Rabu, 04 Desember 2013

The amazing Rendy



“Tuhan menyelipkan kelebihan luar biasa dikekuranganmu”

“gitarmu bagus…mainnya juga keren..” seraya duduk disampingnya di kursi kayu panjang. Begitu awal aku berkenalan dan selanjutnya berbincang-bincang banyak hal. Sore itu cuaca di kos-kosanku tampak cerah tapi sejuk sebab angin semilir berhembus menyegarkan.

“ah..biasa aja bang…”jawab Rendy sambil tersenyum tersipu-sipu. 

Ya namanya Rendy, tanpa harus bertanya sudah tampak jelas olehku bahwa Rendy tak dapat melihat. Cacat dimatanya bawaan sejak dia dilahirkan. Begitu katanya setelah merasa cukup akrab dan nyaman ngobrol denganku.

“oh iya abang namanya siapa?”Tanyanya

“aku..Adit” jawabku singkat

Aku yang baru saja pindah di kos yang beralamat di JalanSugeng Jeroni Jogja, sudah seharusnya lebih banyak bertanya dan menyapa agar dapat dikenal dan mengenal teman-teman kos yang lain. Rendy adalah seorang pelajar saat itu duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Atas. Lokasi sekolahnya tidak jauh dari tempat kosnya. Hanya sepeuluh menit untuk sampai di sekolahnya denga berjalan kaki. Dia sudah dua tahun tinggal di kos itu.

“kamu suka musik ya Ren..?”tanyaku


“iya..bang” jawabnya.

‘oh..pantes maen gitarnya hebat…belajar dimana ren?" lanjutku

“bang adit terlalu memuji neh..biasa aja kali bang..aku cuma belajar sendiri ga kursus atau sekolah music”jawabnya lagi masih sambil memainkan gitarnya.

Anak ini jago main gitarnya dalam hatiku. Aku perhatikan baik-baik permainan gitarnya, sempurna! Memang selain aku suka menggambar musik pun aku suka. Sedikit-sedikit bisalah main gitar hanya saja setiap aku main gitar lagu yang kunyanyikan pasti lagu-lagu Iwan Fals. Sambil iseng aku request lagu Iwan Fals.

“Ren bisa lagu Iwan Fals ga?”
  
“Lagu yang mana bang?” 

“coba lagu Bento..ren..!”pintaku

Dengan lincah jarinya bermain di tiap senar yang dia petik..wow.. permainannya persis sekali dengan lagu yang sering kudengar dikaset. Aku malah asik memperhatikan rendy bermain gitar. 

“Boleh juga aku nyontek neh main gitarnya..”dalam hati.

“nyanyi dong bang..!”pintanya sambil terus memainkan gitarnya konsentrasinya sama sekali tidak terganggu. Kemudian aku bernyanyi…

“namaku bento..rumah real estate…mobilku banyak harta berlimpah..”

Aku antusias sekali bernyanyi diiringi permainan gitar Rendy. Permainan gitarnya itu seperti hidup dan memiliki ruh. Hari-hari selanjutnya aku, Rendy dan teman-teman kosku semakin akrab. Selain Rendy ada juga Dede, Yudit, dan Opik. Semuanya suka musik dan masing-masing bisa memainkan alat musik. Kami sepakat untuk rutin berlatih musik di salah satu studio dekat kos-kosan kami. Hingga akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah grup band. Kami beri nama Tiang band. Filosofisnya saat itu adalah karena selain tempat nongkrong kami di depan kos itu ada sebuah tiang,  juga tiang ini salah satu fungsinya adalah sebagai penyangga. Dari situ kami berharap menjadi sebuah tiang yang kokoh menyangga kehidupan kami. Mulai saat itu mungkin di pertengahan bulan Desember tahun 2002 resmilah Tiang Band dibentuk dengan formasi, aku bermain  gitar akustik, harmonika sambil lead vokal, lalu Rendy lead gitar, Yudit penabuh drum, opik rhythm gitar, terakhir Dede bermain bass. 

Setelah sering berlatih dan kepercayaan diri kami dalam bermusik tumbuh, kami berniat untuk naik pentas. Kebetulan saat itu bulan Desember, dimana di akhir tahun biasanya di jogja banyak sekali acara-acara pentas musik. Adalah acara malam tahun baru kami berkesempatan naik pentas di Kota Gede yang terkenal dengan kerajinan peraknya. Sebuah event yang cukup meriah diselenggarakan dalam rangkaian beberapa acara menyambut tahun baru. Ada pertunjukan kesenian tradisional juga di tempat lainnya masih di lingkungan Kota Gede. Kami sangat bergembira saat itu setelah dinyatakan lolos auidisi dan menjadi salah satu band pengisi acara malam tahun baru saat itu. Sampai akhirnya  acara yang ditunggu-tunggu itu tiba dan kami berhasil dengan lancar membawakan tiga buah lagu iwan fals dengan sempurna.

Perlu aku beritahukan bahwa Rendylah yang mempunyai semangat bermusik tinggi selain juga memang bakat dan skil bermain gitar dia yang mumpuni. Feeling dan intuisi bermusiknya luar biasa bahkan kami yang diberi kesempurnaan fisik  kadang menyerah saat mendapati grip atau nada-nada yang menurut kami sangat rumi untuk digarap. Tapi buat Rendy serumit apapun nada-nada yang digarap jadi seperti biasa saja. Disitulah kebesaran dan keadilan Tuhan benar-benar nyata, meskipun indera penglihatan tidak berfungsi tapi indera pendengarannya sangat tajam. Pernah sekali aku ngetes Rendy dengan tanpa bersuara mendekati Rendy. Tapi begitu dia langsung memanggil namaku aku jadi kaget. Dari mana dia tau bahwa akulah yang tadi mendekatinya tanpa bersuara. Begitulah insting dan kelebihan dari seorang Rendy yang cacat matanya. Ternyata dia tajam mendengar bunyi atau irama langkah kakiku, merasakan getaran dari keberadaanku yang mungkin sejak saat bertemu dan berkenalan dia sudah rekam dan hapalkan dalam otaknya. Tidak Cuma aku dia pun hapal juga dengan irama langkah kaki teman-teman yang lain. Luar biasa. 

Suatu hari di Minggu pagi teman-teman yang mayoritas adalah mahasiswa dan pelajar, sedang menikmati hari liburnya. Ada yang duduk-duduk santai sambil ngopi, ada yang ngobrol ngalor-ngidul, ada yang sibuk mencuci pakaian, maklum anak kos. Sementara Rendy tentunya sedang bermain gitar. Kudekati dia, belum lagi aku bicara justru dia yang menyapaku.

“di kosan aja bang hari Minggu…gak jalan-jalan?”tanyanya

“wew…tau aja Ren aku yang datang”jawabku sudah tidak heran dan kaget lagi

“ada apa bang..?” bertanya lagi dia

“gitarmu itu beli dimana..kok kayanya ga pake merk ya?”

“ini gitar bikin sendiri bang..pesen di Solo” jawabnya

Aku yang pernah mencoba sesekali main gitarnya tertarik untuk juga membuat sendiri. Kualitasnya bagus. Dari suaranya yang nyaring, saat ku pegang juga rasanya mantab tidak terlalu berat tidak juga ringan, serta yang paling penting saat senarnya dipetik itu empuk tidak membuat jari sakit.

“ada apa bang..mau pesen ya?” dia menawarkan aku untuk memesan gitar

“emang berapaan harganya ren?”tanyaku penasaran juga

“murah kok bang..yang 300 ribu udah ada spulnya..bisa langsung dimainkan pake sound..”jelasnya
“ terus gimana pesennya Ren..?” mencari tahu

“nanti saya anter abang ke Solo, sekalian jalan-jalan bang..belum pernah kan ke Solo?” menawarkan aku untuk bermain ke Solo.

“hah…serius kamu Ren?”tanyaku kaget

“serius bang…”

“emang kamu hapal jalan ke Solo nya…kamu kan ga bisa lihat gimana bisa tahu jalan ke Solo?” jawabku hampir saja meremehkan dia.

“hapal bang ke Solo doang mah gampang..”katanya meyakinkanku.

“wah..seru kayanya tuh Ren..oke minggu depan anter abang ke Solo ya..”jawabku antusias.
“siap bang..”timpalnya.

Gila pikirku aku ke Solo diantar oleh Rendy yang notabene tidak dapat melihat, bahkan aku saja yang sudah sering keliling Jogja kadang-kadang lupa jalan padahal aku sudah pernah melewati jalan itu. Kalau rencana ini benar-benar terlaksana sungguh suatu pengalaman yang luar biasa dan mungkin satu-satunya di dunia. Pastinya aku sangat bersyukur sekali mendapatkan pengalaman itu. Memang Rendy pernah bersekolah di Solo saat dia masih duduk di bangku SMP tapi tetap saja hal ini tidak dapat masuk akalku. Masih tidak percaya.

Kemudian hari yang aku tunggu untuk pergi ke Solo akhirnya datang juga. Minggu pagi aku dan Rendy sudah siap-siap berangkat menuju Solo. Benar lho ternyata Rendy hapal sekali jalan-jalannya, bus apa, juga ongkosnya berapa. Aku yang tadi sedikit meremehkan berubah menjadi kagum. Aku persingkat saja, mulai dari aku diantar pergi menuju Solo menuju tempat produksi gitar hingga kembali pulang ke Jogja kondisi selamat sejahtera ga pakai acara nyasar-nyasar segala loh. Sepanjang perjalanan aku memuji-muji Rendy terus.

“hebat kamu Rendy hapal banget jalannya…aku kalau disuruh balik lagi sendiri pasti nyasar neh Ren..”ucapku sambil menepuk pundaknya. Rendy hanya tersenyum dan aku masih terkagum-kagum atas pengalaman ini.

Dibalik ketidak sempurnaan fisik Rendy ternyata Tuhan memberikan kelebihan yang luar biasa dibanding aku yang merasa memiliki fisik dan indera yang sempurna. Terima kasih Rendy, sekarang aku kehilangan kontak semenjak kuliah selesai dan kembali ke Banten. Semoga suatu saat dapat berjumpa dengan Rendy kembali. (sekian)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar