Rabu, 04 September 2013

Krakatau Writing Camp The journey. (ending angle snorkeling #1) at Sebuku Island



Pulau Sebesi, 24 agustus 2013



Menjelang siang aku dan teman-teman grup Krakatau Writing Camp (KWC) tiba di Pulau Sebesi setelah 8 jam kami di perjalanan yang melelahkan mulai dari Merak-Bakauheni-Dermaga Canti hingga Pulau Sebesi. Rasa lelah, penat, dan perasaan bosan yang selama diperjalanan kami lalui sekejap sirna saat kutapakkan kaki di Pulau ini. Pulau yang terletak di pinggir pantai dengan suasana yang tidak biasa aku temui dikeseharianku. Semilir angin sejuk, nyiur-nyiur bergoyang seperti lambaian tangan sahabat memanggil-manggil untuk mendekat, keramahan penduduk yang tinggal di situ"ah..sungguh membuaiku.."dalam hati.


Pulau Sebesi adalah tempat home stay grup KWC ini beristirahat. Kami grup KWC yang berjumlah sekitar 53 orang dibagi menjadi 5 kelompok dengan tiap kelompok beranggotakan 10-13 orang. Tiap kelompok disediakan 1 rumah warga untuk nantinya menjadi tempat istirahat selama 2 hari kedepan hingga tanggal 25 agustus. Setengah jam kami mendapat jatah istirahat untuk makan siang, mandi, dan solat dzuhur. Waktu yang sebenarnya sangat singkat dibandingkan dengan lamanya perjalanan sebelum sampai di Pulau ini. Bayangkan selama perjalanan di kapal Ferry Merak-Bakauheni yang dimulai pukul 00:30 sampai dengan 04:30, kami tidak sempat tidur saking asiknya kami semua berbincang-bincang, cerita kesana kemari,ngalor-ngidul, ngetan-ngulon. Hingga kapal sudah bersandarpun tidak terasa oleh kami. Alhasil kelompok kami yang berkumpul satu tempat terlambat 30 menit turun kapal, sedangkan teman-teman lain yang terpisah dari kami sudah terlebih dahulu turun.

 
*diatas kapal ferry tujuan Merak-Bakauheni


Aku maklum sedikitnya waktu untuk kami beristirahat karena padatnya jadwal yang harus kami lakukan dan transportasi untuk menuju lokasi itu satu-satunya dengan kapal boat kecil, itu juga memakan waktu cukup lama. Setelah makan kami berkumpul membuat lingkaran, duduk di atas lantai sebuah pendopo fasilitas yang ada di pulau ini. Kondisinya menurutku sedikit tidak terawat. Terlihat dari kondisi lantai pendopo kotor, kondisi toiletnya yang kotor dan tempat buang air besarnya tertutup dan ditimpa batu bata, menunjukkan bahwa toilet ini tidak berfungsi. Akhirnya kami duduk sekenanya di lantai pendopo yang kotor sebagian duduk di tikar.

1. workshop travel writing dan travel novel "..setiap perjalanan adalah istimewa.." 


Tidak menyia-nyiakan waktu Mas Gol A Gong memulai workshop travel writingnya, yang memang sengaja ditempatkan di awal jadwal KWC ini dengan alasan masih fresh tenaga dan pikirannya. Ehhmm…masuk akal juga mengingat apabila dilakukan ditengah perjalanan mungkin akan keasyikan menikmati pemandangan dan acara snorkelingnya atau apabila workshop ini dilakukan setelah perjalanan mungkin saja para peserta akan tidak menyimaknya sebab sudah sangat kelelahan. Satu hal yang sangat kuingat dan menempel di dalam memoriku adalah kata-kata Gol A Gong…”Bahwa semua perjalanan itu istimewa, begitu juga perjalanan kita disini….coba bayangkan ada berapa jumlah penduduk di Indonesia saat ini…dan berapa banyak yang melakukan perjalanan kesini?” katanya meyakinkan kita bahwa memang perjalanan ini istimewa. “Ehmm…” dalam hatiku kembali bergumam “setuju sekali aku dengan pendapat Mas Gong” aku mengiyakan dalam hati. “dan…lanjutnya (Mas Gong kembali meneruskan pembicaraannya) di Indonesia ini sangat minim dengan dokumentasi tulisan…kebanyakan foto dan lisan..”menurutnya ada yang terloncat dan aku menangkap apa yang dimaksudkannya. 

Mas Gong bermaksud membangun semangat peserta KWC untuk menuliskan semua momen-momen perjalanan sekecil apapun. Dengan gaya bahasanya yang lugas, kadang-kadang diselingi canda-canda lucu, Mas Gong sangat membuat kita para peserta tidak kaku ataupun kikuk dalam mengikuti workshop ini. Sosok Gol A Gong yang sederhana, supel, humorist, serta spontanitas ini sangat berperan sekali dalam membangun keakraban kita para peserta KWC tahun ini. Bayangkan saja kami yang berasal dari beberapa penjuru kota di Indonesia ini, ada yang dari Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Depok, Cilegon , Medan dalam waktu beberapa jam saja sudah akrab dan merasa seperti sudah lama sekali kita saling kenal satu sama lain…”amazing!”


“Akhirnya selesai juga materi  yang selama kurang lebih satu jam Mas Gong memberi workshop, teknik menulis travel writing, sharing dan canda-candanya. Mungkin bahkan pasti waktu yang singkat tersebut sangat tidak cukup buat aku khususnya yang memang awam dalam dunia tulis menulis untuk paham betul materi-materi disampaikan tersebut. Tapi itu sangat merangsang dan memotivasi aku untuk belajar menulis tentang travel writing ini..” gumamku. 


2. Rehat di homestay  "..perfect time to take a rest.."


Kami berjalan beriringan dari pendopo pulau Sebesi menuju masing-masing homestay yang ditentukan, sebelumnya sudah dibagi per kelompok. Aku bersama teman-teman yang lain yaitu Agus, Ilyas, Gabriel, Deni, ayub, abdurahman, kakang, gozali, rahmat menjadi kelompok satu, kebetulan kebagian home stay di urutan pertama dari jajaran homestay-homestay lainnya. Homestay-homestay disini adalah rumah-rumah warga yang disewakan kepada para wisatawan yang berkunjung ke pulau sebesi. Meraka (pemilik rumah) sudah terbiasa dengan kunjungan para wisatawan yang datang ke pulau sebesi. Terlihat saat kami tiba di depan homestay pemiliknya sudah siap dengan ramah menyambut kami. Kami disapa oleh pemilik homestay dan langsung dipersilahkan untuk masuk ke dalam yang memang sudah mereka siapkan karpet-karpet yang disusun berjajar di ruang tamu mereka, untuk kami beristirahat. Sebentar kami berbincang-bincang dengan pemilik homestay. Aku perhatikan bahasa yang mereka gunakan sepertinya sangat familiar ditelinga saya, yaitu bahasa jawa Serang yah memang tidak salah perkiraanku saat kutanya memang bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa jawa Serang.
menuju homestay 

Kami segera masuk ke dalam homestay tapi karena waktu yang ditentukan untuk istirahat hanya sebentar akhirnya kami memutuskan untuk tidak beristirahat dalam arti tidur. Satu per satu dari kami sibuk masing-masing untuk persiapan perjalanan menuju pulau Sebuku destinasi pertama dari sederet destinasi kami yang lainnya. Aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, sebab yang lain sibuk menyiapkan barang-barang yang perlu dibawa ke pulau sebuku. Sepuluh menit aku selesai mandi dan berganti pakaian lalu secara teratur yang lain pun mandi, sementara sekarang giliranku menyiapkan keperluan yang harus kubawa untuk snorkeling di Pulau Sebuku.


Semua anggota kelompok satu selesai sudah menyiapkan semua keperluan untuk destinasi Pulau Sebuku. Kami duduk di depan teras home stay menunggu Jack ketua rombongan dan kelompok lain datang menjemput. Sambil ngopi kita duduk dan ngobrol santai di atas kursi terbuat dari anyaman bambu. Kopi kami pesan untuk menemani kami berbincang-bincang agar tidak terasa kering tenggorokan. Dari perbincangan itu mulailah kami sedikit lebih tau latar belakang teman-teman. Tapi ada juga yang tidak ikut bergabung untuk berbincang-bincang hanya sibuk dengan gadgetnya. 


Pertama yang aku ketahui latar belakang teman-teman kelompok satu adalah Ayub. Dia pertama kali menyapa aku sesaat setelah makan pagi di dermaga Canti. Ayub seorang pemuda berasal dari Medan (Batak), berperawakan tinggi, badannya menurutku lumayan kekar, kulit agak hitam, dengan ciri khas orang Medan raut wajah seram, tulang rahang terlihat begitu jelas, hampir seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu membuat dia terlihat semakin seram dan galak penampilannya. Tapi tidak berarti dia seram dan galak dalam arti sesungguhnya. Ayub baru saja tinggal di Bekasi. Dia tinggal bersama temannya karena ada keperluan untuk sebuah presentasi pekerjaan di sebuah perusahaan otomotif di Bekasi. Ayub pernah tinggal di negeri Sakura Jepang dalam rangka magang.


 Awal percakapanku dengan dia adalah waktu dia memintaku untuk memotretnya di pinggir dermaga Canti. “bang…minta tolong fotoin dong..”sambil menyerahkan kameranya. “boleh..” kataku. Aku kagum saat kupegang dan kuperhatikan kameranya yang sepertinya atau lebih tepat mahal harganya. Kamera merk Cannon E0S 60D. Aku yang tertarik dengan dunia fotografi mungkin dengan level sedikit akhirnya penasaran, memuji dan bertanya, “wah..keren kamera lu..mahal pasti neh harganya” kemudian ayub menjelaskan sedikit tentang kameranya. Ternyata kamera itu dibelinya saat dia masih magang dan tinggal di Jepang. Tentu saja aku tidak heran kalau dia punya kamera sebagus dan secanggih itu. “makasih bang..oh ya namanya siapa bang?” tanya dia, kujawab “Adit..kamu siapa?” kutanya balik, “Ayub..bang” Mulai  dari situ kami menjadi akrab sampai kami menjadi satu kelompok di pulau Sebesi.
ayub dan ilyas ngopi di homestay


Lalu Ilyas Ginanjar, seorang mahasiswa Gunadarma Depok, awalnya dia pendiam sekali lebih senang menyendiri, dari stylenya dia kusimpulkan adalah pencinta alam, pasti udah banyak gunung yang didatanginya. “yas, kayanya lu udah sering naek gunung ya?” Tanyaku ditengah perbincangan santai ini. “iya bang..aku aktif di perkumpulan pencinta alam di kampus, namanya Nasapala” kata dia. “wah keren dong..pasti udah banyak dong gunung-gunung yang udah lu datengin”, Tanyaku lagi. “lumayan bang..gunung gede, pangrango…mah udah sering.”lanjutnya. Ilyas yang dari awal berkumpul di pelabuhan Merak hanya diam dan selalu menyendiri itu akhirnya bisa cair dan akrab bersama kami di kelompok satu.

aku dan ilyas di homestay


Selanjutnya yang terlibat dalam perbincangan santai kita di homestay adalah kakang, dia tak mau menyebutkan nama aslinya dan sedikit juga dia berbicara. “emang nama asli kamu siapa?”Tanya lebih lanjut, “panggil aja kakang..” jawabnya. “oke..dari mana asalnya?” tanyaku lagi, “Sukabumi bang..” jawabnya sambil sesekali menyeruput kopi yang tadi kami pesan. Semilir angin yang berhembus menambah rasa nyaman perbincangan kami di teras homestay. Sedikit sekali aku berbincang dengan dia.


Agus Gumay yang sudah aku kenal sebelum di acara ini dia tidak ikut bergabung dalam perbincangan santai di teras depan homestay kami. Dia sakit setibanya di Pulau Sebesi. Staminanya drop sebab kurang istirahat. Agus ternyata ketika sampai dan berkumpul di pelabuhan Merak dia baru saja sampai dari Lampung dan langsung kembali lagi ke Lampung untuk perjalanan KWC ini. Yah, tidak heran akhirnya dia sakit dan “tepar”, hanya bisa tidur di homestay dan pastinya dia tidak akan ikut melakukan perjalanan pertama kami menuju Pulau Sebuku. “gus..gus..nasibmu malang sekali, baru sampai niatnya mau jalan-jalan malah sakit, kalo Cuma pengen tidur mending di rumah aja gus..!” ledekku saat aku masuk ke dalam home stay. Agus hanya bisa memandangku dengan pandangan pucat dan lesu.


Lima belas menit waktu istirahat di homestay berlalu, kelompok kami selesai semua dengan persiapannya. Tak lama ketua grup bang Jack kami memanggilnya, tiba dan sebera meminta kami untuk bergegas menuju kapal karena perjalanan akan segera dilakukan. “ayo..kita ke kapal sebentar lagi kita jalan neh..”serunya meminta kami untuk bergegas. Akhirnya kami semua berjalan menuju dermaga Pulau Sebesi tempat kapal boat yang akan membawa kami menuju pulau sebuku. ("this is a perfect time to take a rest!")

4 komentar:

  1. kok saya gak ada di tokoh sih bang?

    BalasHapus
  2. belum selesai semua non...nanti di ending nya pas snorkeling..:D

    BalasHapus
  3. Nice angle trip, really provoced me to have the same trip. NEXT TIME I'LL BE THERE. UNTIL WE MEET AGAIN, RAKATA!

    BalasHapus