![]() |
| salah satu adegan dalam pertunjukan "warm" |
Hari ini Sabtu, 15 Juni 2013, untuk kesekian kalinya aku datang lagi kesini, komunitas
Salihara. Ya, Komunitas Salihara yang merupakan sebuah kantong budaya dan
pusat kesenian multidisiplin swasta pertama di Indonesia, berkiprah sejak 08 Agustus 2008. Berlokasi di atas sebidang
tanah seluas sekitar 3.800 m2 di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan, kompleks Komunitas Salihara terdiri atas tiga unit bangunan
utama: Teater Salihara, Galeri Salihara, dan ruang perkantoran. Saat ini,
Teater blackbox Salihara adalah
satu-satunya yang ada di Indonesia. Pada saat ini kompleks Komunitas Salihara
sedang diperluas dengan tambahan fasilitas untuk studio latihan, wisma seni dan
amfiteater.
Lokasi komunitas salihara ini
menurutku cukup asri, seperti kita ketahui Jakarta dengan kepadatan penduduk
dan rumah-rumah yang berhimpitan serta hiruk pikuk kendaraan lalu lalang,
namun aku yang saat ini sedang berada disini
di lokasi komunitas, sama sekali tidak merasakan hiruk pikuk, kepadatan dan segala
keruwetan Jakarta. Disini aku merasakan ketenangan, kesejukan, dan kenyamanan
yang tidak kutemui di tempat-tempat biasa yang aku pernah datangi di Jakarta. Masih banyak
pohon-pohon hijau sehingga apabila ada hembusan angin, udara di sekitarnya
terasa sejuk. Konsep arsitekturnya juga unik dan menarik itu juga yang membuat
aku merasa nyaman bila berada disini.
Aku yang sejak sore sudah berada
disini pastinya akan agak lama menunggu pertunjukan ini dimulai, tapi karena aku
sudah sering ke tempat ini jadi tidak masalah buatku. Sore ini cuaca agak
berawan ditambah angin semilir sering berhembus, pohon-pohon yang tumbuh
disekitarnya menambah sejuk udara sore ini. Aku menghirupnya dalam-dalam, “segar
sekali udaranya disini..”aku menikmatinya. Sambil menunggu waktu dibukanya
pintu teater. Aku duduk di kursi di halaman belakang yang di konsep menjadi
seperti sebuah taman kecil cukup asri, menikmati suasana saat itu, melihat
sekeliling, memperhatikan tiap sudut area Salihara. “Sungguh suatu tempat yang
mengasyikan..” dalam hatiku, sebuah tempat yang dirancang dengan unik dan
banyak unsur seni didalamnya. Halaman belakang Salihara ini letaknya di sebelah
ruang teater yang sebentar lagi akan digunakan untuk pertunjukan Warm. Jadi ketika
pintu teater dibuka aku bisa langsung mengantri.
Baru menjelang magrib, suasana
Komunitas Salihara yang berada di bilangan Pasar Minggu mulai ramai didatangi
orang, sebab hari ini pertunjukan teater yaitu monolog berjudul Warm digelar. Padahal
acara baru akan dimulai pukul 20:00 tetapi penonton sudah memadati area
pertunjukan dan mengantri di loket pembelian tiket khawatir akan kehabisan dan
tidak kebagian tiket. Benar saja..saat pintu ruang teater mulai dibuka,
antriannya sudah panjang mengular hingga ke beranda Salihara. Antusias para
penonton terasa begitu besar, sebab tokohnya adalah Ine Febriyanti, seorang
seniman teater wanita yang masih banyak diminati para penyuka teater dan konsep
pertunjukan teater yang akan digelar saat ini merupakan pertunjukan teater yang
belum pernah dipentaskan di Indonesia sebelumnya. Jadi aku tak merasa heran
bila pertunjukan hari ini akan dipadati oleh para penonton.
| suasana penonton sesaat sebelum pertunjukan |
Pertunjukan monolog Warm ini merupakan
rangkaian acara Helateater (festival teater) yang akan berlangsung selama 6
minggu. Pertunjukan Warm ini diperankan oleh Sha Ine Febriyanti sebagai
pemonolog dan 2 aktor dari Perancis sebagai Pendampul (pemain acrobat).
Pertunjukan Warm yang di sutradarai David Bobee ini berkonsep teater circus
dimainkan oleh teater Rictus yang berasal dari Perancis. Yang menarik dari
pertunjukan ini adalah naskah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sedangkan
para pendampul tidak mengerti bahasa Indonesia. Menurutnya dalam pementasan
kali ini bahwa para pendampul tersebut hanya membaca isyarat yang dia berikan,
seperti intonasi, blocking, dan isyarat-isyarat lainnya. Ine Febriyanti
yang sekarang menambah nama depannya dengan Sha, mengakui bahwa dalam proses
latihan ini dia hanya 3 kali bertemu untuk latihan.
Aku segera bergabung dalam antrian
dan ikut mengular. Khawatir tidak kebagian tempat duduk dan feelingku
pertunjukan hari ini akan penuh penontonnya, pertunjukan yang terakhir digelar
dari 2 hari jadwal yang dipentaskan sejak hari Jum’at 14 Juni 2013, sehari
sebelumnya. Kembali ke antrian, aku mengantri sedikit lebih cepat dari penonton
lainnya, jadi aku tidak terlalu jauh dari pintu masuk. Di depanku ada sekitar 5
orang yang lebih dulu mengantri. Tak lebih dari 10 menit akhirnya aku masuk ke dalam
ruang teater.
Saat memasuki ruangan teater tempat
Warm dipentaskan hawa panas sudah terasa
sebab memang ruangan disetting panas dengan suhu 64⁰c dan tidak ada mesin
pendingin (AC) yang dihidupkan, membuat para penonton kepanasan. Benar saja
baru beberapa menit di dalam ruangan yang hanya
berukuran sekitar 60 x 30 m tersebut penonton sudah merasa gerah dan
mencari sesuatu seperti kertas atau sejenisnya untuk mengipas-kipaskan untuk
sekedar mencari angin, begitu juga aku. Tidak berapa lama ruangan pun dipenuhi penonton. Ruangan
yang berkapasitas dan hanya dapat penampung sebanyak 252 orang ini, kursinya
sudah penuh diduduki masing-masing para penonton. Feeling-ku ternyata benar
meski kursi penonton sudah penuh masih saja ada penonton yang masuk ke dalam
ruangan, akhirnya para penonton yang masuknya agak terlambat terpaksa duduk
tidak di kursi melainkan di tangga-tangga samping kursi, yang dibuat menanjak. “beruntung
aku masuk lebih dulu..kalau enggak aku bakal ga kebagian kursi neh” gumamku
dalam hati.
Pukul 20:00 pertunjukan pun
dimulai. Sha Ine Febriyanti dengan kostum seperti kostum senam berwarna
hitam-hitam mulai memonologan ceritanya. Dimulai dengan ritme lambat, Sha
begitu menjiwai naskah yang dimonologan tersebut. Seperti yang sudah aku katakan tadi bahwa Warm ini merupakan teater
berkonsep circus teather jadi selain
Sha sebagai pemonolog akan ada 2 orang pendampul (pemain acrobat).
Dialog/ucapan yang dikeluarkan dari pemonolog selain menjadi sebuah jalan
cerita juga menjadi isyarat untuk pendampul-pendampul berakrobat. Semakin lama
tempo yang diucapkan pemonolog semakin cepat bersamaan dengan cerita yang
terdapat dalam monolog tersebut. Menurut Sha, Monolog yang diceritakan itu bercerita
tentang imajinasi sensual seorang wanita terhadap laki-laki muda yang bercinta
sampai puncak orgasmenya. Dan dengan sangat menjiwai dan begitu piawainya, Sha
dalam memonologan ceritanya hingga seperti itulah penonton dibawa larut
dalam irama imajinasi sensual pemonolog. Penonton khususnya aku ikut larut mengikuti irama dan alur ceritanya, mulai
dari irama lambat hingga irama dengan tempo yang cepat. Saking piawainya Sha
bermonolog hingga aku seperti masuk dalam imajinasinya. Imajinasi sensual
seorang wanita yang sedang bercinta mulai dari foreplay yang diilustrasikan
melalui monolog irama lambat, hingga wanita itu mencapai klimaks dan orgasme dengan irama monolog yang sangat cepat, ditampilkan sempurna sekali oleh Sha.
