Pulau Sebesi, 24 agustus 2013
Menjelang siang aku dan
teman-teman grup Krakatau Writing Camp (KWC) tiba di Pulau Sebesi setelah 8 jam kami di perjalanan
yang melelahkan mulai dari Merak-Bakauheni-Dermaga Canti hingga Pulau Sebesi. Rasa
lelah, penat, dan perasaan bosan yang selama diperjalanan kami lalui sekejap
sirna saat kutapakkan kaki di Pulau ini. Pulau yang terletak di pinggir pantai
dengan suasana yang tidak biasa aku temui dikeseharianku. Semilir angin sejuk,
nyiur-nyiur bergoyang seperti lambaian tangan sahabat memanggil-manggil untuk
mendekat, keramahan penduduk yang tinggal di situ"ah..sungguh membuaiku.."dalam hati.
Pulau Sebesi adalah tempat home
stay grup KWC ini beristirahat. Kami grup KWC yang berjumlah sekitar 53 orang
dibagi menjadi 5 kelompok dengan tiap kelompok beranggotakan 10-13 orang. Tiap
kelompok disediakan 1 rumah warga untuk nantinya menjadi tempat istirahat
selama 2 hari kedepan hingga tanggal 25 agustus. Setengah jam kami mendapat
jatah istirahat untuk makan siang, mandi, dan solat dzuhur. Waktu yang
sebenarnya sangat singkat dibandingkan dengan lamanya perjalanan sebelum sampai
di Pulau ini. Bayangkan selama perjalanan di kapal Ferry Merak-Bakauheni yang
dimulai pukul 00:30 sampai dengan 04:30, kami tidak sempat tidur saking asiknya
kami semua berbincang-bincang, cerita kesana kemari,ngalor-ngidul,
ngetan-ngulon. Hingga kapal sudah bersandarpun tidak terasa oleh kami. Alhasil
kelompok kami yang berkumpul satu tempat terlambat 30 menit turun kapal, sedangkan teman-teman lain yang terpisah dari kami sudah terlebih dahulu turun.
| *diatas kapal ferry tujuan Merak-Bakauheni |
Aku maklum sedikitnya waktu
untuk kami beristirahat karena padatnya jadwal yang harus kami lakukan dan
transportasi untuk menuju lokasi itu satu-satunya dengan kapal boat kecil, itu
juga memakan waktu cukup lama. Setelah makan kami berkumpul membuat lingkaran,
duduk di atas lantai sebuah pendopo fasilitas yang ada di pulau ini. Kondisinya
menurutku sedikit tidak terawat. Terlihat dari kondisi lantai pendopo kotor,
kondisi toiletnya yang kotor dan tempat buang air besarnya tertutup dan ditimpa
batu bata, menunjukkan bahwa toilet ini tidak berfungsi. Akhirnya kami duduk
sekenanya di lantai pendopo yang kotor sebagian duduk di tikar.
1. workshop travel writing dan travel novel "..setiap perjalanan adalah istimewa.."
Tidak menyia-nyiakan waktu Mas
Gol A Gong memulai workshop travel writingnya, yang memang sengaja ditempatkan
di awal jadwal KWC ini dengan alasan masih fresh tenaga dan pikirannya. Ehhmm…masuk akal
juga mengingat apabila dilakukan ditengah perjalanan mungkin akan keasyikan
menikmati pemandangan dan acara snorkelingnya atau apabila workshop ini
dilakukan setelah perjalanan mungkin saja para peserta akan tidak menyimaknya
sebab sudah sangat kelelahan. Satu hal yang sangat kuingat dan menempel di dalam
memoriku adalah kata-kata Gol A Gong…”Bahwa semua perjalanan itu istimewa,
begitu juga perjalanan kita disini….coba bayangkan ada berapa jumlah penduduk
di Indonesia saat ini…dan berapa banyak yang melakukan perjalanan kesini?”
katanya meyakinkan kita bahwa memang perjalanan ini istimewa. “Ehmm…” dalam
hatiku kembali bergumam “setuju sekali aku dengan pendapat Mas Gong” aku
mengiyakan dalam hati. “dan…lanjutnya (Mas Gong kembali meneruskan
pembicaraannya) di Indonesia ini sangat minim dengan dokumentasi
tulisan…kebanyakan foto dan lisan..”menurutnya ada yang terloncat dan aku
menangkap apa yang dimaksudkannya.
Mas Gong bermaksud membangun semangat peserta KWC untuk menuliskan semua momen-momen perjalanan sekecil apapun. Dengan gaya bahasanya yang lugas, kadang-kadang diselingi canda-canda lucu, Mas Gong sangat membuat kita para peserta tidak kaku ataupun kikuk dalam mengikuti workshop ini. Sosok Gol A Gong yang sederhana, supel, humorist, serta spontanitas ini sangat berperan sekali dalam membangun keakraban kita para peserta KWC tahun ini. Bayangkan saja kami yang berasal dari beberapa penjuru kota di Indonesia ini, ada yang dari Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Depok, Cilegon , Medan dalam waktu beberapa jam saja sudah akrab dan merasa seperti sudah lama sekali kita saling kenal satu sama lain…”amazing!”
