“Tuhan menyelipkan kelebihan luar biasa dikekuranganmu”
“gitarmu bagus…mainnya juga
keren..” seraya duduk disampingnya di kursi kayu panjang. Begitu awal aku
berkenalan dan selanjutnya berbincang-bincang banyak hal. Sore itu cuaca di kos-kosanku
tampak cerah tapi sejuk sebab angin semilir berhembus menyegarkan.
“ah..biasa aja bang…”jawab Rendy
sambil tersenyum tersipu-sipu.
Ya namanya Rendy, tanpa harus bertanya
sudah tampak jelas olehku bahwa Rendy tak dapat melihat. Cacat dimatanya bawaan
sejak dia dilahirkan. Begitu katanya setelah merasa cukup akrab dan nyaman
ngobrol denganku.
“oh iya abang namanya siapa?”Tanyanya
“aku..Adit” jawabku singkat
Aku yang baru saja pindah di kos
yang beralamat di JalanSugeng Jeroni Jogja, sudah seharusnya lebih banyak
bertanya dan menyapa agar dapat dikenal dan mengenal teman-teman kos yang lain.
Rendy adalah seorang pelajar saat itu duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Atas. Lokasi
sekolahnya tidak jauh dari tempat kosnya. Hanya sepeuluh menit untuk sampai di
sekolahnya denga berjalan kaki. Dia sudah dua tahun tinggal di kos itu.
“iya..bang” jawabnya.
‘oh..pantes maen gitarnya hebat…belajar
dimana ren?" lanjutku
“bang adit terlalu memuji
neh..biasa aja kali bang..aku cuma belajar sendiri ga kursus atau sekolah music”jawabnya
lagi masih sambil memainkan gitarnya.
Anak ini jago main gitarnya dalam
hatiku. Aku perhatikan baik-baik permainan gitarnya, sempurna! Memang selain aku
suka menggambar musik pun aku suka. Sedikit-sedikit bisalah main gitar hanya
saja setiap aku main gitar lagu yang kunyanyikan pasti lagu-lagu Iwan Fals. Sambil
iseng aku request lagu Iwan Fals.
“Ren bisa lagu Iwan Fals ga?”
“Lagu yang mana bang?”
“coba lagu Bento..ren..!”pintaku
Dengan lincah jarinya bermain di
tiap senar yang dia petik..wow.. permainannya persis sekali dengan lagu yang
sering kudengar dikaset. Aku malah asik memperhatikan rendy bermain gitar.
“Boleh juga aku nyontek neh main
gitarnya..”dalam hati.
“nyanyi dong bang..!”pintanya
sambil terus memainkan gitarnya konsentrasinya sama sekali tidak terganggu. Kemudian aku
bernyanyi…
“namaku bento..rumah real estate…mobilku
banyak harta berlimpah..”
Aku antusias sekali bernyanyi
diiringi permainan gitar Rendy. Permainan gitarnya itu seperti hidup dan memiliki
ruh. Hari-hari selanjutnya aku, Rendy dan teman-teman kosku semakin akrab. Selain
Rendy ada juga Dede, Yudit, dan Opik. Semuanya suka musik dan masing-masing bisa
memainkan alat musik. Kami sepakat untuk rutin berlatih musik di salah satu
studio dekat kos-kosan kami. Hingga akhirnya memutuskan untuk membuat
sebuah grup band. Kami beri nama Tiang band. Filosofisnya saat itu adalah
karena selain tempat nongkrong kami di depan kos itu ada sebuah tiang, juga tiang ini salah satu fungsinya adalah sebagai
penyangga. Dari situ kami berharap menjadi sebuah tiang yang kokoh menyangga
kehidupan kami. Mulai saat itu mungkin di pertengahan bulan Desember tahun 2002
resmilah Tiang Band dibentuk dengan formasi, aku bermain gitar akustik, harmonika sambil lead vokal,
lalu Rendy lead gitar, Yudit penabuh drum, opik rhythm gitar, terakhir Dede
bermain bass.
Setelah sering berlatih dan kepercayaan
diri kami dalam bermusik tumbuh, kami berniat untuk naik pentas. Kebetulan saat
itu bulan Desember, dimana di akhir tahun biasanya di jogja banyak sekali
acara-acara pentas musik. Adalah acara malam tahun baru kami berkesempatan naik
pentas di Kota Gede yang terkenal dengan kerajinan peraknya. Sebuah event yang
cukup meriah diselenggarakan dalam rangkaian beberapa acara menyambut tahun
baru. Ada pertunjukan kesenian tradisional juga di tempat lainnya masih di
lingkungan Kota Gede. Kami sangat bergembira saat itu setelah dinyatakan lolos
auidisi dan menjadi salah satu band pengisi acara malam tahun baru saat itu. Sampai
akhirnya acara yang ditunggu-tunggu itu
tiba dan kami berhasil dengan lancar membawakan tiga buah lagu iwan fals dengan
sempurna.
Perlu aku beritahukan bahwa
Rendylah yang mempunyai semangat bermusik tinggi selain juga memang bakat dan
skil bermain gitar dia yang mumpuni. Feeling dan intuisi bermusiknya luar biasa
bahkan kami yang diberi kesempurnaan fisik
kadang menyerah saat mendapati grip atau nada-nada yang menurut kami
sangat rumi untuk digarap. Tapi buat Rendy serumit apapun nada-nada yang
digarap jadi seperti biasa saja. Disitulah kebesaran dan keadilan Tuhan
benar-benar nyata, meskipun indera penglihatan tidak berfungsi tapi indera
pendengarannya sangat tajam. Pernah sekali aku ngetes Rendy dengan tanpa
bersuara mendekati Rendy. Tapi begitu dia langsung memanggil namaku aku jadi
kaget. Dari mana dia tau bahwa akulah yang tadi mendekatinya tanpa bersuara. Begitulah
insting dan kelebihan dari seorang Rendy yang cacat matanya. Ternyata dia tajam
mendengar bunyi atau irama langkah kakiku, merasakan getaran dari keberadaanku
yang mungkin sejak saat bertemu dan berkenalan dia sudah rekam dan hapalkan
dalam otaknya. Tidak Cuma aku dia pun hapal juga dengan irama langkah kaki
teman-teman yang lain. Luar biasa.
Suatu hari di Minggu pagi
teman-teman yang mayoritas adalah mahasiswa dan pelajar, sedang menikmati hari
liburnya. Ada yang duduk-duduk santai sambil ngopi, ada yang ngobrol
ngalor-ngidul, ada yang sibuk mencuci pakaian, maklum anak kos. Sementara Rendy
tentunya sedang bermain gitar. Kudekati dia, belum lagi aku bicara justru dia
yang menyapaku.
“di kosan aja bang hari Minggu…gak
jalan-jalan?”tanyanya
“wew…tau aja Ren aku yang datang”jawabku
sudah tidak heran dan kaget lagi
“ada apa bang..?” bertanya lagi
dia
“gitarmu itu beli dimana..kok
kayanya ga pake merk ya?”
“ini gitar bikin sendiri bang..pesen
di Solo” jawabnya
Aku yang pernah mencoba sesekali
main gitarnya tertarik untuk juga membuat sendiri. Kualitasnya bagus. Dari suaranya
yang nyaring, saat ku pegang juga rasanya mantab tidak terlalu berat tidak juga ringan, serta yang paling penting saat
senarnya dipetik itu empuk tidak membuat jari sakit.
“ada apa bang..mau pesen ya?” dia
menawarkan aku untuk memesan gitar
“emang berapaan harganya ren?”tanyaku
penasaran juga
“murah kok bang..yang 300 ribu
udah ada spulnya..bisa langsung dimainkan pake sound..”jelasnya
“ terus gimana pesennya Ren..?”
mencari tahu
“nanti saya anter abang ke Solo,
sekalian jalan-jalan bang..belum pernah kan ke Solo?” menawarkan aku untuk
bermain ke Solo.
“hah…serius kamu Ren?”tanyaku
kaget
“serius bang…”
“emang kamu hapal jalan ke Solo
nya…kamu kan ga bisa lihat gimana bisa tahu jalan ke Solo?” jawabku hampir saja
meremehkan dia.
“hapal bang ke Solo doang mah
gampang..”katanya meyakinkanku.
“wah..seru kayanya tuh Ren..oke
minggu depan anter abang ke Solo ya..”jawabku antusias.
“siap bang..”timpalnya.
Gila pikirku aku ke Solo diantar
oleh Rendy yang notabene tidak dapat melihat, bahkan aku saja yang sudah sering
keliling Jogja kadang-kadang lupa jalan padahal aku sudah pernah melewati jalan
itu. Kalau rencana ini benar-benar terlaksana sungguh suatu pengalaman yang
luar biasa dan mungkin satu-satunya di dunia. Pastinya aku sangat bersyukur
sekali mendapatkan pengalaman itu. Memang Rendy pernah bersekolah di Solo saat
dia masih duduk di bangku SMP tapi tetap saja hal ini tidak dapat masuk akalku.
Masih tidak percaya.
Kemudian hari yang aku tunggu
untuk pergi ke Solo akhirnya datang juga. Minggu pagi aku dan Rendy sudah
siap-siap berangkat menuju Solo. Benar lho ternyata Rendy hapal sekali
jalan-jalannya, bus apa, juga ongkosnya berapa. Aku yang tadi sedikit meremehkan
berubah menjadi kagum. Aku persingkat saja, mulai dari aku diantar pergi menuju
Solo menuju tempat produksi gitar hingga kembali pulang ke Jogja kondisi selamat sejahtera ga pakai acara
nyasar-nyasar segala loh. Sepanjang perjalanan aku memuji-muji Rendy terus.
“hebat kamu Rendy hapal banget
jalannya…aku kalau disuruh balik lagi sendiri pasti nyasar neh Ren..”ucapku
sambil menepuk pundaknya. Rendy hanya tersenyum dan aku
masih terkagum-kagum atas pengalaman ini.
Dibalik ketidak sempurnaan fisik
Rendy ternyata Tuhan memberikan kelebihan yang luar biasa dibanding aku yang merasa
memiliki fisik dan indera yang sempurna. Terima kasih Rendy, sekarang aku kehilangan
kontak semenjak kuliah selesai dan kembali ke Banten. Semoga suatu saat dapat
berjumpa dengan Rendy kembali. (sekian)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar