Selasa, 03 Desember 2013

"Rindu mbok.."


"..empat bulan sudah aku memendam rindu bertemu denganmu mbok..semoga hari ini aku dapat menjumpaimu untuk penawar rinduku.."

Tanggal tujuh belas November yang lalu aku dapat informasi bahwa mbok, (Ine Febriyanti biasa dipanggil oleh teman-teman Rumah Ilmu rintisannya) akan kembali naik pentas bermain teater di Jakarta tepatnya di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) Pasar Baru. Saat itu hari Minggu adalah pertemuan rutin bulanan bagi komunitas Rumah Ilmu berkegiatan, menjadi suatu kebetulan yang membahagiakanku juga dapat bergabung berkegiatan bersama di Rumah Ilmu. Bahwa tanggal dua puluh Sembilan November pukul 20:00 pertunjukan tersebut akan digelar begitu informasi jelasnya.

Sebelumnya aku juga mendengar bulan lalu Ine Febriyanti  juga pentas di Yogyakarta, hanya saat itu tidak berkesempatan hadir untuk menyaksikan pertunjukannya. Perlu diketahui aku mengidolakan Ine Febriyanti sejak lama, sejak ia masih aktif di televisi dan film indinya “Beth”. Namun seiring perjalanan waktu, pengalaman, idealisme dan karakternya sebagai seniman hebat, Ine Febriyanti kini memfokuskan diri di dunia teater dan sutradara film. Khususnya penyutradaraan film, filmnya “Tuhan Pada Jam Sepuluh Malam” yang diproduksi dan dipasarkan secara indipenden kini sedang banyak permintaan untuk diputar dibeberapa kota. Umumnya yang meminta filmnya diputar adalah dari teman-teman kampus dari beberapa kota. Secara alami film itu kian banyak diketahui teman-teman pencinta film. Otomatis jadwalnya semakin padat. Pembawaan yang humble disertai wajahnya yang cantik menjadi nilai tambah untuk aku semakin mengidolakannya.

Kembali kepada akan dipentaskannya sebuah pertunjukan teater di GKJ (Gedung Kesenian Jakarta), bang Jefri lah yang menginformasikan bahwa tanggal 29 November 2013 itu akan diadakan sebuah pertunjukan teater  dimana dia ikut terlibat di dalamnya. Bang Jefri Usman namanya adalah penggiat seni tari kontemporer berbasic tradisi. Pengalamannya sudah banyak sekali. Dia pernah bercerita padaku bahwa dia pernah pentas di negri Sakura Jepang.

Pertunjukan ini adalah menjadi bagian dari rangkaian acara yang diberi judul “Jakarta Berkolaborasi”. Tentu saja aku sangat antusias untuk segera menyaksikannya. Apalagi pemainnya adalah Ine Febriyanti yang notabene adalah idolaku. Pertunjukan teater ini diberi judul “Titian Asa” disutradarai oleh Dindon WS. Sebuah pertunjukan seni gabungan gerak, tarian, dan monolog berbasic tradisi.

Demi terlaksananya niatku untuk dapat menyaksikan pertunjukan tersebut, dua hari sebelumnya aku sudah persiapkan rencananya. Yaitu karena pertama aku sekarang bekerja dan berdomisili di Banten bukan di Jakarta, jadi aku harus mempersiapkan waktu dan segala hal yang berkaitan dengan akomodasi dengan baik agar tidak gagal. Kedua karena hari pertunjukan itu adalah hari kerja dan sudah kuperhitungkan lamanya waktu perjalanan dari Banten menuju Jakarta itu memakan waktu sekitar 2 jam itu belum termasuk dengan kemungkinan macet diperjalanan.

Dari pertimbangan-pertimbangan itu aku putuskan untuk berangkat siang hari pukul 13:00 setelah solat Jumat. Tentunya aku harus merayu staf HRD kantor untuk dapat ijin meninggalkan kantor. Akhirnya dengan sedikit alasan yang cukup dramatis aku diijinkan meninggalkan kantor menuju Jakarta.

Aku merasa lega dapat lepas dari birokrasi kantor, itu artinya rencanaku berhasil dan kerinduan untuk menyaksikan mbok beraksi di atas pentas akan terobati malam ini. Cukup lama aku tidak menyaksikan mba Ine Febriyanti setelah pertunjukan terakhir monolog Warm bulan Juni lalu. Dorongan rindu yang begitu besar itulah menjadi semangatku untuk datang dan menyaksikan pertunjukan nanti malam.

Pukul 13:30 aku sudah di dalam bus menuju Jakarta. Hari ini sepertinya alam dan Tuhan mendukungku penuh, aku dimudahkan segera dapat bus yang menuju Jakarta. Tak perlu menunggu lama bis dengan mudah aku hentikan dan bersedia mengangkutku, tidak seperti biasa aku pergi ke Jakarta, 15 menit itu sudah pasti aku harus menunggu bus yang bersedia membawaku. Tapi hari ini rupanya semua kebiasaan itu tidak aku jumpai sama sekali segalanya dilancarkan-Nya.

Sebuah bus Arimbi membawaku menuju Jakarta tepatnya aku menaiki bus yang menuju Kalideres, karena setahuku tidak ada bus yang langsung menuju Pasar Baru dari Serang, jadi memang harus transit terlebih dahulu di terminal dalam kota kemudian baru dilanjutkan dengan angkutan dalam kota. Kali ini pilihanku tidak berubah seperti hari-hari biasanya bila aku ke Jakarta. Angkutan dalam kota yang aku rasa nyaman adalah menggunakan Trans Jakarta atau lebih familiar dengan sebutan busway. Lagi-lagi hari ini aku sedang diuntungkan dengan keadaan. Seperti yang aku tahu biasanya halte trans Jakarta itu penuh dengan penumpang dan harus mengantri, serta lama menunggu busnya datang. Kali ini halte busway di terminal kalideres kosong dan busnya sudah standbye di depan pintu halte. Dengan tenang dan tanpa perlu berdesakan aku masuk ke dalam bus dan bebas memilih kursi mana yang mau aku duduki karena  masih banyak kursi yang kosong.

Trans Jakarta melaju perlahan meninggalkan terminal Kalideres menuju Harmoni, sebab tujuan ke Pasar Baru itu harus transit terlebih dahulu di halte harmoni lalu pindah bus yang menuju PGC. Di dalam perjalanan menuju harmoni aku terheran-heran dengan kondisi jalanan Jakarta. 15:30 saat itu begitu lengang tidak seperti biasanya, di hari Jumat seperti ini jalanan di penjuru Jakarta biasanya sudah macet tidak karuan. Sebuah keuntungan buatku yang saat itu memang perlu sesegera mungkin sampai di lokasi pertunjukan, sebab aku tak mau mengulur-ulur waktu dengan kondisi jalanan Jakarta yang serba macet dan semrawut dimana-mana.

Memang sebelum aku menuju ke GKJ perhitungan waktuku masih sempat untuk menyelesaikan urusanku terlebih dahulu di Matraman yaitu ingin mencetak kaos di tempat teman. Gambar yang kucetak dalam kaos adalah sebuah poster film karya Ine Febriyanti yang berjudul Tuhan pada Jam Sepuluh Malam.  Aku perkirakan sampai matraman pukul setengah lima sore. Memang selama diperjalanan aku sudah komunikasi melalui sms dengan temanku ini. Jadi sesaat tiba di sana dia langsung memproses pesananku. Tak perlu berlama-lama hanya satu jam pesananku selesai. Proses cetak kaos ini cepat sekali karena menggunakan mesin, tidak manual. Tujuanku membuat kaos bergambar poster film Tuhan pada Jam Sepuluh Malam adalah untuk kupamerkan kepada si mbo bila bertemu dengannya nanti malam.
Malam ini, Jumat sehabis magrib hujan baru saja berhenti tinggal rintik-rintik kecil saja, terasa romantis suasana saat itu. Lia yang sudah janjian sebelumnya denganku ingin ikut nonton pertunjukan malam ini sudah tiba sebelum magrib. Sekarang dia sudah nangkring di batangan besi di bawah tangga penyebrangan sambil tangannya lincah memainkan handphone membalas sms yang aku kirim. Aku yang baru tiba dan keluar dari pintu halte busway Pasar Baru, di atas jembatan penyebrangan tersenyum simpul menyaksikan lia yang sedikit gelisah memandang ke kanan, kiri, atas menunggu kedatanganku. Tak lama aku sudah disampingnya, menyapa sebentar dan langsung menuju GKJ yang lokasinya hanya bersebrangan dengan halte busway.

Teman-temanku yang kukabari ada beberapa yang tidak jadi menonton dengan bermacam-macam alasan. Noviero beralasan hujan besar sekali turun di daerahnya di Bekasi sana, mba Yenni tiba-tiba kepalanya sakit dimenit-menit terakhir pertunjukan akan dimulai dia memberi kabar. Akhirnya tinggal aku, Lia Falsista, Uwa, dan Ori yang benar-benar hadir untuk menyaksikan acara malam ini. Waktu masih menunjukan pukul 18:15 setelah menunaikan sholat magrib kami segera bergegas memasuki ruangan GKJ untuk mengambil beberapa tiket yang sudah kami pesan dengan menemui pihak panitia dibagian ticketing. Segera pihak panitia menyerahkan beberapa tiket yang telah kami pesan dan meminta kami untuk memasuki ruangan tempat disediakannya jamuan makan malam.

