setiap incinya berjajar tiang-tiang billboard ukuran super besar tersebut. Baik
itu iklan produk, himbauan, bahkan billboard bergambar (foto) para politisi
yang mejeng dengan segala tulisan merupakan pencitraan produk partai dan
instansinya.
Semua itu di mata dan pikiranku
sudah menjadi ‘sampah’ yang sangat mengganggu. Terutama untuk otak kita yang
tanpa tidak kita sadari bahwa gambar-gambar itu telah menghipnotis kita. Gambar-gambar
iklan itu kini tanpa kita sadari sudah mungkin menjadi impian sebagian dari kita.
Melihat fot-foto para politisi, ada yang dengan kumis tipis melintang sedang senyum-senyum
maksudnya apa juga aku tidak tahu, ada juga yang politis wanita dengan kerudung
berwarna putih, kuning atau biru tampak cantik di billboard itu entah wajah
aslinya seperti apa.
Ya ‘sampah-sampah’ itu mengambang
di udara. Sampah-sampah itu tidak hanya
mengotori wajah kota kecilku yang kata pemimpinnya “jangan ketinggalan Jaman”
meminta untuk terus mendukungnya membangun kota Serang, kini juga mengotori ruang tempat seharusnya
udara segar bebas bergerak. Melihat kotornya ruang oksigen kotaku saat ini timbul
pertanyaan di kepalaku. Aku membandingkan bila banyak sampah mengotori aliran air seperti got, sungai dan mengakibatkan
aliran air mampet pastilah saat musim
penghujan datang banjir datang, apakah
akan terjadi kemampetan aliran oksigen di kotaku?dampaknya mungkin bukan banjir
tapi logikaku berkata bahwa mungkin akan terjadi berkurangnya supply oksigen
bebas untuk asupan pernapasan kita. Oleh karena itu seyogyanya semboyan jagalah
kebersihan dan jangan membuang sampah sembarangan di darat, perlu kita
gemborkan juga untuk tidak mengotori ruang udara kita. Jangan biarkan “sampah-sampah
itu mengambang di udara”
| gambar di atas adalah beberapa contohnya |
Aku dan Deye terlebih dahulu
menjemput Yeen ternyata juga membawa serta istrinya di RS. Sari Asih. Tak lama
kami sudah berada di depan RS. Sari Asih dengan pedenya langsung masuk ke dalam
parkiran rumah sakit. Saat itu Deye sedang sibuk menyetir mobilnya jadi tak
sempat membaca sms dari Yeen. Barulah setelah masuk ke dalam lingkungan rumah
sakit Dey mengecek handphonenya yang ternyata ketika dibaca Yeen menunggu kami
di luar rumah sakit, tepatnya di Indomart sebelah utara rumah sakit. Terpaksa
kami yang baru saja masuk parkiran harus kembali keluar lagi.
Akhirnya setalah berputar balik
kami bertemu juga dengan Yeen dan istrinya. Segera saja mereka masuk ke dalam
mobil lengkap sudah personil kita. Mobil diarahkan menuju pintu tol Serang
timur, pelan tapi pasti kami tinggalkan kota Serang tercintaku menuju Ciputat.
(Bisa jadi akan ada sambungannya :)
)
(bundwesser 28092013)
Pantes yaa... sampah di got nggak pernah berhasil ditanggulangi, ternyata... yang diudara itu juga sampah. tapi, tanggung jawab individu juga sih sampah got itu, tanggung jawab kita juga yang milih sampah di udara yg minta dukungan
BalasHapus