Selasa, 26 November 2013

KAMPUNG BUDAYA RUMAH DUNIA



“disini panca inderaku dibuka seluas-luasnya
 untuk menikmati yang tidak pernah aku nikmati sebelumnya..”

Awal November 2013 ini tepatnya tanggal 8, 9, 10 merupakan 3 hari yang menyenangkan sekaligus mengesankan bagiku. Tadinya saat awal aku kembali ke kota asalku nyaris kehilangan gairah berkesenian di kota ku sendiri, sementara saat aku berkuliah tinggal di kota lain yaitu di jogja, hampir setiap hari aku disuguhkan dengan acara-acara seni dan budaya, sialnya itulah yang membuat aku terlena, terbuai hingga akhirnya kuliahku menjadi molor atau lama selesainya. 

Tapi ternyata setelah aku “berkenalan“ dengan Rumah Dunia gairah itu pelan-pelan kembali tumbuh. Setelah beberapa bulan aktif berkunjung ke Rumah Dunia geliat aku untuk berkesenian kembali meletup, ditambah di Rumah Dunia yang bergerak di dunia literasi merangsang daya imajinasiku untuk dituangkan dalam tulisan sastra atau yang lainnya.

Adalah Kelas Menulis Rumah Dunia yang saat ini sudah sampai pada angkatan ke 22 itulah awalnya aku mulai terdorong untuk menulis secara aktif. Sejujurnya aku akui bahwa kegiatan menulisku minim bahkan bisa dibilang tidak ada selain untuk tugas-tugas kuliah dan skripsi di masa lalu, namun saat aku mengikuti kegiatan kelas menulis di Rumah Dunia yang rutin dilakukan setiap minggunya selama enam bulan, akhirnya keinginan dan imajinasiku untuk menulis keluar dan aku syukuri saat ini sudah aktif menulis meskipun belum seratus persen.

Sosok Gol A Gong mau tidak mau adalah sosok yang sangat mempengaruhi dalam kegiatan tulis menulisku dan teman-teman yang aktif di Rumah Dunia. Sebab disetiap pertemuan kelas menulis atau disetiap kesempatan bertemu, selalu saja memberikan motivasi ataupun rangsangan ide-ide untuk menulis baik secara langsung atau melalui media-media social di internet. Beliau adalah orang yang sangat konsisten dibidangnya yaitu literasi, tidak heran bila sudah banyak penghargaan yang diperolehnya buah dari kerja keras dan konsistensinya tersebut.

Sekali lagi berkat kegigihan dan konsistensinya Gol A Gong bersama teman-teman yang lain tak heran juga kini Rumah Dunia berkembang, bertumbuh, dengan baik. Tiga belas tahun sudah Rumah Dunia berdiri dan diusianya yang ke tiga belas ini pula Rumah Dunia mendapatkan berkah yang luar biasa selain kini Rumah Dunia dapat mendirikan sebuah bangunan yang diperuntukan untuk kegiatan seni budaya, juga untuk kegiatan apa saja yang bermanfaat bagi semua. Bertepatan dengan itu pula Rumah Dunia mengadakan acara bisa disebut sebuah hajatan yang cukup besar dengan mengambil tema budaya. Hajatan itu diberi nama Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia digelar di awal minggu bulan November ini yaitu tanggal 8, 9, dan 10. Tiga hari berturut-turut dari pagi sampai malam kita sebagai peserta disuguhkan dengan bermacam-macam acara. Mulai dari diskusi sastra, workshop menulis, diskusi tentang perfilman, musik hingga jalan-jalan mendatangi situs-situs cagar budaya yang ada di Banten.

Tentunya bukan kali ini saja Rumah Dunia mengadakan acara-acara yang bertema dengan sastra atau yang lainnya. Hanya saja acara kali ini terasa lebih istimewa sebab kali ini acaranya di gedung ‘sendiri’ jadi tidak perlu khawatir kepanasan atau kehujanan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.Beberapa diskusi banyak digelar dalam rangkaian acara Kampung Budaya Nusantara kali ini, kadang sedikit membosankan tapi aku yakin hal-hal yang saat ini mungkin membosankan buatku suatu saat nanti akan mengendap dalam otakku dan menjadi hal yang berguna bagi proses kreatifku.