Dinner Time

Perut kami yang memang sudah keroncongan segera saja secara naluriah menuntun kami untuk mendekati meja dimana makanan-makanan disajikan. Aku khususnya, memang sedari siang belum makan akhirnya  memutuskan lebih dulu mengambil makanan. Ada beberapa jenis makanan yang disajikan di beberapa meja tersebut, aku memilih makanan yang terletak di sebelah ujung ruangan. Menu yang disajikan adalh menu makanan khas jawa gudeg. Tidak banyak nasi  kutuangkan dalam piring yang terbuat dari anyaman bambu, satu setengah centong nasi. “ah..gudeg selalu mengingatkan aku pada kota Jogja berhati nyaman” dalam hati. Kusendok sedikit krecek salah satu makanan kesukaanku. Krupuk kulit yang dibuat sayur, berlanjut daun singkong di sebelahnya, “ini dia gudegnya…!” sayur nangka dikeringkan ada rasa sedikit manis khas makanan Jawa pasti ada ras manisnya sementar kuahnya di tempatkan di wadah yang terpisah, lalu ayam gorengnya, tahunya..lengkap sudah menu yang aku racik sendiri. Selesai mengambil makanan aku menuju kursi segera makan. Lia menyusul mengambil makanan. Hanya aku dan Lia yang beruntung saat ini,karena mendapatkan jamuan makan malam selain tentunya para penonton yang kebetulan hadir sebelum acara dimulai.

show time

Makan sudah, perut kenyang sudah tapi acara belum mau dimulai sebab memang dalam jadwal acara dimulai pada pukul 20:00, sementara saat ini waktu masih menunjukan pukul 19:00 masih tersisa waktu mungkin setengah jam sebab sepanjang pengalamanku dalam menonton acara seperti ini, penonton baru akan dipersilahkan masuk setidaknya setengah jam dari waktu yang dijadwalkan. Sambil menunggu waktu dipersilahkan masuk ke dalam ruang teater, aku memutuskan untuk berbincang-bincang dengan lia di teras samping gedung.

Udara sehabis hujan tadi sedikit membuat gerah tubuhku. Jaket blue jeans Levi’s yang kukenakan kubuka untuk mengurangi rasa gerah. Kuambil sebatang rokok dan kusulut dengan korek gas seribuan..”ah..rokok Dji Sam Soe ini terasa sangat nikmat bila dihisap sehabis makan..” lagakku sudah seperti tokoh Roy saja dengan jaket dan celana blue jeans Levi’s (hehehe). Lia berdiri di sampingku dengan santai menyantap satu persatu buah-buahan pencuci mulut. Habis sebatang rokok kuhisap dan lia selesai dengan santapan cuci mulutnya, kami melihat pintu ruang pertunjukan sudah mulai dibuka dan panitia pelaksana pun telah mempersilahkan para penonton untuk masuk ke dalam.

Satu persatu kami masuk teratur mencari kursi sesuai dengan nomor yang tertera di tiket. Panitia membantu kami mencari kursi yang kami pesan. Aku, Ori dan Lia duduk berderetan di nomor S1,S3,S5. Di Gedung Kesenian Jakarta ini pengaturan tempat duduknya adalah dengan memisahkan yang ganjil dan genap. Yang angka ganjil di sebelah barat dan genap sebelah timur. Jadi kalau anda mau menyaksikan pertunjukan di GKJ ini dan ingin duduknya sederetan dengan teman anda sebaik pesan nomor kursinya ganjil semua atau genap semua. Uwa Temanku yang satu lagi sampai kami duduk di kursi penonton belum datang juga. Tapi tak lama sebuah sms dan sebuah miscall masuk ke handphone ku. Aku keluar kembali untuk menemui, memberikan tiket masuk kepada Uwa lalu kembali ke tempat duduk sebab pertunjukan akan segera dimulai.

Adik-adik kecil Nura, Zeyn (anak dari mba ine) yang tadi sempat bertemu di depan terpisah dengan rombongannya karena nomor kursinya tidak sederet. Melihat mereka terpisah dengan “induk semang” nya, sesaat sebelum dimulai aku mengajak mereka bergabung dengan aku, lia dan Ori kebetulan kursi disamping kami kosong. Setelah gamang beberapa saat sahabat kecilku Nura akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan mba Fitri sedang Zeyn memutuskan tetap bersama kami.

Tepat pukul 20:00 acara pun dimulai, seperti biasa disetiap acara seperti ini selalu diawali dengan beberapa seremonial, beberapa sambutan dari pihak-pihak terkait dan pihak penyelenggara. Bertindak sebagai MC malam ini adalah pasangan abang none Jakarta. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar