Jumat, 27 September 2013

SAMPAH ITU MENGAMBANG DI UDARA



Sebuah pengamatan dengan gaya anabel (analisis gembel)
Ditulis oleh: bundwesser 2013

Musim penghujan mungkin sudah berlalu tapi tak sepenuhnya berlalu. Kadang sesekali hujan turun tiba-tiba di siang bolong yang panas. Entah karena sudah rusaknya lapisan ozon di atas langit sana atau karena sudah kehendak-Nya. Seperti yang sering kita lihat dari televis, Koran, majalah, atau bahkan tidak jauh di lingkungan terdekat kita disetiap musim penghujan banyak dampak negatif hadir, misalnya saja banjir, penyakit, dan sampah-sampah. Semua itu bisa jadi penyebabnya adalah berasal dari kita sendiri bukan musim penghujannya yang membawa petaka.

Kali ini saya akan bercerita sedikit tentang sampah dari pengamatan saya saat melakukan perjalanan dari Serang menuju Ciputat itu pun dengan versi saya yang mungkin tidak ilmiah, mungkin fiksi, atau hanya fantasi.
Matahari menyengat terasa panas sekali, siang itu tepat sudah matahari berada di atas kepalaku. Aku menunggu di beranda rumah, duduk santai di kursi anyaman rotan sambil menikmati segelas kopi hitam kiriman temanku dari Bandung. Sebenarnya waktunya sangatlah tidak tepat di siang bolong, tengah hari yang panas seperti ini aku meminum kopi hitam panas juga. Tak heran aku menjadi merasa semakin gerah saja, hingga berkeringat. Aku kipas-kipas mencari angin untuk mengurangi rasa gerahku, sebab hari itu tak ada angin yang berhembus. Aku hisap rokok menemani kopiku, tiba-tiba saja aku merasa kopi ini semakin nikmat rasanya. Saking nikmatnya kunikmati kopi ini, hingga aku merasa di lidah, rongga, dan tenggorokanku kopi ini menimbulkan kesan yang mendalam.

Handphone-ku yang kuletakkan di atas meja berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk ke dalam kotak masuk pesan. Pesan dari seorang teman lama yang bekerja di Kalimantan, saat ini sedang cuti mengajakku untuk menemani dia pergi ke Ciputat. Sebenarnya aku sudah hampur lupa kalau hari ini aku ada janji dengan dia. Dit..udah siap belum?gw udah di jalan ke rumah lu neh. Sebentar lagi sampai begitu isi pesan temanku. “oh..iya aku lupa ya kalau hari ini ada janji sama si Deye…”gumamku. Langsung kubalas smsnya. Ok…gw tunggu di rumah. Kulanjutkan menikmati kopiku yang tinggal setengah.

Deye tiba di rumahku berbarengan dengan habisnya kopi dalam gelasku. Dia turun dari mobilnya dan berjalan mendekatiku yang masih duduk di beranda rumah. Sengaja memang aku tunggu dia beranda agar dapat terlihat olehnya ketika turun dari mobil. Kebetulan  letak rumahku berada di pinggir jalan hingga memudahkan Deye untuk segera masuk ke halaman rumahku. 

Deye yang baru dua hari tiba di serang dalam rangka cuti dia rutin tiap bulan, menyapaku sambil bersalaman biar kagak slack kata anak sekarang bilang. “jam berapa mau berangkatnya?”tanyaku seraya menyilahkan duduk kepada Deya. “tar lah, jam satu atau dua dah kita jalan, sambil tunggu Yeen juga katanya mau ikut”jawabnya. “oke..ngopi dulu ya..gw ada kopi enak neh kiriman teman dari bandung?”seruku menawarkan kopi kepada Deye. “boleh..boleh..”Deye mengiyakan. Saat itu kulihat jam di dinding rumah menunjukan pukul 12:45. “santai aja dit…Yeen katanya juga mau ikut, dia masih di jalan nanti minta dijemput di RS. Sari Asih”meyakinkan aku untuk tidak terburu-buru. “sippp…!”jawabku singkat

Kutinggalkan Deye ke dapur rumahku menyiapkan kopi untuknya. Tapi sayang air panas dalam termosku ternyata habis. Terpaksa aku harus memasak air lagi. Kusiapkan air dalam panci kecil, sedikit saja sekedar untuk membuat segelas kopi. Kunyalakan kompor gasku, kumasak air yang sudah kusiapkan dalam panci kecil tadi. Tak lama kemudian air mendidih, kutuang dalam gelas yang sebelumnya sudah kusiapkan kopi. Selesailah aku menyeduh kopi langsung kuhidangkan untuk Deye yang menunggu dengan santai di beranda depan rumahku.

“neh..kopinya diminum, enak loh rasanya. gw udah nyobain tadi..”kataku seperti berpromosi. 

“yang bener lu..kaya apa seh enaknya…”jawab si Deye penasaran seraya menyeruput kopinya.

“gimana…enak kan kopinya?” tanyaku setelah Deye minum kopinya

“mantap..rasanya di lidah, rongga, dan tenggorokan gw kaya ga mau ilang..” jawabnya menjelaskan, persis seperti yang aku rasakan tadi waktu aku minum kopi.

Sambil ngopi kami berbincang-bincang tentang apa saja. Tapi yang pertama kali kutanyakan adalah kapan dia  datang ke Serang.

“Kapan lu datang Dey..?”tanyaku

“dua hari yang lalu…dit” jawabnya

“perasaan belum lama kemarin lu udah cuti dey..cepet amat nah sekarang udah cuti lagi aja?” tanyaku lagi.

“iya..kemarin itu kan gw cuitnya ga sesuai jadwal..biar bisa lebaran di sini..jadi sekarang gw cuti lagi biar nantinya sesuai jadwal lagi”jelasnya.

“oh gitu…terus nanti ini ke Ciputat mau ngapain?tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“mau servis mobil gw dit..” Deye menjawab singkat.

“terus lu cuti sampe kapan?”tanyaku lagi.

“biasa dua mingguan lah dit..”jawabnya lagi

Setengah jam berlalu kami berbincang macam-macam sampai tak terasa kopi di gelas Deye udah hampir habis. Kami sengaja tidak bersegera untuk berangkat sebab menunggu Yeen temanku yang juga teman Deye.  Yeen yang tinggal di Serdang memberi kabar lewat sms ke Deye katanya dia baru saja sampe Kramat Watu.

“si Yeen udah jalan belum Dey?”

“udah, baru sampe Kramat katanya Dit”

“terus keburu ga sampe ciputat sebelum jam 5 sore?”

“keburu kok, tadi orang bengkelnya bilang mau nungguin sampe gw datang”

“oke deh kalau begitu..”jawabku santai 

Sepuluh menit kemudian handphone Deye berbunyi, ternyata sms dari Yeen yangmemberitahu bahwa dia sudah di RS. Sari Asih. Tak lama Kami segera bersiap-siap masuk mobil dan berangkat.

Mobil berjalan perlahan meninggalkan rumahku kulihat jam tanganku Pukul 13:30. Kami mengambil jalan melewati alun-alun kota yang saat itu sedang acara Banten Expo, sebuah acara pameran. Sama sekali aku tidak tertarik ingin melihat acara itu tapi efeknya itulah yang membuat aku jengah. Selalu membuat kemacetan sekitarnya, tidak hanya dengan acar itu saja daerah sekitar alun-alun kota Serang menjadi macet, bahkan hampir setiap hari, sebab alun-alun yang harusnya berfungsi sebagai ruang terbuka umum kini tiba-tiba berubah menjadi area perdagangan. Itulah sebab yang utama tidak suka dengan acar seperti itu. Selain itu selalu menyisakan sampah-sampah bergelatakan dimana-mana.

Kami bergerak mengitari alun-alun kecepatan sengaja kami lambatkan. Di dalam mobil, duduk di depan bersama Deye memudahkan mataku untuk memandang sekitar. Saat di perjalanan menuju RS. Sari Asih mataku begitu sangat terganggu dengan Billboard-billboard ukuran super besar yang bagiku itu sama sekali tidak memperindah atau mempercantik wajah kotaku malah sebaliknya. Sepanjang jalan mulai dari alun-alun terus lurus menuju arah Rs. Sari Asih yang juga berdekatan dengan pintu tol Serang timur, setiap incinya berjajar tiang-tiang billboard ukuran super besar tersebut. Baik itu iklan produk, himbauan, bahkan billboard bergambar (foto) para politisi yang mejeng dengan segala tulisan merupakan pencitraan produk partai dan instansinya. 

Semua itu di mata dan pikiranku sudah menjadi ‘sampah’ yang sangat mengganggu. Terutama untuk otak kita yang tanpa tidak kita sadari bahwa gambar-gambar itu telah menghipnotis kita. Gambar-gambar iklan itu kini tanpa kita sadari sudah mungkin menjadi impian sebagian dari kita. Melihat fot-foto para politisi, ada yang dengan kumis tipis melintang sedang senyum-senyum maksudnya apa juga aku tidak tahu, ada juga yang politis wanita dengan kerudung berwarna putih, kuning atau biru tampak cantik di billboard itu entah wajah aslinya seperti apa.

Ya ‘sampah-sampah’ itu mengambang di udara. Sampah-sampah itu  tidak hanya mengotori wajah kota kecilku yang kata pemimpinnya “jangan ketinggalan Jaman” meminta untuk terus mendukungnya membangun kota Serang,  kini juga mengotori ruang tempat seharusnya udara segar bebas bergerak. Melihat kotornya ruang oksigen kotaku saat ini timbul pertanyaan di kepalaku. Aku membandingkan bila banyak sampah  mengotori aliran air seperti got, sungai dan mengakibatkan aliran air  mampet pastilah saat musim penghujan datang banjir datang,  apakah akan terjadi kemampetan aliran oksigen di kotaku?dampaknya mungkin bukan banjir tapi logikaku berkata bahwa mungkin akan terjadi berkurangnya supply oksigen bebas untuk asupan pernapasan kita. Oleh karena itu seyogyanya semboyan jagalah kebersihan dan jangan membuang sampah sembarangan di darat, perlu kita gemborkan juga untuk tidak mengotori ruang udara kita. Jangan biarkan “sampah-sampah itu mengambang di udara”






gambar di atas adalah beberapa contohnya

Aku dan Deye terlebih dahulu menjemput Yeen ternyata juga membawa serta istrinya di RS. Sari Asih. Tak lama kami sudah berada di depan RS. Sari Asih dengan pedenya langsung masuk ke dalam parkiran rumah sakit. Saat itu Deye sedang sibuk menyetir mobilnya jadi tak sempat membaca sms dari Yeen. Barulah setelah masuk ke dalam lingkungan rumah sakit Dey mengecek handphonenya yang ternyata ketika dibaca Yeen menunggu kami di luar rumah sakit, tepatnya di Indomart sebelah utara rumah sakit. Terpaksa kami yang baru saja masuk parkiran harus kembali keluar lagi.

Akhirnya setalah berputar balik kami bertemu juga dengan Yeen dan istrinya. Segera saja mereka masuk ke dalam mobil lengkap sudah personil kita. Mobil diarahkan menuju pintu tol Serang timur, pelan tapi pasti kami tinggalkan kota Serang tercintaku menuju Ciputat. (Bisa jadi akan ada sambungannya :)  )
(bundwesser 28092013)

1 komentar:

  1. Pantes yaa... sampah di got nggak pernah berhasil ditanggulangi, ternyata... yang diudara itu juga sampah. tapi, tanggung jawab individu juga sih sampah got itu, tanggung jawab kita juga yang milih sampah di udara yg minta dukungan

    BalasHapus