1.    Hari pertama

Sesuai jadwal yang telah ditentukan acara di hari pertama dimulai pukul 09:00 adalah rentetan beberapa Ceremonial. Mulai dari sambutan ketua yayasan Pena Dunia Rumah Dunia sampai perwakilan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Perlu diketahui juga bahwa acara kali ini mendapat dana dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Pusat. Yang istimewa buatku adalah pada saat pembukaan ini aku diberi kesempatan oleh mas Gol A Gong memberikan souvenir berupa karya lukisan wajahnya sebagai bagian dari rangkaian ceremonial pembukaan tersebut. Aku didaulat untuk naik ke panggung memberikan lukisan tersebut. Sungguh satu kehormatan yang luar biasa buatku.


ceremoni penyerahan lukisan kepada Gol A Gong


Setelah rangkaian sambutan selesai acara dilanjutkan dengan pementasan teater anak dari Rumah Dunia yang menampilkan cerita legenda Dampu Alam. Berkisah tentang seorang anak yang durhaka kepada ibunya hingga dikutuk menjadi sebuah gunung. Sekilas cerita legenda ini mirip dengan cerita legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat. Dari acara ini aku jadi tahu bahwa ternyata di Banten ada pula cerita legenda semacam ini. Kini timbul pertanyaan dikepalaku kenapa cerita legenda ini tidak banyak yang tahu bahkan aku sendiri malah lebih familiar dengan cerita legenda Malin Kundang ketimbang Dampu Awang.

Tak lama setelah itu kami peserta Kampung Budaya dihibur oleh iringan musik rebana. Grup qasidah beranggotakan delapan personil segera saja menghentakan musiknya menjadi tontonan segar bagiku sebab sudah bosan sekali dengan tontonan televisi dengan menampilkan boyband-boyband yang banyak sekali jumlahnya tiba-tiba bermunculan tapi jenis musiknya itu-itu saja. Maksud itu-itu saja adalah boyband yang yang satu dengan yang lain sama sekali tidak ada bedanya, sampai aku tidak dapat membedakan nama-namanya. Sekali lagi di acara ini aku dibukakan semua panca indra ku. Melihat, mendengar, merasakan, mencium hal-hal yang lain yang ternyata ada di dekatku tak perlu jauh-jauh mencarinya.


Kemudian dari Majelis Puisi pun ikut meramaikan suasana pembukaan hari pertama, lima orang perempuan berjilbab dengan pakaian berwarna merah hati dan hitam tampil ke panggung membacakan beberapa puisi secara berjamaah. Satu per satu dari mereka bergantian unjuk kebolehan. Oh..iya selain Kelas Menulis di Rumah Dunia ada pula sebuah kegiatan sastra lebih condong ke puisi yaitu Majelis Puisi asuhan mas Toto St. Radik.



Sore hari setelah magrib kembali kami dihibur dengan acara-acara menarik lainnya. Bedanya kali ini acara malam kami disuguhi dengan parade seni, antara lain qasidah, lagu-lagu tradisional, tarian, dan dolanan anak.

2. Hari kedua

Dihari kedua ini tidak banyak yang akan aku tulis hanya sedikit saja. Di hari kedua ini ada satu dua diskusi yang menarik buatku hingga saat ini suara pembicara itu masih terngiang-ngiang di telinga dan mengendap di kepalaku. Diskusi bertema tradisi di hari kedua begitu menarik dan sangat memberikan informasi serta ilmu yang tidak akan aku, kamu, kalian dapati dalam pendidikan formal. Maka aku patut bersyukur dapat mengikuti kegiatan diskusi dihari kedua ini.
Ada beberapa kalimat yang saya rekam dan garis bawahi saat diskusi bertema tradisi ini. Adalah kalimat yang diucapkan bapak Prof. DR. Yus Rusyana bahwa sesungguhnya bangsa kita terdahulu sudah tinggi pengetahuannya yang diterapkan dalam tradisi sehari-hari. Dalam hal kecil saja, contohnya menank nasi orang-orang tua kita terdahalu sudah tahu bagaimana prosesnya. Mulai dari meliwet, terus menanak nasi, hingga siap disajikan sudah mengerti ilmunya. Beliau menyarankan bahwa orang kreatif harus tetap melihat tradisi. Jadi meskipun menciptakan hal baru berinovasi  tetap tradisi itu dimasukan kedalamnya. Begitu pula didunia seni atau sastra (literasi) bertumpulah dari tradisi sebab itu adalah keistimewaan bangsa kita.
Dikaitkan dengan Banten Prof. Yus menyatakan bahwa orang pertama kali mendapat gelar Doktor di Indonesia adalah orang Banten yaitu tahun 1913. Itu tidak lain adalah Hussein Jayadiningrat. Beliau saat mendapat gelar Doktor di Universitas Leiden Belanda mempertahankan disertasinya dengan mengangkat tradisi Banten yang sudah dibukukan dengan judul Critische Beschouwing vande Sadjarah Banten. Mendengar itu seketika merasa bangga sebagai putra daerah Banten, ternyata bahwa Banten dahulu merupakan daerah yang sangat istimewa bahkan di bidang ilmu pengetahuan di Banten lah terlahir Doktor pertama di Indonesia…bayangkan!!tapi seketika aku juga merasa miris bila membandingkan Banten saat ini. Tidak bisakah Banten maju semaju saat itu atau kita hanya bisa membanggakan sejarah saja? Hormat setinggi-tingginya untuk bapak Hussein Jayadiningrat.
Dihari kedua ini kembali dibuka panca indraku dalam acara Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia ini.