Tubuh Sha kini sudah dibanjiri
dengan keringatnya lebih lagi 2 pedampul (pemain acrobat), yang bermain total penuh energi. Butuh
stamina dan konsentrasi yang sangat baik buat para pendampul ini melakukan
adegan-adegan dalam pertunjukan ini sebab mereka berdua ini melakukan adegan
akrobatik yang menurutku penuh resiko bila dilakukan tanpa stamina dan
konsentrasi tinggi. Mereka saling menopang satu sama lain berdiri satu di atas
temannya, bahkan ada adegan yang harus melemparkan tubuh salah satu dari
pendampul ini, dan yang satunya bertugas menangkapnya kembali agar tidak
terjatuh. Sungguh suatu pertunjukan yang sangat baru dan sangat memukau
khususnya buatku.
Aku yang sedang fokus memperhatikan
para pendampul berakrobat menjadi tegang melihat aksi mereka. Kadang aku
sedikit berteriak atau berdecak kagum saat adegan yang berbahaya itu berhasil
dengan sukses dilakukan oleh para pendampul. Tidak cuma aku yang seperti itu,
kudengar penonton lain pun ikut berteriak saat adegan tegang itu sedang
berlangsung. Betapa tidak, adegan-adegan seperti mengangkat temannya yang
berdiri ditelapak tangannya diangkat begitu saja ke atas hanya dengan kekuatan
tangannya. Sungguh luar biasa. Penonton pun ikut berkeringat selain karena suhu
di dalam ruangan itu memang sangat panas, adegan-adegan menegangkan itu pun
menambah banyak keringat yang keluar.
Dua jam sudah pertunjukan
berlangsung hingga tidak terasa pertunjukan pun akhirnya selesai juga. Tepuk tangan
bergemuruh di dalam ruangan menandai betapa pertunjukan itu sangat memuaskan
para penonton. Aku dan para penonton
lainnya masih tercengang-cengang melihat pertunjukan yang baru saja usai itu. Dengan
keringat yang membasahi seluruh tubuh hingga pakaianku ikut basah saking
banyaknya keringat yang mengucur. Kami menonton ini seperti berada dalam sauna.
Para pemain, crew-crew, serta
sutradara yang terlibat dalam pertunjukan ini satu persatu dipanggil oleh Sha untuk bergabung
ke atas pentas dengan tujuan sekedar beramah tamah dan mengucapkan terima kasih
kepada para penonton. Satu per satu penonton dipersilahkan menyalami dan
mengucakan selamat kepada para pemain termasuk aku. “mba Ine..sungguh
pertunjukan yang luar biasa..!” ”kereenn mbaa….!” Sapaku saat bersalaman
dengannya. “makasih dit udah datang..”jawabnya sambil tersenyum. Tak lupa aku
memintanya berfoto bareng, “mba foto bareng ya…buat kenang-kenangan” kataku
lagi. “oke..dit” timpalnya. “jpret…!” seperti itu suara kameraku, aku berfoto bersama
mba Ine. Para penonton lain yang ikut menyapa pun tak kalah ingin berfoto
dengannya.
Selesai sudah ramah tamah dan
bincang-bincang singkatku dengan Sha sesaat setelah pertunjukan berakhir. Aku berpamitan
dan sekali lagi mengucapkan selamat atas pertunjukan yang luar biasa tadi. Ruangan
teater pun sudah mulai sepi itu juga yang aku tunggu untuk keluar ruangan, agar
tidak terlalu berdesak-desakkan saat keluar dari ruangan teater itu. (the end)
| bersama salah satu pendampul after show |
| bersama 2 pendampul dan sutradara |

Tepok jidat di kata 'orgasme' x_x
BalasHapusada nyamuk di jidatnya ya? :P
Hapus