Mas Gong bermaksud membangun semangat peserta KWC untuk menuliskan semua momen-momen perjalanan sekecil apapun. Dengan gaya bahasanya yang lugas, kadang-kadang diselingi canda-canda lucu, Mas Gong sangat membuat kita para peserta tidak kaku ataupun kikuk dalam mengikuti workshop ini. Sosok Gol A Gong yang sederhana, supel, humorist, serta spontanitas ini sangat berperan sekali dalam membangun keakraban kita para peserta KWC tahun ini. Bayangkan saja kami yang berasal dari beberapa penjuru kota di Indonesia ini, ada yang dari Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Depok, Cilegon , Medan dalam waktu beberapa jam saja sudah akrab dan merasa seperti sudah lama sekali kita saling kenal satu sama lain…”amazing!”
“Akhirnya selesai juga
materi yang selama kurang lebih satu jam
Mas Gong memberi workshop, teknik menulis travel writing, sharing dan
canda-candanya. Mungkin bahkan pasti waktu yang singkat tersebut sangat tidak
cukup buat aku khususnya yang memang awam dalam dunia tulis menulis untuk paham
betul materi-materi disampaikan tersebut. Tapi itu sangat merangsang dan
memotivasi aku untuk belajar menulis tentang travel writing ini..” gumamku.
2. Rehat di homestay "..perfect time to take a rest.."
Kami berjalan beriringan dari
pendopo pulau Sebesi menuju masing-masing homestay yang ditentukan, sebelumnya
sudah dibagi per kelompok. Aku bersama teman-teman yang lain yaitu Agus, Ilyas,
Gabriel, Deni, ayub, abdurahman, kakang, gozali, rahmat menjadi kelompok satu,
kebetulan kebagian home stay di urutan pertama dari jajaran homestay-homestay
lainnya. Homestay-homestay disini adalah rumah-rumah warga yang disewakan
kepada para wisatawan yang berkunjung ke pulau sebesi. Meraka (pemilik rumah)
sudah terbiasa dengan kunjungan para wisatawan yang datang ke pulau sebesi.
Terlihat saat kami tiba di depan homestay pemiliknya sudah siap dengan ramah
menyambut kami. Kami disapa oleh pemilik homestay dan langsung dipersilahkan
untuk masuk ke dalam yang memang sudah mereka siapkan karpet-karpet yang
disusun berjajar di ruang tamu mereka, untuk kami beristirahat. Sebentar kami
berbincang-bincang dengan pemilik homestay. Aku perhatikan bahasa yang mereka
gunakan sepertinya sangat familiar ditelinga saya, yaitu bahasa jawa Serang yah
memang tidak salah perkiraanku saat kutanya memang bahasa yang mereka gunakan
adalah bahasa jawa Serang.
| menuju homestay |
Kami segera masuk ke dalam homestay tapi karena waktu yang ditentukan untuk istirahat hanya sebentar akhirnya
kami memutuskan untuk tidak beristirahat dalam arti tidur. Satu per satu dari
kami sibuk masing-masing untuk persiapan perjalanan menuju pulau Sebuku
destinasi pertama dari sederet destinasi kami yang lainnya. Aku memutuskan
untuk mandi terlebih dahulu, sebab yang lain sibuk menyiapkan barang-barang yang
perlu dibawa ke pulau sebuku. Sepuluh menit aku selesai mandi dan berganti
pakaian lalu secara teratur yang lain pun mandi, sementara sekarang giliranku menyiapkan keperluan yang harus kubawa untuk snorkeling di Pulau Sebuku.
Semua anggota kelompok satu
selesai sudah menyiapkan semua keperluan untuk destinasi Pulau Sebuku. Kami
duduk di depan teras home stay menunggu Jack ketua rombongan dan kelompok lain
datang menjemput. Sambil ngopi kita duduk dan ngobrol santai di atas kursi
terbuat dari anyaman bambu. Kopi kami pesan untuk menemani kami
berbincang-bincang agar tidak terasa kering tenggorokan. Dari perbincangan itu
mulailah kami sedikit lebih tau latar belakang teman-teman. Tapi ada juga yang
tidak ikut bergabung untuk berbincang-bincang hanya sibuk dengan gadgetnya.
Pertama yang aku ketahui latar
belakang teman-teman kelompok satu adalah Ayub. Dia pertama kali menyapa aku
sesaat setelah makan pagi di dermaga Canti. Ayub seorang pemuda berasal dari
Medan (Batak), berperawakan tinggi, badannya menurutku lumayan kekar, kulit
agak hitam, dengan ciri khas orang Medan raut wajah seram, tulang rahang terlihat
begitu jelas, hampir seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu membuat dia terlihat semakin seram
dan galak penampilannya. Tapi tidak berarti dia seram dan galak dalam arti
sesungguhnya. Ayub baru saja tinggal di Bekasi. Dia tinggal bersama temannya
karena ada keperluan untuk sebuah presentasi pekerjaan di sebuah perusahaan
otomotif di Bekasi. Ayub pernah tinggal di negeri Sakura Jepang dalam rangka
magang.
Awal percakapanku dengan dia adalah waktu dia
memintaku untuk memotretnya di pinggir dermaga Canti. “bang…minta tolong fotoin
dong..”sambil menyerahkan kameranya. “boleh..” kataku. Aku kagum saat kupegang
dan kuperhatikan kameranya yang sepertinya atau lebih tepat mahal harganya.
Kamera merk Cannon E0S 60D. Aku yang tertarik dengan dunia fotografi mungkin
dengan level sedikit akhirnya penasaran, memuji dan bertanya, “wah..keren
kamera lu..mahal pasti neh harganya” kemudian ayub menjelaskan sedikit tentang
kameranya. Ternyata kamera itu dibelinya saat dia masih magang dan tinggal di
Jepang. Tentu saja aku tidak heran kalau dia punya kamera sebagus dan secanggih
itu. “makasih bang..oh ya namanya siapa bang?” tanya dia, kujawab “Adit..kamu
siapa?” kutanya balik, “Ayub..bang” Mulai
dari situ kami menjadi akrab sampai kami menjadi satu kelompok di pulau
Sebesi.
| ayub dan ilyas ngopi di homestay |
Lalu Ilyas Ginanjar, seorang
mahasiswa Gunadarma Depok, awalnya dia pendiam sekali lebih senang menyendiri, dari
stylenya dia kusimpulkan adalah pencinta alam, pasti udah banyak gunung yang
didatanginya. “yas, kayanya lu udah sering naek gunung ya?” Tanyaku ditengah
perbincangan santai ini. “iya bang..aku aktif di perkumpulan pencinta alam di
kampus, namanya Nasapala” kata dia. “wah keren dong..pasti udah banyak dong
gunung-gunung yang udah lu datengin”, Tanyaku lagi. “lumayan bang..gunung gede,
pangrango…mah udah sering.”lanjutnya. Ilyas yang dari awal berkumpul di pelabuhan Merak hanya
diam dan selalu menyendiri itu akhirnya bisa cair dan akrab bersama kami di
kelompok satu.
| aku dan ilyas di homestay |
Selanjutnya yang terlibat dalam
perbincangan santai kita di homestay adalah kakang, dia tak mau menyebutkan
nama aslinya dan sedikit juga dia berbicara. “emang nama asli kamu siapa?”Tanya
lebih lanjut, “panggil aja kakang..” jawabnya. “oke..dari mana asalnya?”
tanyaku lagi, “Sukabumi bang..” jawabnya sambil sesekali menyeruput kopi yang
tadi kami pesan. Semilir angin yang berhembus menambah rasa nyaman perbincangan
kami di teras homestay. Sedikit sekali aku berbincang dengan dia.
Agus Gumay yang sudah aku kenal
sebelum di acara ini dia tidak ikut bergabung dalam perbincangan santai di
teras depan homestay kami. Dia sakit setibanya di Pulau Sebesi. Staminanya drop
sebab kurang istirahat. Agus ternyata ketika sampai dan berkumpul di
pelabuhan Merak dia baru saja sampai dari Lampung dan langsung kembali lagi ke
Lampung untuk perjalanan KWC ini. Yah, tidak heran akhirnya dia sakit dan
“tepar”, hanya bisa tidur di homestay dan pastinya dia tidak akan ikut
melakukan perjalanan pertama kami menuju Pulau Sebuku. “gus..gus..nasibmu
malang sekali, baru sampai niatnya mau jalan-jalan malah sakit, kalo Cuma
pengen tidur mending di rumah aja gus..!” ledekku saat aku masuk ke dalam home
stay. Agus hanya bisa memandangku dengan pandangan pucat dan lesu.
Lima belas menit waktu istirahat
di homestay berlalu, kelompok kami selesai semua dengan persiapannya. Tak lama
ketua grup bang Jack kami memanggilnya, tiba dan sebera meminta kami untuk
bergegas menuju kapal karena perjalanan akan segera dilakukan. “ayo..kita ke
kapal sebentar lagi kita jalan neh..”serunya meminta kami untuk bergegas.
Akhirnya kami semua berjalan menuju dermaga Pulau Sebesi tempat kapal boat yang
akan membawa kami menuju pulau sebuku. ("this is a perfect time to take a rest!")
kok saya gak ada di tokoh sih bang?
BalasHapusbelum selesai semua non...nanti di ending nya pas snorkeling..:D
BalasHapusNice angle trip, really provoced me to have the same trip. NEXT TIME I'LL BE THERE. UNTIL WE MEET AGAIN, RAKATA!
BalasHapusyes...someday...we meet again :)
Hapus