3. Hari Ketiga

Hari ketiga adalah hari yang paling ditunggu-tunggu bagi aku atau sebagian peserta lainnya yang datang dari luar kota. Perlu diketahui ada juga peserta yang datang dari luar Banten antara lain Bandung, Jakarta, bahkan ada yang datang dari Magelang. Di hari minggu yang cukup sejuk itu agendanya adalah perjalanan kebudayaan. Kami para peserta diajak menjelalajah ke situs-situs cagar budaya yaitu Kraton Kaibon, Vihara Avalokitesvara, dan Benteng Spelwijk. Selain itu kita pun disuguhi dengan diskusi tentang sejarah Banten masa lampau dengan pembicara seorang pakar budaya dan sejarah Banten yaitu Halim HD.
Sebelum pak Halim datang menyusul kami di kraton Kaibon Koelit Ketjil yang saat itu ditunjuk sebagai tur guide Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia. Menceritakan sedikit tentang kraton Kaibon. Bahwa Kraton Kaibon ini dibangun pada masa kesultanan Banten 1526-1813. Bila dilihat dari namanya Kaibon berarti Keibuan. Jadi maksud didirikannya kraton Kaibon ini adalah diperuntukan untuk Ibunda Sultan Syaifudin yaitu Ratu Aisyah, yang pada saat itu Sultan Syaifudin masih berumur 5 tahun, masih sangat kecil untuk dapat memegang tampuk pemerintahan. Di kraton kaibon ini sudah memiliki sistem pendingin ruangan alami kalau zaman sekarang kita menyebutnya AC. Di kraton kaibon ini sistem pendingin ruangan ini teknis kerjanya yaitu dengan mengalirkan air dibagian bawah ruangan yang sengaja dibuat lebih rendah untuk tempat mengalirnya air. Air yang sifatnya cenderung dingin itu dimanfaatkan untuk mendinginkan ruangan. Sungguh sebuah pemikiran yang maju di masa itu.
Pak Halim banyak bercerita banyak tentang kejayaan Banten masa silam, tetapi tidak akan aku ceritakan banyak, hanya singkat saja. Pada masa Sultan Hasanudin. Dikatakannya bahwa Banten adalah pusat perdagangan internasional yang ramai didatangi dari berbagai Negara. Belanda, Perancis, Inggris, Portugis, bahkan dari benua Asia ada Cina dan Arab. Mengapa Banten kala itu ramai dan menjadi pusat perdagangan internasional?beliau menjelaskan selain daerah Banten merupakan tempat  strategis jalur transportasi lalu lintas kapal, Banten juga merupakan daerah yang makmur. Kaya raya sumber daya alamnya, sistem pemerintahan pada jaman itu sangat bagus, arsitektur kraton Banten merupakan hasil karya masyarakat Banten sendiri bukan oleh bangsa Belanda. Jadi dapat dibayangkan betapa Banten pada masa itu sudah merupakan daerah maju dan memiliki kebudayaan yang sangat baik. Baik ilmu pengetahuan dan masyarakatnya.
“lagi-lagi aku dibuat bangga mendengar cerita kejayaan Banten pada masa lalu..sungguh luar biasa.!!”
Tapi ada hal penting yang diingatkan oleh Pak Halim HD bahwa masyarakat Banten masayarakat yang cenderung kepada budaya lisan. Jadi tidak heran saat ini sedikit sekali tulisan-tulisan tentang sejarah Banten dapat ditemui, karena masyarakatnya tidak suka menulis. Dari hal itulah Pak Halim memberikan sedikit kalimat motivasi sebagai penyemangat kami peserta Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia. “menulislah agar kamu tidak hilang ingatan”. Sebuah kalimat singkat yang untukku pribadi bagaikan lecutan cambuk untuk terus menuliskan segala hal.
Tidak banyak yang aku tulis disini untuk acara Kampung Budaya Nusantara Rumah Dunia. Intinya bahwa aku sangat terkesan dengan acara seperti ini. Semoga akan terus berlanjut selain sebagai ajang silaturahmi bertemu dengan teman-teman lama dan teman-teman baru, acara ini sekaligus sangat bermanfaat sebagai media atau bahkan menjadi sebuah aksi untuk tetap mempertahankan, melestarikan kebudayaan masa lalu Banten yang sangat kaya dan beragam jenisnya. Sekian dan terima kasih. (Bundwesser)
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar